Kisah Pilu Orang Tua di Aceh Tamiang: Jalan Kaki Kiloan Meter Cari Jajanan Demi Hibur Anak Trauma

Ibnu Medium.jpeg

Selasa, 16 Desember 2025 – 19:47 WIB

DMC Dompet Dhuafa hadirkan Psychological First Aid di Desa Sekumur. (Foto: DMC)

DMC Dompet Dhuafa hadirkan Psychological First Aid di Desa Sekumur. (Foto: DMC)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Dampak banjir bandang di Kabupaten Aceh Tamiang tidak hanya menyisakan kerusakan fisik pada bangunan, tetapi juga guncangan mental yang mendalam bagi para penyintas, khususnya anak-anak. Menjawab kondisi krisis ini, Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa menghadirkan layanan Psychological First Aid (PFA) di Desa Sekumur, Kecamatan Sekerak.

Sejak Jumat (12/12/2025) hingga Selasa (16/12/2025), tim DMC Dompet Dhuafa fokus memberikan dukungan psikososial untuk memulihkan emosi negatif anak-anak yang mengalami trauma akibat bencana.

Trauma Anak: Melamun hingga Mengigau

Kebutuhan akan pemulihan mental ini sangat mendesak. Usnul Yakin, warga Desa Sekumur, mengungkapkan perubahan drastis pada perilaku anaknya yang berusia delapan tahun. Sang anak kerap melamun dengan tatapan kosong, menangis saat melihat reruntuhan rumah, hingga mengigau ketakutan saat tidur.

Situasi diperparah dengan kondisi orang tua yang juga mengalami stres tinggi akibat keterbatasan pangan.

“Belum lagi istri saya sering membentak kalau anak saya minta makan. Saya memaklumi karena kita punya makanan yang terbatas, dan istri saya juga stress karena bencana ini,” ungkap Usnul.

Usnul bahkan menceritakan perjuangannya berjalan kaki berkilo-kilometer ke Kuala Simpang hanya untuk membelikan jajanan, karena bantuan logistik yang datang umumnya hanya berupa makanan pokok, bukan makanan ringan yang bisa menghibur anak-anak.

Metode Bermain dan Bernyanyi

Di posko DMC Dompet Dhuafa, puluhan anak diajak melakukan aktivitas yang menyenangkan di tengah puing-puing pemukiman. Mereka bernyanyi, menggambar, dan bermain bersama relawan.

Hanifah, seorang bidan desa yang juga menjadi korban banjir, menyambut positif kegiatan ini. Ia mengaku anaknya yang sebelumnya sering ketakutan kini mulai ceria kembali.

“Syukur alhamdulillah anak-anak terhibur karena bisa bermain bersama abang-abang dari Dompet Dhuafa. Anak-anak bisa bernyanyi, mewarnai, alhamdulillah kami senang,” ujar Hanifah.

Program PFA ini diharapkan dapat menjadi “obat” bagi memori kelam anak-anak Aceh Tamiang, mengembalikan senyum mereka di tengah masa pemulihan pascabencana.