Sabalenka Pimpin Petenis Top Dunia Ancam Boikot Grand Slam Roland Garros

Ivan Medium.jpeg

Kamis, 7 Mei 2026 – 18:29 WIB

Aryna Sabalenka memukul bola tenis dalam pertandingan Roland Garros atau French Open 2023. (Foto: Instagram @arynasabalenka)

Aryna Sabalenka memukul bola tenis dalam pertandingan Roland Garros atau French Open 2023. (Foto: Instagram @arynasabalenka)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Sejumlah petenis top ATP dan WTA dikabarkan kecewa dengan keputusan penyelenggara turnamen grand slam French Open. Pasalnya, panitia hanya menaikkan total hadia sebesar 9,5 persen tahun ini.

Petenis putri nomor satu dunia, Aryna Sabalenka jadi salah satu yang paling vokal. Dia bahkan menyebut opsi boikot sebagai kemungkinan nyata.

“Saya merasa itu (boikot) satu-satunya cara untuk memperjuangkan hak-hak kami,” kata Sabalenka jelang turnamen Italian Open dikutip dari BBC.

“Saya merasa pertunjukan ini bergantung pada kami. Saya merasa tanpa kami, tidak akan ada turnamen dan tidak akan ada hiburan seperti ini.”

Pernyataan Sabalenka mendapat dukungan dari Coco Gauff. Menurutnya, semakin banyak pemain yang memiliki pandangan serupa, termasuk juara Australian Open, Elena Rybakina.

“Jika semua bergerak bersama, saya bisa melihat itu terjadi 100 persen,” ujar Gauff.

Roland Garros -nama populer French Open- yang digelar 18 Mei–7 Juni tahun ini memang menaikkan total hadiah menjadi EUR 61,7 juta atau sekitar Rp 1,2 triliun, naik 9,5 persen. Akan tetapi, angka tersebut hanya menyumbang sekitar 15 persen dari total pendapatan turnamen.

Kritik Grand Slam

Selain isu hadiah, para pemain juga menuntut perbaikan dalam hal representasi, fasilitas kesehatan, hingga jaminan pensiun dari empat turnamen Grand Slam utama.

Empat ajang tersebut meliputi Australian Open, French Open, Wimbledon, dan US Open.

Dalam pernyataan bersama, para pemain menilai pengelolaan Grand Slam tertinggal dibanding olahraga global lain yang mulai mengedepankan transparansi dan kesejahteraan atlet.

“Mekanisme saat ini belum mencerminkan kepentingan pemain yang menjadi pusat kesuksesan olahraga ini,” tulis pernyataan tersebut.

Sebelumnya, kelompok pemain ini juga telah mengirim surat resmi kepada penyelenggara Grand Slam untuk meminta peningkatan hadiah serta keterlibatan dalam pengambilan keputusan penting.

Namun tidak semua pemain sepakat dengan wacana aksi ekstrem tersebut, karena Iga Swiatek menilai komunikasi masih menjadi solusi yang lebih ideal dibanding boikot.

Di sisi lain, Sabalenka juga menyoroti padatnya jadwal kompetisi WTA yang ia sebut “tidak masuk akal”, bahkan sempat mempertimbangkan absen dari beberapa turnamen.

Situasi ini menandai babak baru ketegangan antara pemain dan otoritas tenis global, yang berpotensi mengubah lanskap kompetisi jika konflik tidak segera diselesaikan.

Google

Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang