Ibu dari Anak Elon Musk Gugat xAI Usai Grok Buat Foto Telanjang Palsu

Diana Medium.jpeg

Sabtu, 17 Januari 2026 – 16:36 WIB

Konglomerat Elon Musk mengumumkan rencana mendirikan partai politik baru di Amerika Serikat (AS). (Foto: Getty Images/Kevin Dietsch)

Konglomerat Elon Musk mengumumkan rencana mendirikan partai politik baru di Amerika Serikat (AS). (Foto: Getty Images/Kevin Dietsch)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Ashley St Clair, ibu dari salah satu anak Elon Musk, mengajukan gugatan terhadap perusahaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) xAI.

Gugatan itu dilayangkan setelah Ashley menjadi korban hasil manipulasi foto chatbot Grok di platform X.

Dalam gugatan yang diajukan di New York, Ashley menuding Grok menghasilkan gambar-gambar seksual eksplisit tanpa persetujuannya. Menurutnya, teknologi tersebut telah disalahgunakan oleh pengguna X untuk membuat konten tidak senonoh, termasuk saat dirinya masih di bawah umur.

Dalam dokumen gugatan disebutkan bahwa pengguna X meminta Grok menelanjangi foto Ashley saat berusia 14 tahun dan permintaan tersebut dikabulkan oleh sistem AI. Gugatan itu juga menuding pengembang Grok mengetahui tidak adanya persetujuan, tetapi tetap membiarkan pembuatan gambar tersebut.

Selain itu, Ashley mengeklaim Grok pernah menghasilkan gambar dirinya mengenakan bikini bertema simbol Nazi. Ia juga menuding xAI melakukan pembalasan dengan menonaktifkan monetisasi akun X miliknya setelah ia mengajukan keluhan.

Secara terpisah dalam wawancara bersama CNN, Ashley menegaskan bila peristiwa tersebut tidak hanya mengancam dirinya pribadi melainkan juga perempuan dan anak-anak secara umum.

“Karena ini bukan hanya tentang saya, ini tentang membangun sistem dan sistem AI yang dapat menghasilkan (dampak) dalam skala besar, dan menganiaya perempuan dan anak-anak. Dan tidak ada konsekuensi apa pun atas apa yang terjadi saat ini,” kata Ashley dikutip Sabtu (17/1/2026).

Ia menilai xAI seolah tak mengambil tindakan apapun untuk menghentikan perilaku mengubah foto menjadi tidak senonoh, tanpa persetujuan orang yang ada dalam foto tersebut.

“Dan coba tebak, jika Anda harus menambahkan keselamatan demi bahaya, itu bukanlah keselamatan sama sekali. Itu hanyalah pengendalian kerusakan. Dan itulah yang mereka lakukan, bukan?,” ucap dia.