Lokasi kecelakaan seorang siswi SMA Negeri di kawasan Bulungan, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, yang meninggal dunia akibat terjatuh dari motor yang tersangkut kabel seling dan terlindas bus di Jalan Lauser, Kebayoran Baru, Jakarta, Kamis (18/6/2026). (Foto: Antara/Luthfia Miranda Putri)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Tragedi tewasnya seorang pelajar SMA di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, akibat diduga tersangkut kabel menjuntai, memicu sorotan serius terhadap kinerja pengawasan infrastruktur jalan di Ibu Kota, khususnya peran Dinas Bina Marga.
Peristiwa nahas yang terjadi di Jalan Leuser, Kamis (18/6/2026), melibatkan dua pelajar yang berboncengan sepeda motor. Sang pengendara mengalami luka-luka, sementara penumpangnya, KAEP, meninggal dunia setelah terjatuh dan terlindas bus sekolah.
Anggota DPRD DKI Jakarta, August Hamonangan, menilai kejadian ini tidak bisa lagi dianggap sebagai kecelakaan biasa. Ia menyebut ada indikasi kelalaian dalam penataan dan pengawasan kabel utilitas di lapangan.
“Kalau kabel sampai menjuntai ke jalan dan memakan korban jiwa, ini bukan sekadar kecelakaan. Ada yang lalai dalam pengawasan. Ini harus dievaluasi total,” kata August, Sabtu (20/6/2026).
Ia juga menyoroti masih maraknya kabel semrawut yang terpasang tanpa standar jelas, bahkan diduga tanpa izin. Kondisi ini, menurutnya, menunjukkan lemahnya kontrol dari instansi terkait.
“Masalah kabel ini sudah lama dikeluhkan warga, tapi penanganannya seperti tambal sulam. Kalau tidak ada penertiban serius dan pengawasan ketat, kejadian seperti ini bisa terulang,” ujarnya.
August mendorong evaluasi menyeluruh terhadap kinerja Dinas Bina Marga, termasuk koordinasi dengan pemilik jaringan utilitas serta penegakan aturan di lapangan.
“Bina Marga harus berani tegas. Kabel ilegal harus dicabut, dan pengawasan di lapangan tidak boleh lagi longgar. Keselamatan warga itu yang utama,” tegasnya.
Selain itu, ia kembali menekankan pentingnya percepatan program Sarana Jaringan Utilitas Terpadu (SJUT) agar kabel tidak lagi bergantung pada instalasi udara yang berisiko tinggi.
“Selama kabel masih bergelantungan di udara, potensi bahaya akan selalu ada. Percepatan SJUT ini bukan pilihan, tapi keharusan,” ucapnya.
Tragedi di Jalan Leuser kini menjadi alarm keras bahwa persoalan kabel menjuntai bukan sekadar isu estetika kota, melainkan ancaman nyata yang bisa merenggut nyawa. Tanpa langkah tegas dan evaluasi total, bukan tidak mungkin korban berikutnya kembali berjatuhan.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.













