Ramadan: Momentum Membumikan Alquran dan Membudayakan Literasi

Bacalah (Q.S. Al-Alaq: 1–5). Ayat pertama yang diturunkan sekaligus menjadi perintah pertama yang mesti dilakukan oleh umat Islam. Ayat ini juga menjadi proklamasi kenabian Muhammad saw.

Perintah membaca dalam lima ayat pertama surah Al-Alaq diulang hingga dua kali, yakni pada ayat pertama dan ketiga. Perintah membaca juga mendahului perintah ibadah lainnya, seperti shalat, puasa, zakat, haji, dan sebagainya. Hal ini menandakan betapa pentingnya persoalan membaca bagi umat Islam.

Perintah membaca dalam ayat ini memiliki makna yang luas. Tidak hanya membaca teks, tetapi juga membaca konteks. Hal ini dapat dilihat dari asbabun nuzul ayat tersebut. Ketika Malaikat Jibril datang membawa wahyu dan mengatakan Iqra’, ia tidak membawa teks tertulis. Pada saat yang sama Rasulullah dikenal sebagai seorang yang ummi (tidak pandai membaca dan menulis).

Keumuman makna membaca ini memberi hikmah tersendiri bahwa Allah Swt. tidak membatasi bacaan yang mesti dibaca oleh hamba-Nya, baik membaca ayat-ayat tersurat (ayat qauliyah) maupun ayat-ayat tersirat (ayat kauniyah).

Dalam tafsir Al-Misbah karya Quraish Shihab disebutkan bahwa kegiatan membaca dalam ayat pertama surah Al-Alaq adalah kegiatan membaca yang tidak harus membutuhkan teks dan tidak pula harus terdengar oleh orang lain. Itulah mengapa makna “membaca” dalam ayat ini sangat luas.

Pendapat senada dikemukakan oleh Achmad Baiquni dalam bukunya Islam dan Ilmu Pengetahuan Modern. Ia mengatakan bahwa objek yang dibaca sangat luas, bisa berupa ayat Allah Swt. yang tertulis dalam Alquran maupun kejadian di alam semesta serta yang ada pada diri manusia.

Namun meskipun objek bacaan tidak dibatasi, tetap ada penekanan Allah Swt. dalam hal membaca. Hal ini dapat dilihat dari ayat pertama yang berbunyi: “Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan.” Artinya, dalam membaca harus selalu menyertakan nama Tuhan. Membaca bertujuan semata-mata karena Allah, dan ilmu serta pengetahuan yang didapatkan dari membaca tidak digunakan untuk aktivitas yang dilarang oleh Allah Swt. Membaca karena dan untuk Allah Swt.

Manfaat Membaca

Setidaknya ada tiga manfaat besar dari membaca.

Pertama, memperkuat keimanan dan ketakwaan. Dengan membaca teks Alquran akan didapati betapa Alquran memiliki keindahan bahasa dan kedalaman makna yang luar biasa, serta tidak menimbulkan rasa bosan untuk membacanya. Keindahan bahasa dan kedalaman makna Alquran hingga saat ini tidak ada karya manusia yang mampu menandinginya.

Bahkan Alquran sendiri memberi tantangan kepada siapa saja untuk membuat satu surah saja yang mampu menandingi Alquran. Faktanya, hingga saat ini tidak ada manusia yang mampu menjawab tantangan tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa Alquran benar-benar merupakan firman Allah Swt. Pembacaan semacam ini tentu akan semakin meningkatkan keimanan dan ketakwaan seorang hamba.

Begitu pula ketika membaca atau mengamati manusia dan alam semesta. Pengamatan terhadap jagat raya yang begitu kompleks dan teratur menjadi bukti bahwa alam semesta ini diciptakan oleh Zat Yang Maha Besar. Sangat mustahil alam semesta tercipta secara kebetulan.

Kedua, menambah kemampuan intelektual. Dengan membaca, pikiran akan semakin kuat dan kecerdasan semakin terasah. Melalui membaca seseorang dapat mengetahui banyak hal dan menambah wawasan. Melansir The Brain Possible, kebiasaan membaca buku dapat meningkatkan daya ingat seseorang.

Ketiga, menuntun perbuatan manusia agar sesuai dengan syariah atau ajaran Islam. Islam adalah agama dalil. Karena itu setiap ibadah yang dilaksanakan harus didukung oleh dalil yang kuat. Ibadah tanpa dalil disebut sebagai bid’ah, yaitu penyimpangan dalam praktik keagamaan.

Melalui membaca, seorang hamba dapat mengetahui dalil-dalil dari setiap ibadah yang dilakukan. Dengan membaca pula seseorang dapat memahami hukum dari setiap aktivitas, apakah termasuk wajib, sunnah, mubah, makruh, ataupun haram.

Membudayakan Literasi

Bulan Ramadhan dikenal juga sebagai syahrul Qur’an, yaitu bulan diturunkannya Alquran. Pada bulan inilah Alquran pertama kali diturunkan ke bumi, dengan surah Al-Alaq ayat 1–5 sebagai wahyu pertama. Karena itu, Ramadhan sering pula disebut sebagai bulan literasi atau bulan pendidikan.

Ramadhan merupakan momentum yang sangat strategis untuk kembali membumikan isi Alquran dan membudayakan aktivitas literasi, seperti membaca dan menulis.

Selama ini kita dapat menyaksikan meningkatnya animo masyarakat membaca Alquran pada bulan Ramadhan. Hal ini tentu sangat positif. Namun yang menjadi kekurangannya adalah kebiasaan tersebut sering tidak berlanjut pada bulan-bulan setelah Ramadhan. Setelah Ramadhan selesai, aktivitas membaca Alquran pun ikut berkurang.

Selain itu, bacaan yang dikonsumsi sering kali hanya terbatas pada Alquran. Buku-buku pengetahuan umum lainnya masih jarang dilirik, padahal perintah membaca dalam Islam bersifat umum dan luas.

Jika kita menengok sejarah, umat Islam pada masa lalu dikenal sebagai generasi yang sangat gemar membaca. Tidak mengherankan jika pada masa keemasan Islam lahir banyak tokoh agamawan yang sekaligus ilmuwan besar. Bahkan banyak dari mereka menguasai berbagai bidang ilmu sekaligus (polymath).

Contohnya Ibnu Sina, Al-Biruni, Ibnu Rusyd, Al-Jazari, Al-Khawarizmi, dan banyak tokoh lainnya.

Pekerjaan rumah umat Islam saat ini adalah mengembalikan salah satu fungsi bulan Ramadhan sebagai bulan literasi. Jika hal ini mampu direalisasikan, maka kita akan kembali melihat lahirnya generasi Islam yang memberikan sumbangsih besar bagi umat manusia.

Dengan demikian Islam benar-benar hadir sebagai agama rahmatan lil ‘alamin. Semoga.