Tarif Resiprokal Turun Jadi 19 Persen, AS Minta Akses Mineral Kritis RI

Clara Medium.jpeg

Selasa, 23 Desember 2025 – 12:05 WIB

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto di Jakarta, Jumat (21/11/2025) (Foto: ANTARA/HO-Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian).

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto di Jakarta, Jumat (21/11/2025) (Foto: ANTARA/HO-Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian).

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan hasil pertemuannya dengan Pejabat United States Trade Representative (USTR), Duta Besar Jamieson Greer, terkait kelanjutan negosiasi tarif resiprokal antara Indonesia dan Amerika Serikat (AS).

Airlangga menyampaikan, Indonesia tetap dikenakan tarif dagang sebesar 19 persen, turun dari tarif awal 32 persen. Namun, Amerika Serikat meminta timbal balik berupa pembukaan akses terhadap mineral kritis milik Indonesia.

“Amerika sangat berharap untuk mendapatkan akses terhadap kritikal mineral,” ujar Airlangga dalam Konferensi Pers Perkembangan Kesepakatan Dagang Indonesia-AS yang digelar secara daring, Selasa (23/12/2025).

Sebagai bagian dari kesepakatan, Indonesia memperoleh pengecualian tarif khusus untuk sejumlah produk unggulan ekspor, antara lain kelapa sawit, kopi, kakao, serta komoditas lainnya seperti teh.

“Dan tentu ini menjadi kabar yang baik terutama bagi industri Indonesia yang terdampak langsung kebijakan tarif di mana sektor-sektor yang terkenal tarif tersebut, terutama padat karya, memperkerjakan 5 juta pekerja dan tentunya ini sangat strategis bagi Indonesia,” jelas Airlangga.

Ia menambahkan, saat ini kerangka kerja serta substansi perjanjian dagang antara Indonesia dan Amerika Serikat telah disepakati oleh kedua negara. Tahap berikutnya akan diisi pertemuan tim teknis pada 12–19 Januari 2026 untuk melakukan legal drafting dan perapihan dokumen Agreement on Reciprocal Trade (ART).

“Kita harap bahwa proses teknis selanjutnya dapat selesai sesuai target waktu, sehingga pada akhir Januari 2026 bisa dilakukan penandatanganan dokumen ART oleh Bapak Presiden Prabowo dan Bapak Presiden Trump. Dengan demikian manfaat darai perjanjian ini, membuka akses pasar dua negara dapat segera mendorong perekonomian di Indonesia,” ucapnya.