Neraca Perdagangan RI Surplus 72 Bulan Berturut-turut

Clara Medium.jpeg

Selasa, 2 Juni 2026 – 14:16 WIB

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartini. (Foto: Inilah.com/Clara Anna)

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartini. (Foto: Inilah.com/Clara Anna)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat surplus neraca perdagangan Indonesia masih berlanjut hingga April 2026 di tengah tekanan geopolitik dan geoekonomi global. BPS melaporkan surplus neraca perdagangan secara kumulatif periode Januari hingga April 2026 sebesar US$5,64 miliar.

Dengan capaian tersebut, neraca perdagangan Indonesia telah mengalami surplus selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS Pudji Ismartini menjelaskan, surplus ini didorong oleh kinerja positif perdagangan komoditas nonmigas yang terus berlanjut, sementara sektor migas masih mencatatkan defisit.

“Hingga bulan April 2026, neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus sebesar US$5,64 miliar. Surplus sepanjang periode Januari-April 2026 ditopang oleh surplus komoditas nonmigas sebesar US$14,16 miliar, sementara komoditas migas masih mengalami defisit sebesar US$8,52 miliar,” ujar Pudji dalam konferensi pers di Gedung BPS RI, Jakarta, Selasa (2/6/2026).

Kinerja Ekspor dan Pasar Utama

Pudji memaparkan, nilai ekspor kumulatif periode Januari-April 2026 mencapai US$92,15 miliar, atau naik 5,48 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Peningkatan ini utamanya didorong oleh sektor industri pengolahan yang mencatatkan pertumbuhan nilai ekspor sebesar 9,78 persen menjadi US$75,57 miliar.

BPS mencatat tiga negara pasar utama ekspor nonmigas Indonesia, yaitu China, Amerika Serikat (AS), dan India. Kontribusi ketiga negara tersebut mencapai 44,52 persen dari total ekspor nonmigas Indonesia pada periode Januari-April 2026.

“China masih menjadi pasar ekspor utama dengan nilai mencapai US$22,76 miliar (25,93 persen), diikuti oleh AS US$10,17 miliar (11,59 persen), dan India US$6,14 miliar (7,00 persen),” tuturnya.

Adapun komoditas dominan ke China meliputi besi dan baja, nikel serta barang daripadanya, dan bahan bakar mineral. Sementara untuk ekspor ke AS didominasi oleh mesin dan perlengkapan elektrik beserta bagiannya, alas kaki, serta pakaian dan aksesorinya.

Dinamika Impor Nasional

Di sisi lain, nilai impor Indonesia secara kumulatif hingga April 2026 tercatat sebesar US$86,51 miliar, atau naik 13,40 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya. Sektor nonmigas menjadi penyumbang utama dengan nilai impor US$73,58 miliar (naik 12,70 persen), sementara impor migas tercatat sebesar US$12,93 miliar (naik 17,58 persen).

Dari sisi penggunaan, terjadi peningkatan impor periode Januari-April 2026 baik pada barang modal, bahan baku/penolong, maupun barang konsumsi. Nilai impor bahan baku/penolong masih mendominasi dengan nilai mencapai US$61,82 miliar atau naik 11,67 persen. Sedangkan, nilai impor barang modal mencapai US$17,11 miliar atau naik 19,02 persen. Adapun impor barang konsumsi tercatat US$7,58 miliar, atau tumbuh 15,68 persen.

Sepanjang periode Januari-April 2026, China menjadi negara utama asal impor nonmigas Indonesia dengan nilai US$30,79 miliar (41,84 persen), diikuti Jepang dengan nilai US$4,15 miliar (5,64 persen), dan Australia US$4,15 miliar (5,64 persen). Kontribusi ketiga negara tersebut mencapai 53,12 persen, atau lebih dari separuh total impor nonmigas Indonesia.

Selanjutnya, surplus perdagangan nonmigas pada Januari-April 2026 sebagian besar masih ditopang oleh lima komoditas utama, yaitu lemak dan minyak hewan/nabati (US$11,71 miliar), bahan bakar mineral (US$8,34 miliar), besi dan baja (US$5,71 miliar), nikel dan barang daripadanya (US$4,26 miliar), serta alas kaki (US$2,14 miliar).
 

Google

Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang