Post Holiday Blues Muncul Usai Mudik, Ini Cara Mengatasinya

Mia Medium.jpeg

Kamis, 26 Maret 2026 – 15:47 WIB

Ilustrasi seseorang tidak bersemangat dalam menjalankan aktivitas harian. (Dokumentasi: Istockphoto)

Ilustrasi seseorang tidak bersemangat dalam menjalankan aktivitas harian. (Dokumentasi: Istockphoto)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Kementerian Kesehatan mengingatkan fenomena mudik Lebaran bukan sekadar mobilitas tahunan, melainkan ritual sosial yang sarat makna.

Setelah mudik, biasanya berpotensi memicu masalah kesehatan mental usai liburan atau post holiday blues.

Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes, Imran Pambudi, mengatakan banyak masyarakat mengalami gejala seperti sedih, lelah, cemas, kehilangan motivasi, hingga sulit berkonsentrasi setelah kembali dari mudik.

“Survei World Travel and Tourism Council tahun 2023 mencatat 41 persen pemudik Indonesia mengalami gejala kecemasan dan depresi ringan hingga sedang,” ujarnya di Jakarta, Kamis (26/03/20026). 

Menurut Imran, kondisi ini dipicu berbagai faktor, mulai dari kelelahan perjalanan panjang, tekanan finansial, hingga ekspektasi sosial untuk tampil “sukses” saat pulang kampung.

Dampaknya pun tidak kecil, dari turunnya produktivitas kerja hingga meningkatnya risiko gangguan mental yang lebih serius.

Ia menekankan, fenomena ini kerap tidak tertangani dengan baik karena stigma serta keterbatasan akses layanan kesehatan mental di Indonesia.

Kemenkes pun membagikan sejumlah langkah sederhana untuk mengatasi post holiday blues.

Salah satunya dengan melakukan transisi bertahap sebelum kembali bekerja, seperti mengambil waktu satu hingga dua hari untuk menata ulang rutinitas.

Selain itu, menjaga pola hidup sehat menjadi kunci penting. Tidur cukup, makan seimbang, dan olahraga ringan dapat membantu tubuh dan pikiran kembali stabil.

Menjaga koneksi sosial juga dianjurkan, misalnya dengan tetap berkomunikasi bersama keluarga atau sahabat. 

Sebaliknya, paparan media sosial perlu dibatasi agar tidak memicu perasaan negatif akibat perbandingan dengan orang lain.

“Jika gejala berlangsung lebih dari dua minggu atau mulai mengganggu aktivitas, segera konsultasi ke psikolog atau psikiater,” kata Imran.

Ia menambahkan, saat ini layanan kesehatan mental semakin mudah diakses, termasuk secara daring.

Lebaran 2026 sendiri diprediksi menjadi salah satu arus mudik terbesar dalam sejarah Indonesia, dengan lebih dari 120 juta perjalanan. 

Lonjakan mobilitas ini dinilai turut meningkatkan potensi tekanan psikologis saat kembali ke rutinitas.

Imran menegaskan, post holiday blues merupakan fenomena global yang juga terjadi di berbagai negara seperti Amerika Serikat, Inggris, Australia, dan Kanada, terutama setelah libur panjang akhir tahun.

Di Indonesia, kelompok rentan seperti remaja, perantau, perempuan, dan lansia dinilai lebih berisiko mengalami dampak psikologis pascaliburan, akibat tekanan sosial, kesepian, hingga beban ekonomi.

Post holiday blues bukan kelemahan, melainkan hal yang manusiawi. Dengan dukungan sosial, kesadaran diri, dan penanganan yang tepat, kondisi ini bisa diatasi,” ujarnya.

Kemenkes berharap masyarakat dapat lebih peka terhadap kesehatan mental, sehingga momen Lebaran tidak hanya mempererat silaturahmi, tetapi juga menjadi awal membangun ketahanan psikologis yang lebih kuat.

Google

Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang