Pengamat ekonomi energi dari UGM, Fahmy Radhi. (Foto: Antara).
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Pakar ekonomi energi dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Fahmy Radhi mengingatkan, kebijakan bekerja dari rumah (Work From Home/WFH) sehari dalam seminggu, untuk menghemat penggunaan bahan bakar minyak (BBM), jangan sampai merugikan sektor lain.
“Kebijakan WFH sehari dalam seminggu untuk ASN (Aparatur Sipil Negara) dan pekerja swasta, bagus tujuannya. Untuk menghemat BBM. Tapi ingat sektor lain, jangan malah membuat masalah baru,” kata Fahmy di Jakarta, Senin (23/3/2026).
Tujuan WFH, kata Fahmy, adalah untuk memangkas membengkaknya subsidi BBM. Jika WFH-1 diterapkan kepada seluruh ASN dan pekerja swasta secara konsekuen, bakal terjadi penghematan konsumsi BBM hingga 20 persen.
“Masalahnya, tidak mudah mengerahkan seluruh ASN dan pekerja swasta untuk memberlakukan WFH-1 secara konsekuen, karena menyangkut perubahan perilaku kerja,” imbuhnya.
Barangkali ASN dan pekerja swasta tidak kerja di rumah pada Jumat, tetapi jalan-jalan mal tau tempat wisata, artinya kan harus beli BBM. “Beda dengan era pandemi COVID-19, WFH berhasil menghemat BBM, karena ada variabel paksa, menahan orang berhenti di rumah karena takut tertular COVID-19,” imbuhnya.
Dia engatakan, tanpa variabel paksa, sangat sulit bagi WFH-1 bisa diterapkan secara konsekuen. Selain itu, WFH-1 berpotensi menurunkan pendapatan bagi sektor transportasi, termasuk jasa ojol, warung-warung UMKM yang selama ini menyediakan makan siang bagi ASN dan pekerja swasta, dan usaha lainnya.
Selain tu, Fahmy menyebut, kebijakan WFH-1 bagi pekerja swasta sektor manufkatur, bakal menurunkan produktivitas kerja yang merugikan perseran. “Pemerintah sebaiknya mempertimbangkan masak-masak dengan menghitung secara teliti cost and benefit WFH-1,” imbuhnya.
Intinya, mantan Anggota Tim Reformasi Tata Kelola Migas itu, mengingatkan pemerintah agar penerapan WFH-1 memberikan manfaat (benefit) penghematan subsidi BBM, tetapi sektor lain yang harus menanggung biayanya (cost).
Sejatinya, lanjut Fahmy, penutupan Selat Hormuz akibat konflik Iran yang dikeroyok zionis Israel dan Amerika Serikat (AS), memicu meroketnya harga minyak dunia hingga di atas US$100 per barel.
Pada 20 Maret 2026, harga minyak Brent sempat menembus US$ 112.19 per barel. Sebagai net importir, meroketnya harga minyak dunia, pasti berdampak signifikan terhadap perekonomian Indonesia.
Misalnya, subsidi BBM yang diatur dalam APBN 2026, menyulut kenaikan imported inflation. Diperkirakan pada Maret 2026, berada di rentang 3,07 persen-4,8 persen secara tahunan atau year on year (yoy) yang menurunkan daya beli rakyat, dan melemahkan nilai tukar rupiah yang sempat tembus Rp17.000 per dolar AS.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.













