Presiden Partai Buruh, Said Iqbal saat berunjuk rasa di depan gedung DPR RI, Kamis (28/8/2025). (Foto: Inilah.com/Reyhaanah)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Nyaris dua bulan nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar AS (US$) ‘nyungsep’, mulai dirasakan industri. Dan, PT Xacti Indonesia sebuah perusahaan elektronik Penanaman Modal Asing (PMA) asal Jepang, lempar handuk, pertanda menyerah.
Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) sekaligus Presiden Partai Buruh, Said Iqbal memastikan adanya pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap 350 pekerja PT Xacti Indonesia.
“Kami sampaikan, benar telah terjadi PHK sekitar 350 karyawan di PT Xacti Indonesia yang berada di Depok, Jawa Barat. Dan, perusahaan tutup total,” kata Said Iqbal secara daring di Jakarta, Senin (25/5/2026).
Selanjutnya, Said Iqbal membeberkan alasan tutupnya PT Xacti Indonesia. Dampak geopolitik di Timur Tengah memicu mahalnya harga bahan baku. Selain itu, ambruknya mata uang rupiah, semakin menekan biaya operasional perusahaan.
“Karena ketidakpastian kapan berakhirnya perang Iran dengan AS dan Israel. Dampak ekonominya luar biasa. Harga bahan baku dan energi naik. Sehingga ongkos produksi melonjak,” terangnya.
Said Iqbal mengatakan, kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), membuat beban perusahaan bertambah. Akhirnya diterapkan langkah efisiensi bahan bakar. Asal tahu saja, industri PMA asal Jepang itu, menggunakan BBM nonsubsidi untuk mengoperasikan mesin produksinya.
“Tapi kalau dalam kasus Xacti Indonesia, bukan lagi efisiensi, benar ditutup perusahaannya, karena sudah tidak mampu bersaing. Apalagi Xacti Indonesia kan juga ada produknya diekspor ya, produk kameranya. Saat ini pasar global lagi lesu, ya karena perang kan, nah itulah faktor penyebab utama,” terangnya.
Selain karena harga BBM yang berimbas ke naiknya ongkos produksi dan kalah saing, penyebab lain tutupnya pabrik Xacti Indonesia juga berkaitan dengan pelemahan rupiah.
“Perusahaan juga terdampak dari pelemahan rupiah, karena bahan baku impor kan, membelinya pakai dolar, jadi meningkat ongkos produksinya, karena transaksi mereka di Indonesia kan dalam bentuk rupiah,” jelasnya.
Said Iqbal mengaku menerima informasi PHK Xacti Indonesia berdasarkan laporan dari anggota serikat pekerja. Dan, mereka telah diberikan peringatan untuk bersiap-siap.
“Ini bukan mengarang-ngarang, tidak ada, kami kan langsung dari anggota di bawah, yang biasanya diberitahu dulu, diberi early warning lah oleh perusahaan, pemberitahuan lebih awal oleh perusahaan,” tegas Said Iqbal.
Sebelumnya, Xacti Indonesia berada di bawah bendera Grup Sanyo asal Jepang yang memiliki sejumlah lini bisnis di Indonesia sejak 1970.
Seiring perubahan bisnis dan kepemilikan Sanyo di negeri Matahari Terbit pada 2013, pabrik tersebut berganti nama menjadi PT Xacti Indonesia sejak 2014.
Secara keseluruhan, aktivitas produksi Xacti Indonesia di Tanah Air berlangsung sekitar 20 tahun, yang menghasilkan produk jadi seperti kamera digital, perekam gambar, dan peralatan elektronik lainnya.
Sebelum diberitakan tutup pada Mei 2026, operasional PT Xacti Indonesia dipimpin oleh Head of Production Division Xacti Corporation yang merangkap Presiden PXI, yakni Yoshikiyo Morikawa.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.













