Lawan Krisis Global, ESDM Siapkan Tiga Strategi Besar Menuju NZE 2060

Diana Medium.jpeg

Kamis, 23 April 2026 – 18:34 WIB

Menghadapi krisis geopolitik global, Kementerian ESDM luncurkan tiga strategi besar: PLTS 100 GW, B50, dan efisiensi energi demi kemandirian energi dan NZE 2060. (Ilustrasi: Inilah.com/AI)

Menghadapi krisis geopolitik global, Kementerian ESDM luncurkan tiga strategi besar: PLTS 100 GW, B50, dan efisiensi energi demi kemandirian energi dan NZE 2060. (Ilustrasi: Inilah.com/AI)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Di tengah ketidakpastian geopolitik global yang kian memanas, Pemerintah Indonesia tidak ingin sekadar menjadi penonton. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) resmi mematok tiga strategi besar untuk mengamankan ketahanan energi nasional sekaligus mengejar target Net Zero Emission (NZE) pada 2060.

Kepala Balai Besar Survei dan Pengujian Ketenagalistrikan, Energi Kementerian ESDM, Trois Dilisusendi, menegaskan bahwa langkah ini merupakan respons taktis agar Indonesia tetap tangguh di tengah fluktuasi ekonomi dunia.

“Kita akan terus memastikan bahwa zero emission akan terjadi pada 2060 atau bahkan lebih cepat. Salah satu pilar utamanya adalah elektrifikasi massal, tidak hanya pada kendaraan, tetapi juga hingga ke dapur masyarakat melalui kompor induksi,” ujar Trois dalam diskusi publik di Senayan, Jakarta Pusat, Kamis (23/4/2026).

Tiga Jurus Menghadapi Geopolitik Global

Trois memaparkan, untuk membentengi kedaulatan energi dari guncangan global, pemerintah fokus pada tiga program raksasa.

Pertama, pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dengan kapasitas masif mencapai 100 Giga Watt (GW). Kedua, percepatan konversi kendaraan listrik yang dibarengi dengan kebijakan mandatori B50.

Ketiga, efisiensi energi. Ini sering terlupakan, padahal jauh lebih murah menghemat 1 GW daripada kita harus menjaga 1 MW. Efisiensi adalah kunci stabilitas fiskal kita,” tegas Trois.

Target B50: Setop Impor Solar

Salah satu poin paling krusial dari strategi ini adalah ambisi untuk memutus rantai ketergantungan pada impor bahan bakar minyak (BBM). Melalui kebijakan B50, Indonesia diproyeksikan mampu berdikari di sektor transportasi.

“Pada 2025 saja, pencapaian B40 sudah menyentuh 14,2 juta kL. Dengan masuknya B50 nanti, harapannya kita tidak lagi mengimpor solar. Posisi kita akan sangat kuat,” imbuhnya.

Tak hanya di darat, strategi dekarbonisasi ini telah merambah ke langit. Indonesia sukses melakukan uji coba Sustainable Aviation Fuel (SAF) atau bioavtur berbahan minyak jelantah pada pesawat militer dan komersil. Puncaknya, pada Agustus 2025 lalu, maskapai Pelita Air sukses terbang rute Jakarta-Denpasar dengan bahan bakar ramah lingkungan tersebut.

Penguatan Fondasi Hukum

Langkah ofensif ini juga didukung oleh penguatan regulasi. Pemerintah telah melakukan perubahan pada Perpres Nomor 112 Tahun 2022, Kepmen Penahapan BBN, hingga revisi PP Nomor 7 Tahun 2017 untuk memastikan seluruh program berjalan di atas landasan hukum yang kokoh.

Melalui RUPTL PLN 2025-2034, arah pengembangan pembangkit listrik akan terus didorong ke arah green energy. Strategi ini diharapkan menjadi tameng yang kuat bagi ekonomi Indonesia dalam menghadapi ketidakpastian global di masa depan.

Google

Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang