Cengkeraman sanksi dan tekanan intensif yang diluncurkan Washington kini benar-benar mencekik urat nadi kehidupan sehari-hari warga Kuba. Di tengah blokade minyak oleh Amerika Serikat (AS) yang masih berlangsung ketat, negara sosialis tersebut kini dilaporkan berada dalam atmosfer siaga satu untuk mengantisipasi potensi invasi militer dari Negeri Paman Sam.
Mengutip CNN, Senin (18/5/2026), krisis ekonomi yang kian parah telah membuat pasokan bahan bakar untuk generator gedung-gedung pemerintah habis total. Akibatnya, pemadaman listrik massal terjadi beberapa kali dalam sehari, merembet hingga ke area perkantoran strategis di Havana.
Kelangkaan ini bahkan menyentuh barang kebutuhan dasar paling ekstrem; kertas toilet kini tidak lagi tersedia di fasilitas-fasilitas umum. Di tengah situasi yang karut-marut ini, instruksi darurat dari otoritas tertinggi mulai turun ke seluruh pengelola gedung perkantoran milik negara di ibu kota Kuba tersebut untuk menyusun rencana kontingensi menghadapi serangan militer AS.
Bagi warga Kuba, hidup di bawah bayang-bayang moncong senjata AS bukanlah hal baru. Mereka bahkan kerap melontarkan kelakar getir melalui ungkapan ‘cuando vienen los americanos’ (ketika orang Amerika datang)—sebuah sarkasme lokal untuk menertawakan menumpuknya persoalan domestik yang tak kunjung diselesaikan oleh pemerintah mereka sendiri.
Kunjungan Rahasia Bos CIA yang Mengejutkan
Ketegangan geopolitik ini mencapai titik kritis ketika Direktur CIA, John Ratcliffe, secara mengejutkan mendarat di Havana pekan ini menggunakan pesawat resmi bertuliskan ‘United States of America’. Bagi publik Kuba, kehadiran pesawat tersebut bak petir di siang bolong.
Sebab, dalam lembaran sejarah, CIA adalah entitas paling dihindari dan dibenci di pulau tersebut, mengingat rekam jejak kelam mereka pada era 1960-an yang merancang ratusan operasi rahasia untuk membunuh mendiang Fidel Castro.
Berdasarkan dokumentasi foto yang bocor, jajaran petinggi intelijen Kuba menyambut delegasi AS tersebut dalam sebuah pertemuan yang sangat tertutup. Protokol pengamanan identitas diberlakukan sangat ketat guna melindungi wajah para agen intelijen AS yang mendampingi Ratcliffe.
“Ini adalah puncak ironi sejarah,” cetus Peter Kornbluh, salah satu penulis buku ternama Back Channel to Cuba: The Hidden History of Negotiations Between Washington and Havana.
Menurut Kornbluh, misi kedatangan Ratcliffe ke Havana merupakan perpanjangan tangan dari pemerintahan Donald Trump untuk memberikan tawaran ‘hidup atau mati’ yang tampaknya mustahil untuk ditolak oleh Kuba. “Para ilmuwan politik menyebut langkah keras ini sebagai ‘diplomasi penyerahan diri’,” tambahnya.
Gugat Legalitas Blokade Minyak Donald Trump
Di meja perundingan, pihak Kuba dilaporkan berupaya keras membela diri. Mereka memaparkan rentetan bukti valid bahwa teritorial dan kebijakan politik Kuba sama sekali tidak menimbulkan ancaman keamanan apa pun bagi kedaulatan domestik Amerika Serikat.
Argumen dan nota diplomatik ini diajukan Havana untuk menggugat serta mematahkan dasar hukum sanksi blokade minyak sepihak yang dijatuhkan oleh pemerintahan Donald Trump, yang telah melumpuhkan sektor energi Kuba.
Namun, sadar bahwa diplomasi meja makan kerap buntu menghadapi kepalan tangan Washington, media pemerintah Kuba mulai mengambil langkah ekstrem secara paralel. Media nasional kini gencar mempublikasikan rangkaian video dan panduan pelatihan militer bagi warga sipil di seluruh pelosok negeri.
Menghidupkan Kembali Doktrin Perang Semesta Fidel Castro
Strategi pertahanan yang kini diadopsi penuh oleh Havana mengakar pada doktrin klasik mendiang Fidel Castro mengenai ‘perang seluruh penduduk’. Ini merupakan konsep perang gerilya semesta yang dirancang khusus untuk menguras stamina, logistik, dan psikologis pasukan penyerang di darat—mengadopsi pola pertempuran berdarah yang sukses diterapkan oleh Vietkong dalam Perang Vietnam.
Kendati angkatan bersenjata Kuba saat ini sangat bergantung pada alutsista tua sisa-sisa era Perang Dingin buatan Uni Soviet, para pengamat militer internasional mengingatkan Barat agar tidak meremehkan kekuatan Havana.
Sejarawan militer terkemuka, Hal Klepak, menyatakan bahwa struktur komando dan mentalitas militer Kuba masih sangat kapabel untuk mengorganisasi perlawanan sengit dan mematikan di medan darat.
“Kuba telah menunjukkan, seperti yang telah kita lihat berulang kali dalam manajemen bencana alam mereka, bahwa mereka adalah salah satu yang terbaik dalam memobilisasi penduduk dan mengevakuasi orang-orang dalam waktu singkat. Jaringan pertahanan sipil mereka sangat solid,” pungkas Klepak.













