Bukan hanya penurunan nilai, akar masalah anjloknya royalti musik dangdut yang disorot Rhoma Irama ternyata adalah penolakan distribusi oleh Lembaga Manajemen Kolektif Anugerah Royalti Dangdut Indonesia (ARDI). Komisioner LMKN M. Noor Korompot menegaskan hal itu dalam keterangan resmi di Jakarta, Sabtu (11/4).
Penolakan ARDI tertuang dalam surat resmi bernomor Spm/005/ARDI/XII/2025 tertanggal 15 Desember 2025. ARDI meminta LMKN menyertakan data rinci yang sudah divalidasi beserta skema perhitungan royalti sebelum distribusi dilakukan ke anggota.
ARDI Tolak Distribusi, Dana Menggantung
ARDI menyepakati agar royalti periode Januari–Juni 2025 yang ditolak diakumulasikan ke distribusi berikutnya, dengan syarat data valid dan skema yang transparan. LMKN menerima penolakan itu lewat surat balasan tertanggal 16 Desember 2025.
LMKN kemudian meminta ARDI memperbarui data karya dan anggota paling lambat 1 Februari 2026. Data tersebut baru diserahkan pada 2 Maret 2026 — mundur sebulan dari tenggat.
LMKN Klaim Sistem Sudah Sesuai Prosedur
LMKN menegaskan distribusi royalti sudah melalui proses verifikasi dan validasi, serta dihitung menggunakan sistem Digital Information Song (DIS). Formulasi pembagian royalti periode 2025 juga sudah ditetapkan lewat Surat Keputusan resmi.
Sebelumnya LMKN sudah menyalurkan royalti kategori non-logsheet periode Januari–Juni 2025 senilai lebih dari Rp2,3 miliar kepada LMK Royalti Anugrah Indonesia (RAI) pada 6 November 2025. Penyaluran itu dihadiri langsung Rhoma Irama selaku pendiri RAI.
Pasar Dangdut Diklaim Belum Terpetakan
ARDI juga mengusulkan penambahan sumber data royalti, termasuk bar, kafe dangdut, radio dangdut, dan panggung hajatan. Usulan ini dinilai krusial karena sebagian besar pasar musik dangdut justru berputar di sektor tersebut — yang selama ini belum masuk dalam perhitungan.
Noor menyebut ada kenaikan nilai royalti pedangdut pada distribusi mendatang dan berencana membuka dialog konstruktif dengan ARDI. Ia juga meminta semua pihak klarifikasi langsung ke LMKN sebelum berbicara ke publik.
Sebelumnya Rhoma Irama mengungkap royalti yang diterima ARDI anjlok drastis dari miliaran rupiah menjadi hanya sekitar Rp25 juta, padahal jumlah anggota ARDI mencapai sekitar 300 orang.













