2 Pekan Tanpa Adzan, Tangis Haru Pecah saat Salat Jumat Perdana di Aceh Tamiang

Ibnu Medium.jpeg

Minggu, 14 Desember 2025 – 07:10 WIB

DMC Dompet Dhuafa dan Warga Gelar Jumat Pertama Usai Bencana. (Foto: DMC)

DMC Dompet Dhuafa dan Warga Gelar Jumat Pertama Usai Bencana. (Foto: DMC)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Suasana haru menyelimuti Masjid Baitul Makmur di Desa Sekumur, Kecamatan Sekerak, Kabupaten Aceh Tamiang, pada Jumat (12/12/2025). Untuk pertama kalinya setelah dua pekan wilayah tersebut lumpuh akibat diterjang banjir bandang, lantunan adzan kembali terdengar dan warga dapat melaksanakan ibadah Shalat Jumat berjamaah.

Momen ibadah siang itu terasa berbeda, seolah merayakan hari raya di tengah duka. Anak-anak, remaja, hingga para sesepuh desa tampak khusyuk. Usai shalat, warga saling bersalaman dan berpelukan dengan mata berkaca-kaca, bersyukur masih diberi kesempatan bersujud di “rumah Allah” yang sempat nyaris tenggelam tersebut.

Kesaksian Sesepuh Desa: “Kami Rindu Suara Adzan”

Muchtar, sesepuh Desa Sekumur, tak kuasa membendung air matanya. Ia mengaku sangat merindukan suasana religius yang sempat hilang sejak banjir besar melanda pada 26 November 2025.

“Sudah dua Jumat kami lewati, selama itu juga kami belum bisa shalat di masjid. Saya rindu berjamaah di masjid. Kami semua rindu suara adzan,” ucap Muchtar dengan suara terisak.

Ia menceritakan bahwa banjir sempat mencapai atap rumah warga dan menimbun masjid dengan lumpur setinggi 60 sentimeter. “Syukur alhamdulillah dengan adanya pertolongan relawan Dompet Dhuafa kami bisa shalat berjamaah kembali setelah 15 hari,” tambahnya.

Aksi Bersih Masjid Tembus Lumpur Tebal

Kembalinya fungsi masjid ini tidak lepas dari kerja keras tim Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa bersama warga yang bergotong royong sehari sebelumnya, Kamis (11/12).

Ahmad Barqu, Penanggungjawab Respons DMC Dompet Dhuafa di wilayah Aceh Tamiang, menjelaskan tantangan berat dalam memulihkan masjid tersebut. Selain ketebalan lumpur, tim juga terkendala sumber air.

“Tantangannya selain lumpur yang sangat tebal adalah sumber air yang sulit. Kami harus menarik selang pompa air ke sumur yang jauh dari masjid,” jelas Barqu.

Dengan bantuan mesin pompa bertekanan tinggi, lumpur yang mulai mengering berhasil dilunakkan dan disingkirkan. Barqu berharap, selain untuk ibadah, struktur masjid yang kokoh kini bisa menjadi titik kumpul teraman bagi warga dalam masa pemulihan pascabencana.

Topik
Komentar