Ilustrasi tradisi meugang. (Foto: Antara).
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Di Aceh, meugang bukan cuma soal daging, melainkan harga diri, kebersamaan, dan penanda bahwa Ramadan sudah di depan mata. Sejak masa Kesultanan Aceh, tradisi ini menghidupkan dapur-dapur, bukan hanya untuk keluarga sendiri tapi juga untuk dibagi.
Tahun ini, suasananya berbeda. Akhir November lalu, banjir bandang dan longsor menghantam sejumlah wilayah. Rumah rusak, sawah terendam, warga mengungsi. Saat kalender mendekati Ramadan 1447 Hijriah, sebagian kampung masih sibuk berbenah. Di tengah pemulihan itu, meugang ikut jadi perhatian pemerintah pusat.
Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian mengungkap rencana Presiden RI Prabowo Subianto membantu penyediaan sapi atau daging untuk masyarakat Aceh.
“Di Aceh ada tradisi meugang. Tradisi sebelum Ramadan mereka akan apa menyantap daging sapi, kerbau atau kambing,” kata Tito dalam rapat koordinasi percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana di Aceh, Januari lalu.
Menurut Tito, perhatian pemerintah tak hanya soal membangun ulang infrastruktur atau rumah ibadah. Aspek sosial dan budaya ikut dipertimbangkan. Gubernur Aceh Muzakir Manaf, yang akrab disapa Mualem, disebut menyampaikan pentingnya meugang saat kunjungan ke Tamiang.
“Kemarin juga Pak Mualem menyampaikan bapak Presiden pada saat kunjungan kita ke Tamiang. Dan sepertinya Bapak Presiden berkeinginan untuk memberikan bantuan semacam bantuan Presiden untuk sapi atau daging ya sapinya atau kerbau atau daging untuk tradisi ini,” ujarnya.
Pemerintah Aceh menyatakan dana Rp72,750 miliar telah ditransfer untuk pembelian sapi meugang di 19 kabupaten/kota terdampak bencana. Total 1.455 desa mendapat alokasi masing-masing Rp50 juta.
“Alhamdulillah, Bapak Presiden telah menyetujui permohonan pemerintah Aceh dan masyarakat Aceh untuk bantuan daging sapi meugang, dan dananya telah ditransfer,” kata Wakil Gubernur Aceh, Fadhlullah.
Bagi pemerintah daerah, pekerjaan berikutnya memastikan dana itu segera menjadi sapi yang bisa dibagikan sebelum Ramadan tiba. Bagi warga, tentu maknanya lebih dalam.
Meugang selalu tentang berbagi. Mereka yang mampu akan memastikan tetangga ikut merasakan. Di tengah situasi pascabencana, semangat itu terasa berlapis. Berbagi saat kekurangan, memasak di rumah yang baru diperbaiki, menyambut Ramadan dengan harapan yang belum sepenuhnya pulih.
Bantuan sapi bukan sekadar menjaga tradisi tetap hidup. Ia menjadi simbol kehadiran negara sampai ke meja makan. Pemulihan tak cuma soal jembatan dan jalan, tapi juga tentang menjaga identitas dan kebersamaan.
Saat aroma gulai dan kari kembali mengepul menjelang Ramadan, meugang tahun ini akan menyimpan cerita sendiri, tentang banjir, tentang janji, tentang dana yang benar-benar tiba.














