Setelah Beras, Bapanas: Pemerintah Ancang-ancang tak Ada Impor Jagung di Tahun Ini

Iwan Medium.jpeg

Jumat, 9 Januari 2026 – 20:37 WIB

Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) sekaligus Menteri Pertanian (Mentan), Amran Sulaiman (kanan) di Bekasi, Jawa Barat pada Kamis (8/1/2026). (Foto: Dok Bapanas).

Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) sekaligus Menteri Pertanian (Mentan), Amran Sulaiman (kanan) di Bekasi, Jawa Barat pada Kamis (8/1/2026). (Foto: Dok Bapanas).

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Setelah mengumumkan tak ada impor beras pada tahun ini, Badan Pangan Nasional (Bapanas) menyebut komoditas jagung cukup berlimpah. Kemungkinan besar tak ada impor jagung.

Kepala Bapanas yang juga Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menuturkan, produksi jagung nasional selama 2025, mencatat surplus terhadap konsumsi. “Pemerintah terus berupaya mendahulukan kepentingan petani jagung dalam negeri dengan kembali meniadakan importasi di 2026,” ungkap Amran.

Dia menuturkan, peran Perum Bulog sangat krusial karena sangat menentukan tingkat serapan jagung produksi dalam negeri.

“Jadi Bulog harus siap dari sekarang, karena hadir di seluruh Indonesia. Yang harus diperhatikan adalah serapannya. Jika bermasalah, berdampak pada tahun depannya,” tutur Amran, Jakarta, dikutip Jumat (9/1/2026).

Adapun serapan jagung di dalam negeri, kata Amran, merupakan penugasan Bapanas ke Bulog sepanjang 2025, tercapai 101 ribu ton. Daerah yang memiliki serapan jagung tertinggi, antara lain Nusa Tenggara Barat (NTB), Lampung, Sulawesi Selatan (Sulsel), dan Sulawesi Barat (Sulbar).

Saat ini, stok Cadangan Jagung Pemerintah (CJP) yang sepenuhnya bersumber dari dalam negeri itu, mencapai 51,2 ribu ton, telah tersalurkan lewat program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP). Langkah Ini merupakan penugasan Bapanas ke Perum Bulog yang menyasar 3.578 peternak ayam ras petelur di 17 provinsi.

Sementara untuk pelaksanaan SPHP jagung pakan di 2026 ini, Bapanas tengah mempersiapkannya. Targetnya selama setahun ditetapkan sebanyak 500 ribu ton sebagaimana hasil rapat koordinasi terbatas di Kementerian Koordinator Bidang Pangan (29/12/2025).

Sasaran penerima SPHP jagung adalah peternak ayam layer skala mikro, kecil, dan menengah. Alasannya, mereka memiliki tingkat kebutuhan jagung pakan yang tinggi. Peternak ayam telur diperkirakan membutuhkan 91 persen jagung pakan, sementara peternak ayam di kisaran 60 sampai 65 persen.

Pada awal Januari 2026, stok CJP di gudang Perum Bulog mencapai 45 ribu ton. Ke depan, Perum Bulog diharapkan lebih gencar menambah stok dari produksi jagung dalam negeri. Karena itu tadi, pemerintah telah memutuskan tidak ada impor jagung pakan, benih, dan rumah tangga pada tahun ini.

“Dari kemarin sudah disampaikan, tidak ada impor jagung khusus pakan. Ini karena bahkan kita sudah ekspor, ekspor di Kalimantan ke Malaysia, juga kita ekspor ke Filipina. Dari NTB dari Gorontalo. Jadi ada 3 tempat dan Bapak Presiden lepas langsung,” ungkap Amran.