Survei: 62 Persen Warga Jerman Cemas Serangan Teror di Pasar Natal, Keamanan Diperketat

Ikhsan Medium.jpeg

Kamis, 20 November 2025 – 01:02 WIB

Sedikitnya dua orang tewas dan 60 lebih terluka setelah sebuah mobil menerobos dan menabrak kerumunan pengunjung sebuah pasar Natal di Kota Magdeburg, Negara Bagian Saxony-Anhalt, Jerman, pada 20 Desember 2024. (Foto: ABC News)

Sedikitnya dua orang tewas dan 60 lebih terluka setelah sebuah mobil menerobos dan menabrak kerumunan pengunjung sebuah pasar Natal di Kota Magdeburg, Negara Bagian Saxony-Anhalt, Jerman, pada 20 Desember 2024. (Foto: ABC News)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Suasana syahdu dan gemerlap lampu di pasar-pasar Natal atau Weihnachtsmarkt yang menjadi ikon tradisi akhir tahun di Jerman, tampaknya bakal terasa berbeda tahun ini. Bayang-bayang kelam aksi terorisme membuat mayoritas warga di negara ekonomi terbesar Eropa tersebut merasa was-was untuk melangkahkan kaki ke pusat keramaian.

Sebuah survei terbaru yang dirilis oleh kantor berita DPA bekerja sama dengan lembaga riset YouGov mengungkap fakta yang cukup meresahkan. Lebih dari 60 persen warga Jerman mengaku dihantui kekhawatiran akan adanya serangan saat mengunjungi pasar Natal tahun ini.

Angka tersebut bukan sekadar statistik kosong. Ketika dibedah lebih dalam, tingkat kecemasan masyarakat terbagi dalam dua spektrum: 22 persen responden menyatakan merasakan ‘kecemasan yang kuat’, sementara 40 persen lainnya mengaku merasa ‘agak cemas’.

Hanya segelintir, yakni sekitar 35 persen responden, yang dengan percaya diri mengatakan tidak merasa takut sama sekali saat menikmati suasana liburan di ruang terbuka.

Trauma Kolektif Pasca-Insiden Berdarah

Ketakutan publik ini tidak muncul dari ruang hampa. Rasa tidak aman yang meluas merupakan akumulasi dari rentetan peristiwa berdarah yang mengguncang Jerman dalam satu tahun terakhir. Ingatan publik masih segar akan tragedi yang terjadi di Solingen, Magdeburg, Aschaffenburg, München, hingga Mannheim.

Insiden-insiden tersebut –mulai dari mobil yang menabrak kerumunan hingga serangan pisau acak terhadap pejalan kaki yang berujung kematian– telah memicu trauma kolektif.

Ironisnya, laporan menyebutkan bahwa pelaku kejahatan ini kerap dikaitkan dengan pengungsi yang tinggal secara ilegal, sebuah fakta yang kian memanaskan perdebatan sosial-politik di Jerman terkait kebijakan migrasi.

Harian Bild bahkan melaporkan pada 20 Maret lalu bahwa sejumlah festival dan acara jalanan tradisional terpaksa dibatalkan. Alasannya klasik namun fatal: risiko ancaman teror yang dinilai terlalu tinggi oleh aparat keamanan.

Skeptisme terhadap Aparat Keamanan

Lantas, bagaimana kepercayaan publik terhadap polisi? Hasil survei menunjukkan masyarakat terbelah. Sebanyak 41 persen warga Jerman menilai langkah keamanan di pasar-pasar Natal sudah cukup memadai. Namun, angka yang skeptis juga cukup tinggi, yakni 37 persen responden merasa langkah antisipasi aparat belum cukup menjamin keselamatan nyawa mereka.

Tren ketidakamanan ini sebenarnya sudah terdeteksi sejak awal tahun. Survei YouGov sebelumnya pada 10-11 Maret mencatat 57 persen warga Jerman sudah merasa kurang aman berada di ruang publik.

Meski studi terbaru ini tidak merinci jumlah sampel atau margin of error, pesan yang tersirat sangat jelas: Jerman sedang tidak baik-baik saja.

Natal tahun ini akan menjadi ujian berat bagi pemerintahan Olaf Scholz untuk meyakinkan warganya bahwa negara hadir memberikan rasa aman, di tengah ancaman teror yang bisa menyerang kapan saja dan di mana saja.

Topik
Komentar