Menlu Sugiono akan Bahas Konflik Thailand-Kamboja di Pertemuan Khusus ASEAN

Ikhsan Medium.jpeg

Jumat, 19 Desember 2025 – 22:31 WIB

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI, Yvonne Mewengkang, dalam temu media di Jakarta, Jumat (19/12/2025). (Foto: Antara/Nabil Ihsan)

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI, Yvonne Mewengkang, dalam temu media di Jakarta, Jumat (19/12/2025). (Foto: Antara/Nabil Ihsan)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Kawasan Asia Tenggara kembali diuji oleh bara konflik lama yang menyala kembali. Eskalasi ketegangan antara Thailand dan Kamboja di wilayah perbatasan memaksa para diplomat senior ASEAN harus segera berkumpul. Menteri Luar Negeri RI Sugiono dijadwalkan terbang ke Kuala Lumpur, Malaysia, pada 22 Desember mendatang untuk menghadiri pertemuan khusus guna mencari jalan keluar bagi kedua negara bertetangga tersebut.

Kepastian ini disampaikan oleh Juru Bicara Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI, Yvonne Mewengkang, dalam temu media di Jakarta, Jumat (19/12/2025). Pertemuan di bawah keketuaan Malaysia ini menjadi krusial mengingat stabilitas regional sedang dipertaruhkan.

“Partisipasi Menlu RI menunjukkan peran aktif Indonesia sebagai ‘honest broker’ untuk mencari solusi penyelesaian ketegangan,” tegas Yvonne.

Gencatan Senjata yang Rapuh

Situasi di perbatasan Thailand-Kamboja sebenarnya sempat mendingin setelah adanya kesepakatan gencatan senjata pada pertengahan tahun ini. Bahkan, kedua negara telah meneken perjanjian damai di sela-sela KTT ASEAN bulan Oktober lalu. Namun, perdamaian itu rupanya hanya di atas kertas.

Memasuki awal Desember, konflik kembali pecah. Saling tuduh pelanggaran kesepakatan mencuat setelah sejumlah tentara Thailand terluka parah akibat ledakan ranjau darat di wilayah sengketa. Kondisi ini membuat perjanjian damai yang baru seumur jagung terpaksa ditangguhkan.

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump sempat ikut campur tangan pekan lalu dan mengklaim kedua pemimpin negara telah sepakat menghentikan kontak senjata. Namun, fakta di lapangan berbicara lain; desing peluru masih terdengar di garis perbatasan.

Duka di Garis Batas

Konflik ini bukan sekadar urusan kedaulatan, melainkan tragedi kemanusiaan yang nyata. Thailand melaporkan 21 tentara dan 16 warga sipilnya tewas. Sementara di pihak Kamboja, tercatat 18 orang kehilangan nyawa dan 78 lainnya luka-luka.

Ribuan warga Kamboja bahkan sudah turun ke jalan pada Kamis (18/12/2025) kemarin, mendesak kedua pemerintahan untuk menghormati gencatan senjata. Mereka lelah hidup di bawah bayang-bayang perang.

Pertemuan di Kuala Lumpur nanti diharapkan tidak sekadar menjadi ajang retorika diplomatik. Indonesia, dengan pengalaman panjangnya memediasi konflik serupa di masa lalu, memikul harapan besar untuk membawa pulang hasil konkret. Namun, seperti yang disampaikan Kemlu, semua hasil akhir sangat bergantung pada kemauan politik (political will) Thailand dan Kamboja di meja perundingan nanti.