Industri penerbangan Korea Selatan sedang tidak baik-baik saja. Gejolak di Timur Tengah yang memicu konflik AS-Iran telah mengirimkan gelombang kejut pada harga bahan bakar jet (avtur). Akibatnya, maskapai berbiaya rendah (LCC) di Negeri Ginseng itu terpaksa mengambil langkah darurat dengan memangkas hingga 900 jadwal penerbangan pulang pergi.
Hingga Minggu (10/5/2026), kebijakan pahit ini terus bergulir. Selain pembatalan terbang, manajemen maskapai mulai menerapkan cuti tanpa gaji bagi karyawan demi menjaga napas perusahaan di tengah biaya operasional yang mencekik.
Avtur Meroket 150 Persen
Lonjakan harga bahan bakar menjadi biang kerok utama. Sejak perang pecah, harga avtur tercatat melonjak hingga 2,5 kali lipat. Merujuk pada data harga rata-rata bahan bakar jet Singapura—yang menjadi patokan biaya tambahan (fuel surcharge)—harga kini bertengger di angka US$214,71 atau setara Rp3,7 juta per barel.
Angka ini merupakan kenaikan drastis sebesar 150 persen hanya dalam waktu dua bulan terakhir. Kondisi ini diperparah dengan melemahnya nilai tukar won Korea, yang membuat beban operasional maskapai kian berat.
Pemangkasan Rute Internasional Masif
Jeju Air Co., maskapai LCC terbesar di Korea Selatan, telah memutuskan memangkas 187 penerbangan internasional. Kebijakan ini menyasar rute gemuk dari Incheon menuju Bangkok, Singapura, serta destinasi Vietnam seperti Da Nang dan Phu Quoc.
Langkah serupa diambil Jin Air Co. yang membatalkan 176 jadwal penerbangan menuju Guam dan Phu Quoc hingga akhir Mei. Di segmen layanan penuh (full service), Asiana Airlines Inc. turut memangkas 27 penerbangan pada enam rute strategis, termasuk Istanbul dan Phnom Penh.
“Permintaan perjalanan rute jarak menengah dan jauh melemah drastis. Beban biaya tambahan bahan bakar membuat penumpang berpikir dua kali untuk terbang,” ujar seorang pejabat industri maskapai.
Manajemen Darurat dan Ancaman Kerugian
Situasi ini memaksa maskapai masuk ke mode bertahan. Korean Air, Asiana, Jin Air, hingga T’way Air secara serentak mengaktifkan sistem manajemen darurat.
T’way Air dan Jeju Air mulai memperkenalkan program cuti tanpa gaji bagi stafnya. Sementara itu, Jin Air memilih menunda pembayaran insentif keselamatan kepada karyawan guna menghemat arus kas.
Para analis memperkirakan, meski maskapai mencatatkan pendapatan solid pada kuartal pertama, rapor merah diprediksi akan menghiasi kuartal kedua 2026. Maskapai berbiaya rendah (LCC) dinilai paling rentan tumbang karena memiliki fondasi keuangan yang lebih tipis dibandingkan maskapai raksasa dalam menghadapi badai kenaikan harga minyak dunia dan penurunan permintaan perjalanan.













