Potret Kerajaan Batu Bara Low Tuck Kwong yang Bakal Diakuisisi Haji Isam

Iwan Medium.jpeg

Selasa, 18 Agustus 2026 – 07:09 WIB

Andi Syamsuddin Arsyad atau yang akrab disapa Haji Isam selaku pemilik Jhonlin Group, didampingi Dato’ Low Tuck Kwong selaku pemegang saham pengendali PT Bayan Resources Tbk, serta Norman Joesoef selaku pemilik Republik Korpora Indonesia (RKI) atau Republikorp saat melalukan peninjauan lapangan bersama di area operasional tambang perseroan di Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, Sabtu (15/8/2026). (Foto: Inilah.com)

Andi Syamsuddin Arsyad atau yang akrab disapa Haji Isam selaku pemilik Jhonlin Group, didampingi Dato’ Low Tuck Kwong selaku pemegang saham pengendali PT Bayan Resources Tbk, serta Norman Joesoef selaku pemilik Republik Korpora Indonesia (RKI) atau Republikorp saat melalukan peninjauan lapangan bersama di area operasional tambang perseroan di Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, Sabtu (15/8/2026). (Foto: Inilah.com)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Pengusaha nasional Andi Syamsuddin Arsyad yang akrab disapa Haji Isam terus menapak jalur sukses di sektor energi.

Dia tertarik untuk mengakuisisi 62,2 persen saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN), perusahaan batu bara kakap milik Dato’ Low Tuck Kwong.

Bisa jadi, bukan kebetulan kalau Haji Isam kepincut menggenggam saham BYAN. Maklumlah, dia adalah pengusaha yang besar dari batu bara.

Tentu ada alasan ekonomi yang mendorongnya mengakuisisi perusahaan tambang yang didirikan Low Tuck Kwong pada 2004 itu.

Lalu seperti apa potret kerajaan batu bara BYAN yang sebenarnya? Apakah secara ekonomi, tambang ini masih menguntungkan?

Masuk Deretan Orang Terkaya

Menceritakan sukses bisnis Low Tuck Kwong tentunya tak bisa dipisahkan dengan PT Bayan Resources Tbk (BYAN), perusahaan batu bara yang memiliki nilai kapitalisasi terbesar di sektornya.

Hingga Mei 2026, data Stockbit mencatat, nilai kapitalisasi pasar dari mesin uang raja batu bara itu, mencapai Rp333 triliun. Atau tertinggi di antara 91 perusahaan energi yang melantai di pasar saham Indonesia.

Sehingga wajar jika nama Low Tuck Kwong rajin bertengger di daftar orang terkaya di Indonesia versi Majalah Forbes.

Low Tuck Kwong dengan bayi orangutan yang lahir di kebun binatang pribadinya di Tabang (Foto: Forbes).

Berdasarkan Forbes Billionaires List yang terbit awal Agustus 2026, kekayaannya mencapai 16,8 miliar dolar AS, atau sekitar Rp302 triliun. Menempatkan Low Tuck Kwong sebagai orang terkaya di Indonesia, mengalahkan Prajogo Pangestu atau Keluarga Djarum. Serta menjadi orang terkaya nomor 168 di dunia.

Jadi, kekayaan pria kelahiran Singapura pada 17 April 1948, dan resmi menjadi WNI (Warga Negara Indonesia) pada 1992 itu, tidak kaleng-kaleng. Jumlahnya bukan puluhan tapi ratusan triliun.

Nah, tingginya kapitalisasi pasar BYAN, mengalahkan sejumlah perusahaan batu bara papan atas lainnya. Misalnya, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) milik Sinarmas Group atau PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) milik Boy Thohir.

Jejak Bisnis Low Tuck Kwong

Pendirian BYAN bermula saat Low Tuck Kwong mengakuisisi PT Gunung Bayan Pratamacoal (GBP), tambang batu bara di Muara Tae, Kalimantan Timur, pada November 1997.

Sebelumnya, dia sudah memiliki beberapa perusahaan yakni PT Jaya Sumpiles Indonesia (JSI) yang didirikan 1973. Bisnisnya sektor konstruksi tanah, pekerjaan umum, dan struktur kelautan.

Era 1980-1990, JSI mengalami masa jaya sebagai perusahaan kontraktor. Pada 1988, JSI masuk sektor batu bara dan menjadi kontraktor terkemuka pada 1998.

Pengusaha Low Tuck Kwong berjuluk raja batu bara Indonesia. (Foto: Forbes)

Setelah GBP, Low Tuck Kwong mencaplok PT Dermaga Perkasapratama pada 1998 yang mengoperasikan Balikpapan Coal Terminal yang berkapasitas 2,5 juta metrik ton per tahun.

Selanjutnya pada 2004, Low Tuck Kwong mendirikan PT Bayan Resources, untuk menaungi semua bisnis batu baranya di Indonesia. Perusahaan ini dibentuk melalui sejumlah akuisisi strategis di sektor batu bara.

Sejak 2014, Bayan Resources yang mengelola tambang batu bara Tabang berhasil menggenjot produksi batu bara. Dari hanya 1,9 juta ton, menjadi 22,7 juta ton pada 2018.

Atas capaian ini, Bayan Resources berhasil menjadi produsen batu bara peringkat lima teratas. Alhasil, cuan jumbo yang masuk kantong dijadikan modal untuk mengakuisisi beberapa tambang batu bara.

Pelan namun pasti, gurita bisnis Bayan Group melebar dan menguat. Sejumlah infrastruktur batu bara terus dibangun dan membuat bisnisnya semakin besar.

Pada 12 Agustus 2008, Low Tuck Kwong mencatatkan PT Bayan Resources Tbk yang berkode saham BYAN, ke lantai bursa.

Saat penawaran saham perdana atau Initial Public Offering (IPO), saham BYAN ditawarkan dengan harga Rp5.800 per lembar. Dana yang diperoleh dari IPO, tembus Rp4,83 triliun.

Sedangkan pada perdagangan Senin (17/8/2026), harga saham BYAN menyentuh level Rp14.400/saham. Atau naik 20 persen setara Rp2.400 per saham.

Hibahkan 22 Persen Saham BYAN ke Putrinya

Sekitar 16 tahun setelah IPO, tepatnya pada 28 Agustus 2024, Low Tuck Kwong menghibahkan 22 persen saham BYAN ke putri kesayangan yang bernama Elaine Low.

Tampilan Elaine Low, anak kedua dari Low Tuck Kwong (Foto: lifestylesmagazine).

Saham yang dialihkan sebanyak 7.333.333.700 lembar, nilainya pada saat itu mencapai US$6,6 miliar.

Atas transaksi tersebut, maka kepemilikan saham Low Tuck Kwong di BYAN berubah dari 20.716.816.570 lembar, menjadi 13.383.482.870 saham. Atau susut dari 62,15045 persen, menjadi tersisa 40,15045 persen. Masih besar.

Asal tahu saja, Elaine Low merupakan anak bungsu dari Low Tuck Kwong dan istrinya, May Lee Fan. Meski berasal dari keluarga kaya raya, Elaine Low jarang tampil di depan publik dan informasinya pun cukup terbatas.

Kini, Elaine aktif mengelola berbagai bisnis keluarga, terutama setelah menerima hibah saham dari sang ayah. Dia adalah lulusan Magister Kebijakan Publik dari Lee Kuan Yew School of Public Policy, National University of Singapore, pada tahun 2014.

Dengan latar belakang ini, Elaine dipercaya menangani bisnis keluarga di bidang kesehatan dan gaya hidup. Saat ini, dia memimpin The Farrer Park Company, perusahaan yang mengelola dua institusi bergengsi. Yakni, Farrer Park Hospital: rumah sakit modern dengan fokus pada layanan medis premium, teknologi tinggi, dan pengobatan terpadu.

Serta, One Farrer Hotel, yaitu hotel bintang lima yang menjadi bagian dari ekosistem gaya hidup dan layanan kesehatan terpadu. Bisnis lainnya, Elaine menjabat sebagai Direktur Seax, penyedia infrastruktur jaringan kabel bawah laut yang beroperasi di Asia Tenggara.

Kinerja Keuangan BYAN

Di paruh pertama 2026, kinerja keuangan BYAN mencatatkan capaian yang masih oke. Meski dari sisi kewajiban perusahaan atau liabilitas mengalami kenaikan yang cukup signifikan.

Tambang Tabang/Pakar adalah tambang batu bara terbesar milik PT Bayan Resources Tbk (BYAN), berada di Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur (Kaltim). (Foto: Dok. BYAN).

Laba bersih perseroan, menembus US$416,56 juta, setara Rp7,3 triliun (kurs Rp17.500/US$). Atau naik 16,8 persen dibanding laba bersih pada semester I-2025 yang tercatat US$349,24 juta (Rp6,1 triliun).

Kenaikan laba bersih BYAN didorong peningkatan pendapatan dari penjualan batu bara sebesar US$1,74 miliar (Rp30,45 triliun). 
Atau naik 7,29 persen ketimbang periode yang sama di tahun lalu, sebesar US$1,62 miliar (Rp28,35 triliun).

Untuk laba kotor (bruto) perseroan di semester I-2026, menembus 
US$615,58 juta (Rp10,8 triliun). Tumbuh 16,9 persen ketimbang laba bruto di akhir Desember 2025, sebesar US$526,30 juta (Rp9,2 triliun).

Sedangkan total aset BYAN tercatat US$3,78 miliar (Rp66,15 triliun) per 30 Juni 2026. Naik 12 persen dibandingkan akhir Desember 2025 yang mencapai US$3,37 miliar (Rp59 triliun).

Namun sisi liabilitas atau kewajiban perusahaan  termasuk utang, mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Pada semester I-2026, liabilitas BYAN mencapai US$1,19 miliar (Rp20,8 triliun).

Atau naik 75 persen ketimbang liabilitas di akhir Desember 2025 yang hanya US$680,46 juta (Rp11,9 triliun). Kenaikan liabilitas per Juni 2026 itu, disebabkan karena utang dividen US$500 juta yang telah dibayarkan pada Juni 2026.

Google

Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang