Kelas Menengah dan Efek Diderot: Alasan Indonesia Sulit Naik Kelas

Mesin pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini bertumpu pada kelas menengah. Kelompok ini memiliki daya beli dan gaya hidup konsumtif. Namun di balik tumbuhnya konsumsi di mal dan e-commerce, terdapat paradoks besar: kelas menengah justru sulit naik kelas karena terjebak dalam lingkaran konsumsi. Besarnya pengeluaran mereka memang menggerakkan roda ekonomi nasional, tetapi hal itu juga menjadi alasan mengapa mereka sulit menembus mobilitas sosial ke atas.

Kutukan kemajuan semu ini dijelaskan secara konkret oleh filsuf Prancis Denis Diderot melalui konsep “Diderot Effect” atau Efek Diderot.

Denis Diderot menggambarkan fenomena tersebut melalui pengalamannya ketika menerima sebuah jubah mewah. Kehadiran jubah baru itu membuat seluruh barang di dalam rumahnya tampak usang. Untuk “menyamakan” suasana, ia mengganti perabot lain seperti kursi, meja, hingga dekorasi rumah. Ia kemudian menyadari bahwa sedikit perubahan dapat menjerumuskan seseorang dalam spiral konsumsi tanpa akhir—bukan karena kebutuhan, tetapi karena dorongan estetika, kenyamanan emosi, dan hasrat menegaskan status.

Fenomena ini juga menjelaskan bagaimana kelas menengah Indonesia terperangkap. Ketika gaji naik, gaya hidup ikut naik. Dari motor bebek beralih ke motor matic ber-cc besar. Lalu muncul dorongan membeli jaket, helm, atau gawai baru agar “sepadan” dengan status barunya.

Naik jabatan menstimulasi keinginan membeli mobil atau mengganti mobil yang lebih mahal. Memiliki mobil mendorong perpindahan ke perumahan yang lebih bergengsi. Kenaikan gaji mungkin hanya 10 persen, tetapi pengeluaran bisa melonjak 30 persen karena spiral konsumsi. Konsumsi demi citra, bukan demi fungsi.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan sekitar 49 persen populasi Indonesia masuk kategori “kelas menengah rentan”. Mereka adalah golongan yang akan turun menjadi miskin hanya dalam tiga bulan ketika kehilangan pendapatan. Secara gaya hidup, mereka tampak mapan—memiliki smartphone, nongkrong di kafe modern, hingga berlibur ke destinasi mahal.

Namun mereka tidak memiliki aset produktif maupun dana darurat. Mereka tampak tenang di permukaan, tetapi secara finansial panik—sebuah kondisi yang disebut Duck Syndrome.

Pola hidup seperti ini menciptakan kelas menengah imitasi. Mereka lebih peduli simbol daripada substansi. Mereka menjadi target empuk sistem kapitalisme modern yang mendorong konsumsi massal. Selama masih sibuk meng-upgrade “jubah Diderot”—mobil baru, sepatu baru, gawai terbaru, interior rumah ala TikTok—kelas menengah akan terus terjebak dan tidak memiliki ruang finansial untuk berinvestasi agar dapat naik kelas.

Efek Diderot bukan hanya perilaku individu, melainkan fenomena sistemik. Algoritma media sosial, teknologi, dan sistem ekonomi—bahkan kebijakan pemerintah—sering kali turut mendorong gaya hidup konsumtif demi pertumbuhan jangka pendek.

Namun dalam jangka panjang dampaknya fatal. Kelas menengah tidak lagi menjadi agen produktif, tetapi sekadar penumpang dalam ekonomi konsumsi. Mereka tidak menciptakan nilai baru; mereka hanya mempercepat sirkulasi uang. Ketahanan ekonomi pun menjadi rapuh.

Kecenderungan konsumtif ini juga berdampak pada produktivitas tenaga kerja Indonesia yang lebih rendah dibanding negara-negara tetangga. Ketika orientasi warga negara adalah memiliki barang, bukan membuat barang, ekonomi nasional mengalami disorientasi. Deindustrialisasi perlahan tetapi pasti menjadi konsekuensinya.

Konsumsi memang menggerakkan permintaan. Namun tanpa produktivitas dan inovasi, pertumbuhan ekonomi hanya menjadi pertumbuhan semu. Negara maju ketika kelas menengahnya berinvestasi pada pendidikan, riset, inovasi, dan teknologi—bukan pada pay later konsumsi nonproduktif.

Untuk keluar dari Efek Diderot, revolusi cara pandang diperlukan. Status tidak ditentukan oleh harga barang yang dimiliki, melainkan oleh manfaat yang dapat diciptakan. Pemerintah pun perlu mendorong kebijakan ekonomi yang fokus pada produktivitas, bukan sekadar konsumsi domestik.

Literasi finansial harus diperkuat, termasuk pentingnya investasi dan kemampuan delayed gratification—menunda kesenangan demi masa depan lebih baik. Media, baik konvensional maupun digital, perlu lebih bijak dalam mempromosikan produk agar membentuk kultur konsumsi yang sehat.

Efek Diderot bukan sekadar kisah tentang jubah, tetapi tentang ilusi kemajuan. Indonesia sedang terlena dengan “jubah baru” berupa pembangunan infrastruktur masif, jalan tol panjang, dan narasi menuju negara ekonomi raksasa. Namun kenyataannya, pondasi sosial-ekonomi masih rapuh, karena kelas menengahnya belum benar-benar mapan.

Kemajuan sejati bukan berasal dari jubah yang indah, tetapi dari kemampuan menghadirkan kesederhanaan dalam kondisi berlimpah. Jika kelas menengah tidak mampu mengendalikan kultur konsumtifnya, maka kemapanan hanyalah kosmetik—sementara ekonomi berjalan di tempat.