Massimiliano Allegri tidak menutupi rasa frustrasinya setelah AC Milan tersingkir dari Coppa Italia di tangan Lazio.
Pelatih Rossoneri itu menyebut timnya kembali mengulang pola yang sama: dominan, menciptakan peluang, tetapi gagal mengeksekusi—lalu dihukum oleh kesalahan-kesalahan sederhana.
Kekalahan 0-1 di Stadio Olimpico terasa seperti pukulan beruntun. Milan yang empat hari sebelumnya menang 1-0 atas Lazio di Serie A, kini berada di sisi lain dari hasil kontroversial.
Gol tunggal Mattia Zaccagni lahir dari sepak pojok yang diprotes pemain Milan, karena menurut mereka bola seharusnya menjadi goal kick setelah mengenai Alessio Romagnoli.
VAR tak bisa meninjau situasi itu, dan buruknya penjagaan membuat Zaccagni bebas menyundul masuk.
Allegri menilai kekalahan itu lahir dari rangkaian kecerobohan yang terjadi ketika Milan justru memegang kendali permainan.
“Kami salah mengoper beberapa kali di babak pertama dan memberikan peluang gratis,” kata Allegri kepada Sport Mediaset.
“Pertandingannya statis. Tim yang mencetak gol lebih dulu akan menang. Kami punya peluang, tapi tak memanfaatkannya, lalu kebobolan dari situasi yang bisa kami jaga lebih baik.”
Pelatih veteran itu mengakui gejala berulang.
“Ini sudah terjadi saat melawan Cremonese dan Pisa. Kami dominan tetapi gagal memaksimalkan momentum, dan itu menjadi berbahaya. Kami harus memperbaiki hal tersebut.”
Salah satu titik balik laga terjadi ketika Rafael Leão membuang peluang emas dengan menendang bola terlalu tinggi dari jarak delapan meter, situasi yang kemudian mengubah ritme pertandingan dan membuat Lazio semakin percaya diri.
Namun Allegri tetap membela sang winger.
> “Leão bergerak dengan baik. Saat dia tidak berada di kotak penalti, kami harus mengisinya dengan pemain lain. Yang terpenting ia mengorbankan diri untuk tim.”
Soal kebutuhan striker baru, Allegri menolak anggapan tersebut.
“Pulisic dan Leão sudah mencetak 10 gol. Gimenez akan kembali. Kami butuh lebih banyak gol dari gelandang dan konsentrasi yang lebih baik pada momen penting.”
Pertandingan ini juga menandai debut starter Ardon Jashari sejak pulih dari retak tulang fibula. Allegri memuji kontribusi Jashari dan Samuele Ricci, tetapi tetap menyesalkan kegagalan Milan melaju lebih jauh.
“Kami ingin ke final lagi, jadi tersingkir jelas mengecewakan. Tapi sekarang fokus kami kembali ke Serie A dan Supercoppa.”
Milan, finalis Coppa Italia musim lalu, kini tersingkir di babak 16 besar. Namun Allegri menepis anggapan ini adalah kemunduran.
“Tidak. Kami marah karena tersingkir, tapi kami harus melihat ke depan. Dua laga liga menanti sebelum Supercoppa.”
Ditanya soal perbandingan dengan Napoli musim lalu—yang gugur di fase sama dan akhirnya juara Serie A—Allegri memilih merendah.
“Tahukah Anda berapa kali Milan menang di Turin dalam 12 tahun terakhir? Sekali, saat stadion kosong karena Covid. Jadi fokus kami adalah meraih poin di sana.”













