Penolakan yang menggetarkan ruang sidang. Presiden Federasi Sepak Bola Palestina (PFA) Jibril Rajoub menolak berjabat tangan dengan Wakil Presiden Federasi Sepak Bola Israel Basim Sheikh Suliman dalam pertemuan FIFA, dengan satu kalimat tegas: “Martabat bangsa tidak tunduk pada protokol.”
Insiden itu terjadi saat Presiden FIFA Gianni Infantino mengundang Rajoub untuk menyalami rekannya dari Israel selama Kongres FIFA ke-76 di Vancouver, Kanada, Kamis (30/4/2026) waktu setempat. Yang terjadi justru sebaliknya — sebuah momen simbolis yang akan dikenang lama.
“Tak Bisa Salami Tangan Pencuci Fasisme dan Genosida”
Dalam pernyataan kepada Reuters yang langsung viral di seluruh dunia, Rajoub berbicara tanpa tedeng aling-aling.
“Saya tidak bisa berjabat tangan dengan seseorang yang dibawa orang Israel untuk mencuci fasisme dan genosida mereka. Kami sedang menderita,” kata Rajoub.
Pernyataan tersebut mengejutkan banyak pihak. Bahkan ketika Infantino memanggil keduanya naik ke atas podium, Rajoub menolak berdiri dekat dengan Suliman. Bahasa tubuhnya mengirim pesan yang lebih keras dari segala kata: di tengah penderitaan yang sedang dialami rakyatnya, gestur diplomatik biasa-biasa terasa seperti pengkhianatan.
Video Klarifikasi: Posisi Tegas dan Berprinsip
Tak lama setelah momen tersebut, Rajoub mengunggah video di Facebook untuk menjelaskan sikapnya. Dalam video itu, ia menyatakan bahwa dari panggung FIFA, pihaknya mengambil posisi yang jelas dan berprinsip dengan menolak berjabat tangan dengan perwakilan asosiasi Israel.
Penolakan tersebut, kata Rajoub, adalah penegasan bahwa martabat nasional tidak tunduk pada pertimbangan protokol, dan demi menghormati kesucian darah bangsanya — termasuk para atlet yang menjadi korban dalam konflik berkepanjangan.
Banding Resmi ke CAS pada 22 April 2026
Lebih dari sekadar penolakan simbolis, Palestina sudah mengambil langkah hukum konkret. Rajoub mengonfirmasi bahwa PFA akan mengajukan banding ke Court of Arbitration for Sport (CAS) atas keputusan FIFA yang menolak mengambil tindakan terkait pelanggaran yang dilakukan klub-klub Israel di pemukiman ilegal.
Banding resmi telah diajukan pada 22 April 2026 — sebuah langkah yang menurut Rajoub bertujuan “meluruskan arah” dan memastikan aturan diterapkan secara setara untuk semua asosiasi tanpa kecuali.
Rajoub menegaskan langkah ini bukan dimaksudkan sebagai konfrontasi, melainkan refleksi kepatuhan pada prosedur hukum. Federasi Palestina, lanjutnya, hanya meminta penerapan aturan secara setara tanpa bias politik.
Klub Israel di Lahan Palestina: Inti Persoalan
Akar masalahnya kompleks. Klub-klub Israel terus berkompetisi dalam turnamen yang diorganisir asosiasi Israel di lahan milik asosiasi Palestina tanpa persetujuan Palestina. Hal ini, menurut Rajoub, melanggar regulasi FIFA, terutama yang terkait dengan integritas teritorial asosiasi anggota.
Komite Disipliner FIFA sebelumnya juga sudah mengidentifikasi “pelanggaran serius” yang bertentangan dengan prinsip kesetaraan dan non-diskriminasi. Rajoub menyebut situasi ini sebagai “kegagalan sistemik dan keterlibatan institusional.”
Pada 19 Maret lalu, Dewan FIFA memutuskan untuk tidak bertindak atas proposal Palestina meski tetap menjatuhkan denda kepada asosiasi Israel berdasarkan ketentuan anti-diskriminasi. Sebuah kontradiksi yang oleh Rajoub disebut sebagai “pengakuan adanya pelanggaran tanpa langkah penjeraan.”
Susan Shalabi: “Mengosongkan Pidatonya dari Substansi”
Wakil Presiden PFA Susan Shalabi memberikan kritik tajam terhadap upaya Infantino mengarahkan jabat tangan tersebut. Menurutnya, langkah Bos FIFA itu “menunjukkan kurangnya penghargaan” terhadap pidato Rajoub yang baru saja disampaikan.
Shalabi mengatakan kepada wartawan setelah pertemuan, menempatkan Rajoub dalam posisi diminta berjabat tangan setelah semua yang telah disampaikan justru “mengosongkan pidatonya dari substansi.”
Lebih lanjut, Shalabi mengungkapkan kekecewaan mendalam. Rajoub baru saja menghabiskan sekitar 15 menit menjelaskan pentingnya aturan dan bagaimana ini bisa dengan mudah menjadi preseden di mana hak-hak asosiasi anggota dilanggar secara terang-terangan, hanya untuk masalah itu disampingkan dengan jabat tangan seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Menurut Shalabi, “itu absurd.”
Rp3,1 Miliar Denda yang Tak Memuaskan
Pada Maret lalu, Komite Disipliner FIFA telah menemukan Federasi Sepak Bola Israel bersalah atas berbagai pelanggaran diskriminasi yang “berat dan sistemik” — namun berhenti tepat sebelum menjatuhkan sanksi besar.
Komite menyatakan FIFA gagal bertindak menentang rasisme, mentolerir pesan-pesan berbau politis dan militeristik, serta membiarkan pengucilan warga Palestina dari infrastruktur sepak bola di pemukiman wilayah pendudukan Tepi Barat. Komite menyebut perilaku tersebut sebagai “keterlibatan institusional” dalam sistem segregasi.
Meskipun mengakui pelanggaran tersebut layak mendapat “sanksi yang berat dan eksemplar,” FIFA hanya menjatuhkan denda sebesar 150.000 franc Swiss (setara 190.000 dolar AS atau Rp3,1 miliar). Sebagai tambahan, panitia juga memerintahkan pemasangan banner “Football Unites the World – No to Discrimination” di tiga laga kandang.
Komite juga menolak permintaan PFA untuk melarang klub-klub Israel berbasis di wilayah pendudukan untuk berlaga di kompetisi internasional, dengan alasan masalah tersebut berada di luar yurisdiksi mereka.












