Trump Sebut Kuba bakal Runtuh Tanpa Minyak dari Venezuela

Ikhsan Medium.jpeg

Sabtu, 10 Januari 2026 – 00:10 WIB

Presiden AS Donald Trump meyakini bahwa Kuba akan runtuh tanpa minyak dari Venezuela. (Foto: The Hill)

Presiden AS Donald Trump meyakini bahwa Kuba akan runtuh tanpa minyak dari Venezuela. (Foto: The Hill)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump melontarkan pernyataan tajam yang kian memanaskan suhu politik di kawasan Amerika Latin. Dalam sebuah wawancara eksklusif dengan Fox News, Jumat (9/1/2026), Trump mengeklaim bahwa Kuba kini berada di ambang kehancuran karena tidak akan mampu bertahan tanpa pasokan minyak dari Venezuela.

Trump menyebut hubungan kedua negara tersebut adalah simbiosis yang bersifat ketergantungan mutlak. 

“Secara total, Kuba bergantung pada Venezuela, baik untuk uang maupun minyak. Kuba memberikan perlindungan, dan Venezuela membayar dengan minyak. Kini, hubungan itu sudah tamat,” tegas Trump menyusul operasi militer AS di Caracas.

Minyak Venezuela Masuk AS: ‘Rejeki Nomplok’ US$4 Miliar

Ambisi Trump menguasai sumber daya energi Venezuela bukan lagi sekadar isapan jempol. Ia memamerkan fakta bahwa AS telah menerima pasokan minyak senilai US$4 miliar (sekitar Rp67,4 triliun) hanya dalam kurun waktu satu hari.

Ia pun menjanjikan masa depan baru bagi industri migas Venezuela dengan mengundang raksasa-raksasa minyak dunia. 

“Semua perusahaan minyak besar akan masuk. Mereka akan untung besar, dan Venezuela akan mendapatkan bagian dari uang tersebut untuk membangun kembali negaranya,” imbuh Trump.

Sebelumnya, Trump juga mengumumkan kesepakatan dengan otoritas sementara Venezuela untuk mentransfer 30 hingga 50 juta barel minyak ke AS. Ia berdalih hasil penjualannya akan dikembalikan untuk kesejahteraan rakyat Venezuela, meski tetap menguntungkan kantong Amerika.

Pasca-Penangkapan Maduro: Caracas dalam Gejolak

Agresivitas kebijakan Trump ini merupakan buntut dari operasi militer besar-besaran AS pada 3 Januari lalu. Presiden Nicolas Maduro beserta istrinya, Cilia Flores, diringkus dan diseret ke New York untuk diadili atas tuduhan ‘narkoterorisme’.

Di Caracas, suasana masih mencekam. Pemerintahan transisi di bawah Wakil Presiden Delcy Rodriguez, yang dilantik sebagai Presiden Sementara pada 5 Januari, mulai bergerak menjalankan tugas negara. 

Di sisi lain, sisa-sisa loyalis Maduro tengah berupaya mendesak Dewan Keamanan PBB untuk menggelar pertemuan darurat guna menggugat tindakan sepihak Washington.

Bagi Trump, jatuhnya Maduro bukan sekadar urusan pergantian rezim, melainkan langkah strategis untuk memutus rantai pengaruh sosialis di Amerika Latin, dengan Kuba sebagai target domino berikutnya.