Petenis Serbia Novak Djokovic bersama Jannik Sinner. (Foto: Sky Sports)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Jannik Sinner harus menelan salah satu kekalahan paling menyakitkan dalam karier profesionalnya setelah disingkirkan Novak Djokovic pada semifinal Australian Open dalam duel lima set yang dramatis, Jumat malam waktu setempat. Kekalahan ini terasa makin berat karena Sinner sempat berada di posisi unggul dan memiliki banyak peluang untuk menutup pertandingan.
Petenis Italia berusia 24 tahun itu tampil agresif sejak awal dan berhasil unggul dua set berbanding satu. Namun, momentum berbalik di dua set terakhir. Djokovic tampil tenang dan klinis di poin-poin krusial, sementara Sinner gagal memaksimalkan sejumlah peluang emas yang ia ciptakan.
“Sangat menyakitkan,” kata Sinner dalam konferensi pers usai laga, dikutip dari ATP.
“Ini adalah Grand Slam yang sangat penting bagi saya. Saya punya banyak peluang, tetapi tidak bisa memanfaatkannya, dan itulah hasilnya,” ujarnya.
Statistik menunjukkan betapa tipis jarak kemenangan yang terlepas dari genggaman Sinner. Unggulan kedua itu hanya mampu mengonversi dua dari 18 break point yang ia peroleh sepanjang pertandingan.
Di set kelima, Sinner kembali mendapat beberapa kesempatan untuk mematahkan servis Djokovic, namun selalu gagal menuntaskannya.
“Saya punya peluang, terutama di set kelima. Banyak break point, tetapi saya tidak bisa memanfaatkannya. Dia melakukan beberapa pukulan hebat,” kata Sinner.
“Hari ini saya mencoba beberapa hal berbeda, tetapi tidak berhasil. Begitulah tenis,” lanjutnya.
Kekalahan ini juga menghentikan ambisi Sinner untuk meraih gelar Australian Open ketiga secara beruntun. Sebelumnya, ia bahkan unggul rekor pertemuan atas Djokovic dengan lima kemenangan beruntun.
Namun, di Rod Laver Arena, pengalaman dan ketenangan Djokovic kembali menjadi pembeda.
Final Australian Open pada Minggu (1/2) juga menandai pertama kalinya Sinner absen dari partai puncak Grand Slam sejak Wimbledon 2024, saat Carlos Alcaraz mengalahkan Djokovic.
Meski kecewa, Sinner tetap memberikan penghormatan tinggi kepada lawannya.
“Dia telah memenangi 24 gelar Grand Slam. Kami saling mengenal dengan baik. Saya selalu bilang, Anda tidak boleh terkejut, karena menurut saya dia adalah pemain terhebat selama bertahun-tahun,” ujar Sinner.
“Grand Slam selalu punya arti besar bagi semua pemain top. Ada motivasi ekstra, dan dia bermain tenis dengan sangat luar biasa.”
Sinner menegaskan akan menjadikan kekalahan ini sebagai bahan evaluasi. Ia berharap pengalaman pahit tersebut bisa menjadi pelajaran penting untuk meningkatkan kualitas permainannya ke depan.
“Saya harap bisa mengambil ini sebagai pelajaran, untuk melihat apa yang masih bisa saya perbaiki,” ucap peraih empat gelar Grand Slam itu.
Meski gagal melangkah ke final, Sinner tetap meninggalkan Melbourne dengan status peringkat dua dunia ATP, posisi yang sama seperti saat ia datang ke Australian Open.














