Klaim Terapi Kanker Berbasis Peptida Viral di Medsos, Perlu Uji Ilmiah dan Verifikasi Ketat

Mia Medium.jpeg

Minggu, 3 Mei 2026 – 06:26 WIB

Ilustrasi sel kanker. (Foto: the-scientist.com/iStock)

Ilustrasi sel kanker. (Foto: the-scientist.com/iStock)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Sebuah narasi yang beredar di media sosial kembali memicu perhatian publik setelah mengklaim adanya metode penyembuhan kanker yang disebut telah ditemukan sejak 1976.

Informasi itu menyinggung penelitian Stanislaw Burzynski yang disebut mengembangkan terapi berbasis peptida manusia untuk menghambat pertumbuhan tumor hingga tingkat genetik.

Dalam klaim yang beredar dalam video pendek di sosial media tiktok dikutip Minggu, (03/05/2026), terapi tersebut dikatakan mampu memulihkan sistem imun dan menghentikan perkembangan kanker dengan efek samping minimal.

Disebut pula senyawa yang dikenal sebagai antineoplaston berasal dari peptida yang secara alami terdapat dalam tubuh manusia, namun jumlahnya rendah pada pasien kanker.

Narasi tersebut juga menyebut adanya dugaan hambatan dari regulator dan industri farmasi, termasuk pembatasan penggunaan terapi serta berbagai proses hukum yang menghambat pengembangannya. Bahkan, klaim berkembang hingga menyinggung kepentingan industri kemoterapi, industry kesehatan dan isu politik global.

Namun, hingga saat ini, terapi antineoplaston masih menjadi kontroversi di dunia medis.

Mantan Direktur WHO SEARO sekaligus pengamat kesehatan Prof Dr. Tjandra Yoga Aditama menjelaskan, Antineoplaston adalah pengobatan eksperimental yang memang dieksplorasi sejak tahun 1970-an. 

“Namun, hal itu belum pernah terbukti sebagai terapi kanker yang efektif dan belum pernah diuji dalam uji coba terkontrol skala besar yang diperlukan untuk persetujuan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA), bertentangan dengan klaim yang beredar di media sosial,” katanya kepada Inilah.com, Minggu (03/05/2026).

Selain itu, sejumlah otoritas kesehatan, termasuk U.S. Food and Drug Administration, belum memberikan persetujuan penuh terhadap metode tersebut sebagai pengobatan kanker yang terbukti efektif secara luas.

Berbagai penelitian terkait juga dinilai masih membutuhkan uji klinis yang ketat dan transparan.

Google

Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang