Kepala Kantor Staf Kepresidenan (KSP) Dudung Abdurachman (kiri) serta Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan (Imipas) Agus Andrianto (tiga dari kiri) memerhatikan udang vaname yang baru dipanen dari kolam di kawasan tambak Bantar Panjang, Pulau Nusakambangan, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, Selasa (28/7/2026). (Foto: ANTARA/Sumarwoto).
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Dulu, bulu kuduk bisa berdiri ketika mendengar nama Nusakambangan disebut. Karena identik dengan penjara seram. Penghuninya adalah penjahat nomor wahid di negeri ini. Tapi itu dulu, kini, semuanya telah berubah.
Kepala Kantor Staf Kepresidenan (KSP) Dudung Abdurachman bersama Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan (Imipas), Agus Andrianto panen udang Vaname yang dibudidayakan di kawasan tambak Bantar Panjang, Pulau Nusakambangan, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah.
Usai panen di kawasan tambak Bantar Panjang, Selasa (28/7/2026), Dudung mengapresiasi pengembangan tambak udang yang dinilai memiliki nilai ekonomi tinggi sekaligus mendukung pembinaan warga binaan dan ketahanan pangan nasional. “Satu kolam bisa 12 ton dan ini ada 20 kolam ya. Luar biasa dan ini bisa diekspor, luar biasa,” katanya.
Dari berbagai program yang dijalankan Kementerian Imipas di Nusakambangan, kata Dudung, budidaya udang menjadi sektor yang paling menarik perhatian. Karena produktivitasnya mencapai 35 ton per hektare.
“Terbayangkan berarti berapa miliar, itu baru satu hektare. Tadi baru 50 hektare (termasuk di Pasir Putih) dan ada rencana pengembangan lagi 150 hektare. Kacamata saya adalah bagaimana kita bisa mengembangkan ini,” kata Dudung.
Dalam kesempatan terpisah, penanggung jawab kawasan tambak udang Bantar Panjang, Ahmad Khofi Asalafi mengatakan, pihaknya menangani seluruh aspek teknis budidaya, mulai dari persiapan tambak hingga panen, sekaligus memberikan pelatihan kepada warga binaan melalui praktik langsung.
“Kami dari awal budidaya sampai panen yang mengelola secara teknis. Warga binaan kami ajari dari nol, mulai pemberian pakan sampai obat-obatan, jadi mereka langsung praktik di lapangan,” katanya menjelaskan.
Ia mengatakan, kawasan tambak memiliki 20 kolam dan baru satu kali panen raya yang dilakukan secara parsial. “Satu siklus budidaya berlangsung sekitar 120 hari dengan produktivitas rata-rata 11-12 ton per kolam. Yang panen hari ini (28/7) merupakan kolam terakhir,” katanya.
Ia mengatakan total produksi udang vaname yang dipanen dari 19 kolam sebelumnya mencapai kisaran 200 ton. Di mana, hasil panen dipasarkan melalui perusahaan pembeli yang kemudian mengolah produk sesuai permintaan pasar ekspor.
“Amerika Serikat menjadi tujuan utama dengan porsi sekitar 60 persen, disusul Jepang, China, dan Uni Eropa,” katanya.
Ia mengatakan harga udang Vaname ukuran panen (size) 22 saat ini sekitar Rp92 ribu per kilogram. Ia mengakui harga udang vaname sempat tertekan akibat kondisi pasar global, namun tren saat ini mulai membaik.
Lebih lanjut, dia mengatakan warga binaan yang mengikuti kegiatan budidaya udang vaname tidak mengalami kendala berarti karena mendapat pendampingan sejak awal. “Mereka semangat belajar dan antusias mengikuti seluruh proses budidaya,” kata Khofi.
Salah seorang warga binaan, Ardi Permana mengaku memperoleh pengalaman baru melalui program tersebut. Sebelumnya ia bekerja di peternakan ayam dan memilih belajar budidaya udang agar memiliki keterampilan tambahan.
Selama masa pemeliharaan udang, dia bertugas memberi pakan dan obat-obatan setiap hari sejak pukul 06.00 WIB hingga sekitar pukul 21.00 WIB.
Dari pekerjaan itu ia memperoleh premi Rp25 ribu per hari yang sebagian ditabung sebagai bekal setelah bebas. “Saya belum punya rencana setelah keluar, tetapi senang bisa mendapat pengalaman dan belajar budidaya udang di sini,” kata warga binaan asal Jambi itu.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.












