KNKT Sebut Insiden di Stasiun Bekasi Terjadi Akibat Kegagalan Sistem Berlapis, Ini Penjelasannya

Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) menyimpulkan kecelakaan beruntun yang melibatkan KRL dan KA Argo Bromo Anggrek di Bekasi Timur pada akhir April 2026 bukan sekadar insiden tunggal, melainkan akibat kegagalan sistem berlapis yang terjadi dalam waktu berdekatan.

Ketua KNKT, Soerjanto Tjahjono, mengungkapkan investigasi sementara menemukan adanya dua tabrakan yang berdiri sendiri namun saling berkaitan dalam rantai kejadian. Temuan itu sebelumnya juga dipaparkan dalam rapat kerja bersama Komisi V DPR RI dan Dudy Purwagandhi beberapa waktu lalu.

Tabrakan pertama terjadi pada pukul 20.48.29 WIB antara sebuah taksi listrik dan KRL tujuan Jakarta di perlintasan Bekasi Timur. Berdasarkan data black box kendaraan bernomor polisi B 2864 SBX, tidak ditemukan gangguan sistem sebelum kejadian.

“Data satu jam sebelum kejadian menunjukkan kendaraan dalam kondisi normal,” kata Soerjanto dalam keterangannya dikutip, Minggu (24/5/2026).

KNKT mencatat kendaraan sempat melaju dengan kecepatan sekitar 15 km/jam sebelum akhirnya dipindahkan ke posisi netral dan meluncur pelan menuju rel dengan kecepatan 3 hingga 7 km/jam.

Namun situasi memburuk hanya dalam hitungan menit. Pada pukul 20.50.43 WIB, atau sekitar 3 menit 43 detik setelah tabrakan pertama, KA Argo Bromo Anggrek tetap melaju dan menabrak rangkaian kereta perawatan PLB 5568A yang sedang berhenti di jalur Bekasi Timur.

Fakta yang menjadi sorotan utama KNKT adalah sistem persinyalan yang masih menunjukkan lampu hijau bagi KA Argo Bromo Anggrek, meski jalur di depannya belum sepenuhnya aman.

Di saat bersamaan, kereta PLB 5568 diketahui mengalami keterlambatan delapan menit, sementara Argo Bromo Anggrek justru melaju lebih cepat dari jadwal.

Selain persoalan sinyal utama, faktor lingkungan turut memperparah kondisi. KNKT menemukan adanya gangguan visual akibat cahaya dari kios pasar dan permukiman warga di sekitar rel yang menyulitkan masinis dalam mengidentifikasi sinyal resmi.

“Masinis mengalami kesulitan membedakan sinyal karena banyaknya sumber cahaya putih di sekitar lokasi,” ujar Soerjanto.

Investigasi juga mengungkap persoalan serius pada sistem komunikasi antar pengendali perjalanan kereta. Dalam mekanisme yang berlaku, informasi harus melalui beberapa lapisan sebelum sampai ke masinis, mulai dari Pengendali Kereta (PK) Selatan ke supervisor, lalu diteruskan ke PK Timur, sebelum akhirnya disampaikan ke masinis.

Rantai komunikasi yang panjang tersebut dinilai menyebabkan keterlambatan respons dalam situasi darurat.

KNKT juga menyoroti keterbatasan cakupan sistem pengaturan perjalanan di Stasiun Bekasi yang hanya mengontrol hingga titik tertentu. Akibatnya, sinyal J12 tetap menunjukkan hijau meski masih terdapat rangkaian kereta yang berhenti lebih jauh di jalur yang sama.

Temuan ini memperkuat kesimpulan bahwa kecelakaan terjadi akibat akumulasi kelemahan sistemik, mulai dari persinyalan, manajemen perjalanan, gangguan visual, hingga koordinasi antarunit yang tidak responsif.

KNKT menegaskan akan merekomendasikan perbaikan menyeluruh, termasuk integrasi sistem komunikasi, peningkatan keandalan persinyalan, serta penataan lingkungan di sekitar jalur rel guna meminimalkan potensi gangguan visual di masa mendatang.