Riset Celios: Banjir Bandang dan Longsor Sumatra Picu Kerugian Ekonomi Rp68,67 Triliun

Iwan Medium.jpeg

Sabtu, 6 Desember 2025 – 01:09 WIB

Sejumlah bangunan rusak pascabanjir bandang di Aceh Tamiang, Aceh, Kamis (4/12/2025). (Foto: Antara)

Sejumlah bangunan rusak pascabanjir bandang di Aceh Tamiang, Aceh, Kamis (4/12/2025). (Foto: Antara)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Banjir yang mendera 3 provinsi yakni Sumatra Utara (Sumut), Sumatra Barat (Sumbar) dan Aceh. menyisakan duka yang mendalam. Ada yang kehilangan orang tua, sanak saudara ataupun karib. Harta benda bahkan pekerjaan pun hilang semua. 

Berdasarkan riset sebuat lembaga think tank bidang ekonomi, Celios (Center of Economic and Law Studies), mencoba mengitung kerugian ekonomi yang ditimbulkan dari banjir bandang serta tanak longsor di Pulau Sumatra. Angkanya mencapai Rp68,67 triliun secara nasional.

Berdasarkan hasil pemodelan yang dilakukan Celios, dikutip Jumat (5/12/2025), menggunakan data per 30 November 2025, kerugian fantastis mencapai Rp68,67 triliun tersebut, setara 0,29 persen penurunan Produk Domestik Bruto (PDB) nasional.

Kerugian materi (langsung) akibat bencana ini diperkirakan mencapai Rp 2,2 triliun di tiga provinsi yang paling terdampak luas, yaitu Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatra Barat. Kerugian ini terbagi ke dalam tiga sektor utama, yakni: konstruksi, perdagangan besar dan eceran, serta pertanian tanaman pangan.

Secara regional, bencana ini diperkirakan menyebabkan ekonomi Aceh menyusut sekitar 0,88 persen atau setara Rp 2,04 triliun.

Di mana, kerugian ekonomi Rp68,67 triliun itu, merupakan hasil perhitungan yang mencakup lima jenis kerugian utama.

Pertama, kerugian rumah: asumsi kerugian mencapai Rp30 juta per rumah. Kedua, kerugian jembatan: asumsi biaya pembangunan kembali jembatan Rp1 miliar. Ketiga, kerugian pendapatan keluarga: dihitung berdasarkan pendapatan rata-rata harian yang hilang selama 20 hari kerja.

Keempat, kerugian lahan sawah: diperkirakan kehilangan Rp6.500 per kilogram kg dengan asumsi 7 ton hasil per hektare (ha). Kelima, biaya perbaikan jalan: asumsi mencapai Rp100 juta per 1.000 meter.

Data per 30 November 2025, mencatat total kerugian fisik yang cukup luas. Meliputi, sebanyak 61.518 rumah rusak atau terdampak, 18 jembatan hancur, dan 14.600 meter jalan rusak. Selain itu, bencana ini menimpa 96.110 keluarga (KK) dengan total 220.309 jiwa terdampak, serta merusak 1.495 hektare sawah.

Topik
Komentar