Jakarta Jadi Markas Diplomasi Palestina Asia Pasifik, Ada Agenda Besar untuk Gaza

artwork-rana.png

Sabtu, 22 Agustus 2026 – 17:40 WIB

Peresmian Wisma Khadimul Ummah Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Menteng, Jakarta Pusat, sebagai Kantor Headquarters Asia Pacific Coalition for Quds and Palestine (APCQP) pada Jumat (21/8/2026). (Foto: dok. MUI Digital)

Peresmian Wisma Khadimul Ummah Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Menteng, Jakarta Pusat, sebagai Kantor Headquarters Asia Pacific Coalition for Quds and Palestine (APCQP) pada Jumat (21/8/2026). (Foto: dok. MUI Digital)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Jakarta resmi menjadi pusat konsolidasi masyarakat sipil Asia-Pasifik untuk memperkuat dukungan terhadap Palestina. 

Langkah strategis ini ditandai dengan peresmian Wisma Khadimul Ummah Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Menteng, Jakarta Pusat, sebagai Headquarters Asia Pacific Coalition for Quds and Palestine (APCQP), Jumat (21/8/2026).

Wakil Sekretaris Jenderal MUI Bidang Hubungan Luar Negeri, Dubes Safira Machrusah, menyambut peresmian tersebut sebagai momentum memperkuat suara masyarakat Indonesia untuk Palestina.

“Atas nama Majelis Ulama Indonesia, kami bersyukur karena salah satu corong kita untuk menyuarakan kebersamaan dan dukungan moral kepada Palestina bisa terlaksana melalui gerakan ini,” ujar Safira.

MUI, kata dia, akan memberikan dukungan secara berkelanjutan, termasuk dengan menyediakan ruang kantor bagi APCQP.

“Semoga ke depannya bukan hanya kantornya saja, tetapi gerakan moral dan dukungannya terhadap Palestina bisa memberikan echo kepada seluruh masyarakat Indonesia untuk benar-benar setia, loyal, dan mendukung pergerakan kemerdekaan Palestina,” tegasnya.

Penetapan Jakarta sebagai markas besar APCQP merupakan tindak lanjut mandat Asia Pacific Conference for Palestine (APCP) yang digelar tahun lalu dan disepakati secara aklamasi oleh 22 negara. 

Keberadaan kantor tersebut diarahkan bukan sekadar menjadi pusat administrasi, melainkan simpul second track diplomacy untuk mempertemukan organisasi masyarakat sipil, akademisi, lembaga riset, media, ulama hingga jaringan kemanusiaan di kawasan.

Agenda strategis berikutnya adalah memperkuat posisi masyarakat sipil Asia-Pasifik dalam isu Palestina, termasuk menghadapi krisis Gaza dan merebut narasi rekonstruksi Gaza. 

APCQP juga akan mempersiapkan Konferensi Tahunan Al-Quds dan Palestina kedua yang dijadwalkan berlangsung di Malaysia pada Oktober mendatang.

Perkuat Diplomasi Sipil

Direktur Eksekutif APCQP, Irfan Nugraha, mengatakan kantor tersebut akan menjadi jembatan berbagai unsur masyarakat sipil untuk menghasilkan kerja sama dan aksi konkret.

“Tugas kami adalah memfasilitasi, memperkuat, dan menumbuhkan ekosistem solidaritas, tidak hanya di Indonesia tetapi juga di seluruh Asia-Pasifik,” kata Irfan.

APCQP telah menyiapkan struktur operasional yang mencakup diplomasi, program, akademisi, penelitian dan operasional. 

Fasilitas di Wisma Khadimul Ummah akan diaktifkan bertahap sebagai ruang konsolidasi berbagai pemangku kepentingan.

Bidik Rekonstruksi Gaza

Presiden APCQP, Prof Sudarnoto Abdul Hakim, menilai Indonesia dipilih karena memiliki posisi strategis sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia sekaligus memiliki pengaruh geografis dan geopolitik.

“Ekspektasi masyarakat internasional kepada Indonesia, baik pemerintah maupun civil society, sangat besar. Kepercayaan dari kawan-kawan di Global Coalition ini disepakati secara aklamasi oleh 22 negara yang hadir dalam konferensi tahun lalu,” kata Prof Sudarnoto.

Ia menegaskan APCQP tidak ingin berhenti pada solidaritas moral, tetapi mendorong agenda konkret di tengah krisis Palestina.

“Kita harus merebut narasi rekonstruksi Gaza. Ini adalah hak kita dan tanggung jawab kemanusiaan bersama. Melalui konsolidasi di Asia Pasifik, kita lawan hegemoni tersebut demi menyelamatkan generasi masa depan Palestina,” kata Prof Sudarnoto.

Dorong Tekanan Regional

Anggota Steering Committee APCP, Dubes Bunyan Saptomo, menilai diplomasi masyarakat sipil semakin penting ketika jalur diplomasi antar-pemerintah menghadapi tantangan.

“Sekarang Israel masih terus melakukan serangan dan kezaliman di Gaza. Bahkan Israel menolak proses BoP,” ujar Bunyan.

Karena itu, APCP memperluas jejaring akademisi, lembaga riset dan media untuk mendorong pemerintah negara-negara Asia-Pasifik mengambil sikap lebih tegas terhadap hak rakyat Palestina.

Selain itu, APCP menyiapkan program persaudaraan strategis Indonesia-Palestina melalui jaringan ulama, jurnalis, fasilitas kesehatan dan institusi pendidikan.

Konsolidasi tersebut juga diarahkan untuk menguatkan Bulan Solidaritas Internasional untuk Rakyat Palestina setiap November, sekaligus memperbesar tekanan masyarakat internasional terhadap pendudukan Israel.

Google

Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang