Harga Plastik Mencekik Leher, 2 Juta Pekerja Industri AMDK Terancam Menganggur

Iwan Medium.jpeg

Rabu, 15 April 2026 – 04:09 WIB

Ilustrasi--Bisnis air minum dalam kemasan (AMDK). (Foto: Antara).

Ilustrasi–Bisnis air minum dalam kemasan (AMDK). (Foto: Antara).

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Kenaikan harga plastik di kisaran 30–100 persen membuat pengusaha air minum dalam kemasan (AMDK) semakin sesak napas. Membuat biaya produksi melonjak tinggi. Opsi mengerek harga bukanlah solusi karena justru membuat omzet sepi, dan perlahan mati.

Ketua Umum Perkumpulan Usaha Air Minum Dalam Kemasan Nusantara (Amdantara), Karyanto Wibowo, mengakui bisnis AMDK mengalami tekanan biaya plastik yang cukup hebat.

“Amdantara melihat bahwa industri AMDK saat ini berada dalam tekanan biaya yang cukup serius, seiring meningkatnya harga bahan baku kemasan, terutama plastik resin, yang dipengaruhi oleh faktor global seperti harga minyak, gangguan rantai pasok, dan volatilitas geopolitik,” ujar Karyanto di Jakarta, Selasa (14/4/2026).

Karyanto menuturkan, kenaikan bahan baku kemasan ini secara langsung berdampak pada struktur biaya (cost structure) industri. “Di sisi lain, daya beli masyarakat masih sangat sensitif, sehingga ruang untuk penyesuaian harga menjadi sangat terbatas,” ucapnya.

Karyanto mengatakan, pelaku industri AMDK saat ini tengah berupaya menjaga pasokan air minum yang aman, terjangkau, dan berkualitas bagi masyarakat, sekaligus tetap patuh terhadap regulasi dan komitmen keberlanjutan lingkungan.
“Artinya, tekanan biaya ini bukan hanya soal bisnis, tetapi juga menyangkut ketahanan pangan dan kesehatan publik,” jelas Karyanto.

Industri air minum dalam kemasan (AMDK) nasional terus menunjukkan kinerja positif di tengah tantangan industri dan isu keberlanjutan. Pemerintah mencatat sektor ini memiliki peran strategis, baik dari sisi penciptaan lapangan kerja, investasi, maupun kontribusi terhadap perdagangan.

Sebelumnya, Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Putu Juli Ardika, menyampaikan bahwa saat ini terdapat 707 pabrik AMDK yang beroperasi di Indonesia. Mayoritas berlokasi di Pulau Jawa.

Total kapasitas terpasang industri AMDK mencapai 47 miliar liter per tahun, dengan tingkat utilisasi yang relatif tinggi, yakni 71,62 persen. Industri ini menyerap sekitar 46.000 tenaga kerja langsung, serta lebih dari 2 juta tenaga kerja di sepanjang rantai distribusi. Artinya, jika bisnis AMDK gulung tikar, sedikitnya nasib 2 juta pekerjanya langsung menjadi pengangguran.

Putu menyebut, dari sisi investasi, nilai yang ditanamkan di industri AMDK tercatat mencapai Rp27,8 triliun. Sementara itu, pangsa pasar domestik mencapai 99,7 persen, menandakan bahwa sebagian besar produksi AMDK ditujukan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Kinerja perdagangan industri AMDK juga mencatatkan tren positif. Nilai ekspor AMDK tercatat sekitar US$21,03 juta hingga November 2025. Kondisi tersebut menghasilkan surplus perdagangan sebesar US$18,83 juta pada 2024 dan US$17,31 juta pada 2025.

Secara sebaran wilayah, industri AMDK hadir di 36 provinsi, dengan 54 persen pabriknya berlokasi di Jawa. Sisanya, 46 persen tersebar di hampir seluruh provinsi lainnya. Saat ini, terdapat dua pabrik AMDK yang telah memperoleh predikat National Lighthouse Industri 4.0 sebagai percontohan transformasi digital industri manufaktur nasional.

Google

Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang