81 tahun merdeka, kekayaan alam Indonesia masih dikuasai segelintir konglomerat. Jangan kaget, meski sumber daya alam berlimpah, ketimpangan ekonomi kian menganga.
The Founding Fathers, Bung Karno dan Bung Hatta pantas menangis melihat fenomena hari ini. Indonesia bak ratna mutu manikam, negeri dengan kekayaan alam berlimpah, ternyata belum mampu mengangkat derajat rakyatnya.
Masih banyak yang hidup bergelimang kemiskinan. Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah kemiskinan di Indonesia per Maret 2026, mencapai 22,93 juta orang.
Atau setara 8,07 persen dari total penduduk. Itu yang terlihat. Bisa jadi yang tak kelihatan lebih dahsyat lagi angkanya.
Padahal, menurut Bung Karno, merdeka itu bukan sekadar mampu mengusir penjajah. “Namun, merdeka berarti bebas dari kemiskinan, bebas dari penindasan, bebas menentukan arah hidup sendiri, dengan akal budi yang terang dan kedudukan yang setara.”
Dan, seluruh kekayaan alam di Indonesia, seharusnya menjadi modal penting bagi kesejahteraan masyarakat. Sesuai pasal 33 dalam UU 1945. Indonesia memiliki berbagai sumber daya seperti minyak, gas, batu bara, mineral, hutan, dan hasil laut.
Namun, kekayaan tersebut tidak selalu menghasilkan pemerataan ekonomi. Ketika penguasaan sumber daya alam terkonsentrasi di segelintir pihak, kekayaan yang seharusnya memberikan manfaat luas justru memperlebar kesenjangan ekonomi, antara si kaya dan masyarakat biasa.
Salah satu penyebabnya adalah ketimpangan dalam kepemilikan dan akses terhadap sumber daya. Perusahaan, atau kelompok yang memiliki modal besar cenderung mempunyai kemampuan lebih kuat untuk menguasai lahan, teknologi, serta kegiatan produksi.
Sementara itu, masyarakat lokal sering kali hanya menjadi pekerja atau menerima manfaat ekonomi dalam jumlah terbatas. Akibatnya, nilai ekonomi yang dihasilkan dari kekayaan alam lebih banyak terkumpul pada pemilik modal.
50 Orang Terkaya
Pendiri Lembaga riset Center of Economic and Law Studies (Celios), Media Wahyudi Askar menyebut, total harta milik 50 orang terkaya di Indonesia, jauh lebih besar ketimbang APBN 2026 yang hanya Rp3.842,7 triliun. Sementara total kekayaan ke-50 orang itu, mencapai Rp4.651 triliun.
Lebih miris lagi, dia menghitung, kekayaan para oligarki itu, meningkat Rp13 miliar tiap hari. “Sementara upah pekerja hanya naik Rp2 ribu tiap hari. Benar-benar seperti langit dan bumi,” kata Media di Jakarta, beberapa waktu lalu.
Jika diasumsikan 5 triliuner Indonesia biaya belanjanya sebesar Rp2 miliar/hari, perlu waktu 603 tahun untuk menghabiskan kekayaan mereka. Dan, masih banyak angka-angka yang membuat mata terbelalak. Karena menggambarkan betapa besarnya penghasilan yang mereka dapatkan.
Sayangnya, kata Media, pemerintah tidak memungut pajak kekayaan kepada ke-50 pengusaha terkaya di Indonesia yang asetnya di atas Rp84 miliar. Jika pungutannya 2 persen saja, penerimaan negara bertambah Rp142 triliun. Wow.
Ketimpangan Ekonomi
Terkait ketimpangan ekonomi, tak ada salahnya membuka hasil studi kedua Celios (Center of Economic and Law Studies), studi sebelumnya digelar pada 2024.
Hasilnya, kekayaan 50 orang terkaya di Indonesia atau triliuner, meningkat nyaris dua kali lipat sepanjang 2019-2025. Dari Rp2.508 triliun melompat menjadi Rp4.651 triliun.
Terjadi penambahan kekayaan Rp2.143 triliun, atau rata-rata Rp357,2 triliun/tahun. Celakanya, sebagian besar kekayaan mereka berasal dari ‘menyayat’ perut bumi Indonesia. Kekayaan alam Indonesia mereka keruk dengan suka-suka.
Studi Celios menyebut kontribusi sektor energi dan ekstraktif (tambang) berkontribusi 39,4 persen terhadap total kekayaan 50 triliuner Indonesia.
Walhasil, jajaran orang terkaya di Indonesia yang besar dari bisnis tambang atau energi, sangat mendominasi dengan porsi 57,8 persen pada 2026.
Lebih dari setengah kekayaan kaum tajir di Indonesia berasal dari eksploitasi ugal-ugalan sumber daya alam. Mulai sawit, nikel hingga batu bara.
Orang Terkaya Dikuasai 4L
Kalau mau tahu peringkat orang terkaya di Indonesia, mudah sekali. Bahkan terlalu mudah. Penguasanya 4L, ini bukan inisial nama.
Tapi, 4L adalah kependekan dari ‘Lu Lagi Lu Lagi’. Saking sulit bergeser, orangnya ya itu-itu saja yang kaya raya di republik ini.
Yakni Keluarga Hartono (Djarum) yang kekayaannya Rp650 triliun, Prajogo Pangestu (Barito Group) berharta Rp483 triliun, atau Keluarga Widjaja (Sinarmas Group) yang beraset Rp478 triliun.
Kini muncul Low Tuck Kwong yang dikenal sebagai raja batu bara, kekayaannya melejit Rp341 triliun.
Anthony Salim yang merupakan generasi kedua dari Salim Group, kekayaannya tembus Rp221 triliun.
Berdasarkan laju pertumbuhan kekayaan tahunan (CAGR), kekayaan Haryanto Tjiptodihardjo (Impack Pratama Industri) paling cepat gemuk. Mencapai 71 persen.
Selanjutnya pengusaha teknologi, Marina Budiman (DCI Indonesia), mengalami peningkatan kekayaan 47,9 persen. Dan Lim Hariyanto Wijaya Sarwono (Harita Group) kekayaannya melejit 42,2 persen.
Jajaran Penguasa Nikel
Indonesia dikenal sebagai negeri yang memiliki cadangan nikel terbesar di dunia. Di mana, nikel disebut sebagai bahan baku energi hijau alias ramah lingkungan. Yang saat ini sangat diburu negara lain.
Data Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM), sumber daya nikel yang tersimpan di perut ibu pertiwi ini, mencapai 17,7 miliar ton. Sebagian besar berada di Sulawesi dan Maluku Utara (Malut).
Selain itu, data Badan Geologi Amerika Serikat atau United States Geological Survey (USGS) menyebut, Indonesia menyumbang 43 persen dari total cadangan nikel global.
Sayangnya, nikel ada penguasanya. Bukan pemerintah yang menjadi pengendalinya, sesuai pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945. Namun segelintir orang yang punya modal untuk mengeksploitasinya. Berikut daftarnya.
1. Kiki Barki (Harum Energy)
Nama Kiki Barki, awalnya dikenal sebagai pengusaha batu bara papan atas, melalui PT Harum Energy Tbk (HRUM) yang eksis sejak 1995. Namun belakangan, dia banting setir ke nikel.
Kiki mengeruk nikel, lewat bendera PT Position (POS) yang masih anak usaha HRUM. Kabarnya, cadangan nikel yang dikelola Kiki mencapai 215 juta ton. Terdiri dari 92 juta ton bijih limonit dan 123 juta ton bijih saprolit.
Kekayaannya berapa? Forbes Indonesia’s 50 Richest pernah menempatkan Kiki sebagai orang terkaya ke-42. Dengan kekayaan bersih US$1,3 miliar, atau setara Rp21,13 triliun.
2. Garibaldi Thohir (ADRO)
Siapa tak kenal Garibaldi Thohir alias Boy Thohir yang dikenal sebagai kakak Erick Thohir yang saat ini menjabat Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) sekaligus Ketum PSSI.
Lewat Alamtri Resources Indonesia (ADRO)–— dulunya bernama Adaro Energy Indonesia, Boy mengempit saham pengendali di Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA). Dari bisnis mengeruk nikel ini, Boy Thohir bisa mengumpulkan kekayaan hingga Rp64,14 triliun.
3. Lim Hariyanto Wijaya Sarwono (Harita Group)
Sosok Lim Hariyanto Wijaya Sarwono, pendiri Harita Group, tidaklah asing di kalangan pebisnis nikel. Sejatinya tak hanya nikel, Lim Hariyanto dikenal sebagai pemain lama di batu bara dan bauksit.
Khusus nikel, dia memelopori proyek hilirisasi terintegrasi terbesar di Pulau Obi, Maluku Utara (Malut) lewat PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL).
Lim Hariyanto masuk daftar orang terkaya di Indonesia dengan harta US$4 miliar atau setara Rp65,02 triliun.
4. Christopher Sumasto Tjia (PAM Group)
Nama Christopher Sumasto Tjia, putra konglomerat Adi Sumasto Tjia, saat ini menjadi pengendali PT PAM Mineral Tbk (NICL). Terafiliasi dengan Pintu Air Mas Group (PAM Group).
Tambang nikel miliknya bertebaran di Sulawesi Tengah dan Sulawesi Tenggara.
Pada tahun 2023, Christopher Tjia yang kelahiran 1974, masuk jajaran orang terkaya di Indonesia versi Majalah Forbes. Nilai aset yang dimilikinya mencapai US$1,5 miliar. Atau setara Rp26,25 triliun (kurs Rp17.500/US$).
Para Konglomerat Sawit
Saat ini, Indonesia kondang sebagai produsen minyak kelapa sawit terbesar di dunia. Negara ini menghasilkan 60 persen dari total pasokan minyak sawit dunia. Mengalahkan negara-negara produsen lain seperti Malaysia.
Namun, seperti halnya nikel, bisnis sawit di Indonesia dikuasai segelintir orang. Sejumlah konglomerat dengan modal besar, mendominasi lahan dan industri sawit di negeri ini. Hampir 30 persen dari total luas perkebunan sawit dikuasai oligarki.
1. Anthony Salim (Salim Group)
Generasi kedua dari Salim Group ini, tak hanya dikenal sebagai pengusaha produk mi instan, Indomie. Industri sawit dijadikan mesin uang Grup Salim, lewat Indofood Agri Resources Ltd.
Perusahaan sawit di bawah Grup Salim antara lain PT Perusahaan Perkebunan London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) dan PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP). Saat ini, kekayaannya ditaksir lebih dari Rp221 triliun.
Dalam beberapa tahun ke belakang, Grup Salim juga mengakuisisi banyak perusahaan kelapa sawit, sehingga luas kebun sawit yang dikelolanya semakin besar.
2. Sukanto Tanoto (RGEI)
Dia dikenal sebagai konglomerat pemilik grup usaha Royal Golden Eagle International (RGEI), dulu namanya Raja Garuda Mas yang berbasis di Singapura.
Sukanto Tanoto juga memiliki industri kertas dan pulp bernama Asia Pacific Resources International Holding Ltd atau APRIL, dan industri perkebunan Sawit bernama Asian Agri dan Apical. Kekayaannya ditaksir mencapai Rp72,58 triliun.
3. Martua Sitorus (Wilmar)
Bersama dengan Kuok Khoon Hong, Martua Sitorus mendirikan Wilmar pada 1991. Perusahaan ini mencatatkan diri di Bursa Efek Singapura, atau Singapore Stock Exchange (SGX).
Pada 2018, Wilmar International Ltd pernah masuk sebagai perusahaan sawit terbesar dunia. Saat baru awal berdiri, perusahaan ini memiliki kurang dari 10.000 hektare kebun sawit di Sumatera Utara.
Majalah Forbes Indonesia sempat menjuluki Martua Sitorus sebagai raja sawit Indonesia dengan kekayaan mencapai Rp60,76 triliun.
5. Susilo Wonowidjojo (Gudang Garam)
Dikenal sebagai pemilik pabrik rokok Gudang Garam di Kediri, Jawa Timur. Selanjutnya masuk bisnis lewat Makin Group. Perusahaan sawitnya terkonsentrasi di Jambi dan Kalimantan Tengah, lewat PT Matahari Kahuripan. Kekayaannya diperkirakan mencapai Rp54 triliun.
6. Putera Sampoerna
Putera Sampoerna dikenal sebagai bos perusahaan rokok PT HM Sampoerna Tbk. Kemudian, pabrik rokoknya dijual ke Philip Morris.
Lepas dari bisnis rokoknya, dia fokus ke investasi lewat Sampoerna Strategic yang bergerak di bidang bisnis keuangan, properti, telekomunikasi, kayu, dan perkebunan.
Untuk sektor sawit, Putera Sampoerna memiliki PT Sampoerna Agro Tbk yang menguasai lebih dari 100.000 hektare perkebunan sawit di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Sumatera Selatan. Kekayaannya diperkirakan lebih dari Rp42 triliun.
7. Bachtiar Karim (Musim Mas)
Dikenal sebagai pengusaha sawit lewat Musim Mas sejak 2019. Dia menjalin kongsi bisnis dengan dua saudaranya yakni Burhan dan Bahari. Ditaksir kekayaan dari ketiganya mencapai Rp71 triliun.
8. Keluarga Widjaja (Sinarmas Group)
Keluarga Widjaja mewarisi bisnis yang dirintis Eka Tjipta Widjaja yang meninggal pada Januari 2019 di usia 98 tahun.
Untuk sawit yang masuk agribisnis dan makanan, Sinarmas Group memiliki Golden Agri-Resources, yang dikendalikan Franky Oesman Widjaja dan Muktar Widjaja. Keduanya adalah putra Eka Tjipta. Kekayaan Keluarga Widjaja ini, ditaksir lebih dari Rp477 triliun.
Oligarki Batu Bara
Indonesia adalah salah satu produsen dan eksportir batu bara terbesar di dunia. Posisinya masuk peringkat utama global dengan produksi nasional di atas 800 juta ton per tahun.
Berdasarkan data Kementerian ESDM, total cadangan batu bara Indonesia sekitar 31,96 miliar ton. Terbagi atas cadangan terbukti 17,54 miliar ton, dan cadangan terkira 14,42 miliar ton,
Tersebar di Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, dan Sumatera Selatan (Sumsel).
Namun sama dengan nikel dan sawit, penguasa sektor ini hanya segelintir konglomerat bermodal jumbo alias oligarki. Siapa saja mereka?
1. Low Tuck Kwong (Bayan Resources)
Dia adalah pemilik PT Bayan Resources yang bergerak di sektor tambang batu bara. Kini, pria berusia 77 tahun itu, dijuluki raja batu bara Indonesia.
Namanya selalu bertengger di papan atas daftar orang terkaya di Indonesia versi majalah Forbes Indonesia. Asetnya ditaksir tidak kurang dari Rp341 triliun.
2. Keluarga Widjaja (Sinarmas Group)
Keluarga mendiang Eka Tjipta Widjaja, mendirikan kerajaan bisnis Sinarmas Group, adalah pemilik PT Dian Swastika Sentosa Tbk (DSSA) bergerak di bidang energi dan infrastruktur.
Dan, Golden Energy and Resources Ltd (GEAR), anak usaha DSSA, memiliki tambang batu bara di Australia, dan mengakuisisi aset tambang Stanmore Coal.
Anak usaha lain, PT Golden Energy Mines Tbk (GEMS) juga bergerak di sektor ini. Total kekayaannya mencapai Rp477,8 triliun.
3. Garibaldi Thohir (ADRO)
Garibaldi ‘Boy’ Thohir merupakan pemilik PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO), dikenal sebagai perusahaan batu bara. Kini bisnis batu bara difokuskan kepada anak usahanya yakni PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI). Kini aset yang dimilikinya tidak kurang dari Rp64,14 triliun
4. Kiki Barki (HRUM)
Kiki Barki, pendiri PT Harum Energy (HRUM), sebuah emiten pertambangan batu bara pada 1995. Selain itu juga terdapat tambang batu bara swasta miliknya Tanito Harum.
Putra sulung Kiki, Lawrence Barki menjadi presiden komisaris untuk Harum. Sedang putra bungsunya menjabat Presiden Komisaris. Kekayaannya sedikitnya mencapai Rp21,13 triliun.













