Pemerintah Waspadai La Nina Awal 2026 Ancam Inflasi Pangan RI

Perekonomian nasional menghadapi tantangan serius di awal 2026. Bukan hanya tekanan pasar global, kini faktor alam pun ikut membayangi. Pemerintah secara resmi memperingatkan adanya risiko fenomena La Nina yang diprediksi berlangsung hingga Maret 2026.

Momok iklim global ini membawa serta ancaman nyata bagi stabilitas pangan dan harga di Tanah Air. La Nina, yang ditandai dengan penurunan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik, secara umum memicu peningkatan curah hujan yang signifikan di Indonesia.

Konsekuensi paling fatal dari curah hujan berlebihan ini adalah penurunan produksi pertanian dan penekanan drastis pada pasokan sejumlah komoditas pangan esensial.

Ancaman La Nina ini berpotensi membuat inflasi di Tanah Air melonjak. Skenario ini makin diperparah karena periode La Nina bertepatan dengan momen puncak inflasi musiman: Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri yang jatuh pada 19-20 Maret 2026. Permintaan yang tinggi beradu dengan pasokan yang terganggu menciptakan perfect storm inflasi.

Strategi Antisipasi: KUR dan KAD Diperluas

Pemerintah bergerak cepat mengantisipasi dampak buruk tersebut. Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan dan Pengembangan Usaha BUMN Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Ferry Irawan, memaparkan strategi yang dibahas dalam Rapat Koordinasi Pusat dan Daerah (Rakorpusda) Pengendalian Inflasi 2025.

“Langkah antisipatif dilakukan melalui perluasan pembiayaan produktif bagi petani dan pelaku usaha pangan,” ujar Ferry Irawan, dikutip Sabtu (13/12/2025).

Salah satu fokus utama adalah optimalisasi program kredit, termasuk Kredit Usaha Rakyat (KUR) Pertanian, untuk memastikan petani memiliki modal yang cukup di tengah tantangan cuaca.

Selain itu, pemerintah juga mendorong perluasan Kerjasama Antar Daerah (KAD). KAD menjadi solusi vital untuk memastikan pasokan dari wilayah surplus (kelebihan produksi) dapat mengalir lancar dan cepat ke wilayah defisit. Langkah ini bertujuan memotong jalur distribusi yang panjang dan memitigasi risiko lonjakan harga di tingkat konsumen.

Ferry juga menekankan peran BUMN Logistik yang terus dioptimalkan. BUMN Logistik bertugas memperkuat efisiensi rantai pasok nasional dan menjaga stabilitas harga agar tidak terjadi spekulasi berlebihan di pasaran.

Curah Hujan Tinggi Tetap Diwaspadai

Meskipun La Nina menjadi sorotan, Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Teuku Faisal Fathani, memberikan catatan penting. Ia menjelaskan bahwa fenomena La Nina lemah memang sedang berlangsung dan diprediksi bertahan hingga Maret 2026.

Namun, dampaknya terhadap penambahan curah hujan saat puncak musim hujan nanti dinilai tidak terlalu signifikan.

“La Nina lemah akan bertahan hingga awal tahun 2026, namun pada puncak musim hujan dampaknya terhadap penambahan curah hujan tidak terlalu signifikan,” kata Teuku Faisal.

Meski demikian, dia tetap memperingatkan: “Curah hujan tinggi pada periode tersebut tetap perlu diwaspadai.”

Peringatan ini menegaskan bahwa sekalipun dampak La Nina lemah, risiko banjir, gagal panen, dan gangguan pasokan akibat hujan deras tetap menjadi ancaman serius bagi ketahanan pangan dan kestabilan inflasi nasional di awal tahun mendatang.