Warga memakai payung untuk menghindari paparan sinar matahari saat cuaca panas melanda di Kawasan Jembatan Pinisi, Karet, Jakarta Selatan, Rabu (27/9/2023). (Foto: Inilah.com/Didik Setiawan).
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Musim kemarau tidak hanya meningkatkan suhu udara, tetapi juga dapat memperburuk kualitas udara akibat debu, emisi pembakaran, hingga asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko gangguan kesehatan, termasuk infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
Ahli kesehatan lingkungan Prof. Dr. R. Budi Haryanto, S.K.M., M.Kes., M.Sc., mengatakan kondisi udara yang lebih kering selama musim kemarau membuat paparan berbagai polutan perlu diwaspadai masyarakat.
“Kalau kaitannya dengan kemarau ya, dari kondisi kering, terus katakanlah dari berbagai sumber ya, ada debu, emisi pembakaran dan sebagainya. Ini yang kemudian memperburuk kualitas udara, kemudian ketika terhirup ada iritasi pada saluran napas,” kata Budi di Jakarta, Kamis (13/8) dikutip dari Antara.
Guru besar Departemen Kesehatan Lingkungan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) itu menjelaskan, kualitas udara yang buruk dapat mengganggu saluran pernapasan dan meningkatkan risiko terjadinya infeksi.
Menurut Budi, dampak paparan polusi terhadap setiap orang dapat berbeda, salah satunya bergantung pada kondisi daya tahan tubuh. Ketika pertahanan tubuh menurun, paparan polutan dapat memperbesar risiko gangguan kesehatan pada saluran pernapasan.
“Karena itu masuk ke dalam tubuh manusia, tergantung manusianya kan, daya tahan tubuhnya lagi bagus atau tidak gitu. Itu yang kemudian menyebabkan infeksi-infeksi saluran napas ya, yang antara lain adalah ISPA,” ujarnya.
Selain debu dan emisi pembakaran, masyarakat juga perlu mewaspadai polusi yang berasal dari asap kebakaran hutan dan lahan. Asap karhutla dapat membawa berbagai senyawa yang berbahaya bagi kesehatan apabila terhirup.
Budi menyebut sejumlah senyawa yang dapat terdapat dalam asap kebakaran hutan dan lahan, antara lain karbon monoksida, metana, nitrogen oksida, dan sulfur dioksida.
Paparan senyawa tersebut tidak hanya berpotensi memicu ISPA atau gangguan pada saluran pernapasan. Dampaknya dapat lebih luas tergantung jenis dan tingkat paparan serta kondisi kesehatan orang yang terpapar.
“Itu yang kemudian tidak hanya menyebabkan ISPA atau gangguan saluran napas, tapi bisa lebih dalam lagi, ke penyakit berbagai penyakit-penyakit yang kaitannya dengan senyawa kimia tadi,” kata Budi.
BMKG Ingatkan Risiko Kesehatan Selama Musim Kemarau
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya juga mengingatkan masyarakat dan pemangku kepentingan mengenai potensi masalah kesehatan selama musim kemarau.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan menjelaskan, minimnya tutupan awan pada musim kemarau dapat menyebabkan peningkatan suhu udara.
Cuaca panas tersebut tidak hanya meningkatkan risiko gangguan kesehatan akibat paparan panas, tetapi juga dapat meningkatkan potensi terjadinya kebakaran hutan dan lahan. Asap dari kebakaran kemudian dapat memperburuk kualitas udara dan meningkatkan risiko gangguan pernapasan.
Karena itu, masyarakat dianjurkan mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kondisi cuaca sangat panas. Jika harus beraktivitas di luar rumah, masyarakat dapat menggunakan pelindung seperti topi dan masker.
Kebutuhan cairan juga perlu diperhatikan untuk mencegah dehidrasi akibat paparan suhu panas. Masyarakat juga dianjurkan menerapkan pola hidup bersih dan sehat serta mengonsumsi makanan dengan gizi seimbang untuk membantu menjaga kondisi tubuh.
Dengan meningkatnya suhu dan potensi penurunan kualitas udara selama musim kemarau, kewaspadaan menjadi penting, terutama ketika terjadi paparan debu, asap pembakaran, maupun asap karhutla. Masyarakat perlu memperhatikan kondisi lingkungan dan membatasi paparan polusi agar risiko gangguan kesehatan pernapasan dapat ditekan.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.










