Pelatih Juventus, Luciano Spalletti, tak menyembunyikan kekecewaannya usai rekor tak terkalahkannya terhenti di tangan mantan klubnya, Napoli. Dalam laga lanjutan Serie A yang digelar di Stadio Diego Armando Maradona, Minggu (7/12/2025), Bianconeri harus mengakui keunggulan tuan rumah dengan skor tipis 1-2.
Usai laga, Spalletti secara terbuka menyebut pasukannya tampil pasif dan hanya menjadi “penumpang” dalam permainan yang didikte oleh Napoli. Ini merupakan kekalahan perdana Spalletti sejak mengambil alih kursi kepelatihan dari Igor Tudor, setelah sebelumnya mencatatkan empat kemenangan dan tiga hasil imbang di semua kompetisi.
Mentalitas “Malu-Malu” Juventus
Kepada DAZN Italia, Spalletti menyoroti mentalitas anak asuhnya yang dianggap terlalu takut memegang bola. Hal ini membuat Napoli, yang tampil agresif di kandang sendiri, leluasa mengendalikan permainan.
“Benar, Napoli menekan lebih keras sejak awal. Kami terlalu malu-malu saat mengalirkan bola, lalu kehilangannya dengan cara yang murah. Akibatnya, mereka memaksa kami terus berlari mengejar bola,” ujar Spalletti.
“Mereka (Napoli) dalam kondisi fisik yang prima. Jika Anda tidak bisa menguasai bola, mereka akan membuat Anda berlari ke seluruh penjuru lapangan dengan kekuatan dan kualitas mereka. Jika Anda tidak mengontrol permainan, Anda berakhir hanya menjadi penumpang bagi orang lain yang membuat keputusan untuk Anda,” tambahnya dengan nada tajam.
Eksperimen False 9 yang Macet
Dalam laga tersebut, Spalletti membuat keputusan taktik yang mengejutkan. Di tengah absennya Dusan Vlahovic karena cedera, ia memilih membangkucadangkan dua striker murni, Jonathan David dan Lois Openda. Spalletti justru memasang talenta muda Turki, Kenan Yildiz, dalam peran False 9.
Meski Yildiz berhasil mencetak gol penyama kedudukan, Spalletti mengakui skema tersebut tidak berjalan mulus di lini tengah.
“Saya merasa Yildiz dan Francisco Conceicao bisa menjalankan peran itu karena kemampuan operan mereka. Namun, Manuel Locatelli bermain terlalu ke dalam dan tidak menjaga posisi yang saya inginkan di lini tengah,” jelas pelatih berkepala plontos tersebut.
“Dua penyerang kami kurang mobilitas sehingga kami sering terjebak di tengah. Kami tidak mengalirkan bola dengan cepat atau memanfaatkan keunggulan jumlah pemain di lini tengah,” lanjutnya.
Kelemahan Klasik: Umpan Silang Tiang Jauh
Masuknya Jonathan David di babak kedua sempat memberikan perubahan positif dengan penerapan penjagaan man-to-man, namun Juventus tetap gagal membendung serangan balik cepat Napoli.
Spalletti juga menyoroti kelemahan defensif Juventus yang sudah ada sejak era Igor Tudor, yakni ketidakmampuan mengantisipasi umpan silang ke tiang jauh (back post). Dua gol Napoli yang dicetak Rasmus Hojlund lahir dari skema serangan sayap yang gagal diantisipasi barisan belakang Juve.
“Napoli melakukan blok untuk menciptakan ruang dan kami jatuh ke perangkap itu setiap saat. Kami butuh komunikasi lebih baik. Kami membuat mereka terlalu mudah melepaskan umpan silang,” keluh Spalletti.
Nostalgia Emosional di Naples
Terlepas dari hasil buruk tersebut, kembalinya Spalletti ke Naples tetap menghadirkan momen emosional. Ini adalah kali pertama ia datang sebagai lawan sejak mempersembahkan gelar Scudetto bersejarah bagi Napoli pada 2023.
“Tentu saja, ketika para penggemar menyanyikan lagu-lagu yang saya hafal di luar kepala, itu spektakuler. Sebuah atmosfer yang hanya bisa diberikan oleh Stadio Maradona,” pungkasnya.













