Klaim Sumber AMDK tak Sesuai Fakta, Anggota DPR: Evaluasi Izinnya!

Reyhaanah Medium.jpeg

Kamis, 13 November 2025 – 18:40 WIB

Ilustrasi merek air minum kemasan terkenal (Foto: Freepik)

Ilustrasi merek air minum kemasan terkenal (Foto: Freepik)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Anggota Komisi VII DPR RI, Bane Raja Manalu, menegaskan perlunya langkah tegas pemerintah dalam mengawasi pengelolaan sumber air oleh produsen Air Minum Dalam Kemasan (AMDK).

Ia menilai, jika ditemukan ketidaksesuaian antara klaim perusahaan dengan kondisi sebenarnya, pemerintah harus segera melakukan evaluasi, bahkan hingga pencabutan izin.

“Jika jawabannya berbeda dengan klaim perusahaan, evaluasi harus dilakukan. Jika sampaikan merugikan publik, izinnya perlu dicabut,” kata Bane kepada Inilah.com, Kamis (13/11/2025).

Bane menyebut klarifikasi dari pihak perusahaan belum cukup untuk menjawab kekhawatiran publik mengenai transparansi dan keabsahan sumber air yang digunakan. Ia menegaskan, pemerintah sebagai regulator harus aktif memastikan kebenaran informasi yang disampaikan produsen.

“Pemerintah sebagai regulator perlu memastikan sumber air mereka, benarkah bersumber dari pegunungan seperti yang mereka sampaikan? Lalu apa definisi air pegunungan?” ujarnya menambahkan.

Produsen air minum dalam kemasan (AMDK) ternama, Aqua, akhirnya angkat bicara merespons isu yang viral di media sosial. Isu ini mencuat setelah kunjungan mendadak salah seorang tokoh pejabat publik yang menyoroti sumber air yang digunakan pabrik Aqua, yang dikira berasal dari sumur bor biasa.

Aqua membantah tudingan tersebut. Melalui pernyataan resmi di situsnya, yang dikutip Kamis (23/10/2025), Aqua memastikan bahwa air yang mereka kemas berasal dari akuifer dalam lapisan air tanah alami yang merupakan bagian integral dari sistem hidrogeologi pegunungan.

“Tidak benar. Kami memastikan menggunakan air dari akuifer dalam yang merupakan bagian dari sistem hidrogeologi pegunungan,” jelas Aqua.

Perusahaan menekankan, air dari sumber tersebut terlindungi secara alami. Pemilihan dan pengambilan airnya pun telah melalui proses seleksi dan kajian ilmiah yang ketat oleh para ahli dari perguruan tinggi terkemuka, seperti Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Universitas Padjadjaran (Unpad). Bahkan, di beberapa titik, sumber air bersifat self-flowing atau mengalir secara alami ke permukaan.

Viralnya isu ini dipicu oleh inspeksi mendadak (sidak) yang dilakukan oleh Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi ke salah satu pabrik Aqua di Kabupaten Subang. Saat itu, Dedi sempat kaget ketika mendapat informasi dari petugas pabrik bahwa air baku diambil dari dalam tanah melalui pengeboran pada kedalaman tertentu, bukan dari mata air yang mengalir di permukaan.

“Airnya dari bawah tanah, bukan air permukaan. Ambil sumbernya dari dalam, dibor… Jadi ini bukan air mata air,” ujar seorang pegawai, membuat Dedi terkejut dan menyebutnya sebagai ‘sumur pompa dalam’.

Merunut pada informasi tersebut, Aqua memberikan klarifikasi teknis yang lebih mendalam. Air Aqua diklaim berasal dari 19 sumber pegunungan yang tersebar di seluruh Indonesia. Perusahaan memastikan bahwa air yang diambil berasal dari akuifer dalam (dengan kedalaman mencapai 60 hingga 140 meter), yang berbeda jauh dengan air permukaan atau air tanah dangkal.

Topik
Komentar