Harga Minyak Dunia Turun Seiring Mulai Pulihnya Lalu Lintas Selat Hormuz

Harga minyak mentah secara serempak melemah pada perdagangan Kamis (25/6/2026), seiring dengan mulai normalnya lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz yang sempat ‘macet’ akibat konflik berkepanjangan di Timur Tengah.

Penurunan harga ini sekaligus menghapus kenaikan tajam yang sempat terjadi beberapa bulan terakhir. Para pelaku pasar kini mulai bernapas lega setelah kekhawatiran mengenai terputusnya pasokan minyak dunia perlahan mereda seiring terbukanya kembali koridor energi paling vital di planet ini.

Berdasarkan data perdagangan terkini, minyak mentah Brent sebagai patokan internasional harus rela terjerembap 1,7 persen ke posisi di bawah US$72,50 per barel. Nasib serupa dialami minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) yang melemah 1,4 persen ke kisaran US$69,40 per barel.

Secara teknikal, penurunan ini membawa harga si ‘emas hitam’ kembali ke level sebelum pecahnya perang di Timur Tengah pada akhir Februari lalu. Bagi konsumen, tentu ini adalah sinyal positif, namun bagi pasar, ini adalah bukti betapa krusialnya peran Selat Hormuz dalam menstabilkan harga komoditas dunia.

Puluhan Kapal Tanker Mulai Bergerak

Laporan dari perusahaan pemantau perdagangan Kpler memberikan gambaran yang cukup jelas mengenai situasi di lapangan. Tercatat lebih dari 20 kapal tanker yang mengangkut sekitar 35 juta barel minyak mentah telah berhasil melintasi Selat Hormuz sejak adanya kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran untuk membuka kembali jalur tersebut.

Sebagian besar kapal-kapal tersebut adalah tanker non-Iran yang selama tiga bulan terakhir terpaksa ‘parkir’ di Teluk Persia akibat kebijakan pembatasan lalu lintas oleh Teheran. 

Diprediksi, jutaan barel minyak ini akan mencapai pasar Asia pada awal Agustus mendatang, sebuah skenario yang memberikan harapan besar bagi stabilnya pasokan fisik minyak mentah dunia dalam beberapa pekan ke depan.

Ancaman di Balik Normalisasi Arus Energi

Namun, di balik pulihnya lalu lintas pelayaran ini, bara api konflik belum benar-benar padam sepenuhnya. Dunia masih harus waspada karena risiko keamanan di kawasan Teluk tetap menjadi catatan penting yang tidak bisa diabaikan begitu saja.

Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), pada Kamis, mengeluarkan pernyataan tegas yang mengingatkan bahwa setiap kapal yang melintas wajib mengikuti jalur yang telah ditetapkan oleh Teheran. Bahkan, mereka tak segan-segan mengancam akan melakukan tindakan bagi siapa saja yang melanggar instruksi pelayaran tersebut.

Peringatan dari IRGC ini menjadi pengingat bagi dunia bahwa meskipun kapal tanker sudah mulai kembali berlayar, normalisasi arus energi di kawasan Teluk masih menyimpan kerentanan tinggi terhadap dinamika politik dan militer yang sewaktu-waktu bisa berubah.