Garuda Indonesia Belum Bangkit Meski Sudah Dimodali, Ini Solusi dari Pakar

Diana Medium.jpeg

Jumat, 20 Maret 2026 – 13:05 WIB

Armada pesawat Garuda Indonesia. (Shutterstock)

Armada pesawat Garuda Indonesia. (Shutterstock)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Pengamat BUMN dan Direktur NEXT Indonesia Center, Herry Gunawan mengatakan ada beberapa persoalan yang dihadapi oleh PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) hingga terus mengalami kerugian.

“Persoalan utama Garuda, kalau kita lihat dari laporan keuangannya, mayoritas beban keuangan berasal dari sewa pesawat. Ini sumber masalah yang perlu dibenahi dan sampai sekarang belum terlihat rencananya,” jelas Herry kepada inilah.com, Jumat (20/3/2026).

Kemudian ia menyebut efisiensi di bidang operasional dan produksi juga masih menjadi persoalan dalam hal ini.

Dengan masih banyaknya puluhan pesawat yang tidak dapat beroperasi, hal ini menunjukkan masih besarnya persoalan operasional Garuda. Kalau semua ini dibiarkan, kata dia, masalah di Garuda tidak akan pernah selesai.

“Suntikan modal seperti menggarami laut aja. Kondisi yang terjadi saat ini, dengan kerugian Garuda yang semakin dalam, menunjukkan juga bahwa Danantara salah perhitungan. Atau memang tidak ada perhitungan atau analisis mendalam saat ingin suntik modal ke Garuda,” tuturnya.

Herry menyebut sebagai langkah awal menyelesaikan masalah ini, Garuda harus melakukan restrukturisasi mencakup Garuda Group yang di dalamnya, termasuk entitas anak dan entitas asosiasi.

Selanjutnya, PT GIAA harus menegosiasikan kewajiban sewa pesawat agar lebih ramah dengan proyeksi kemampuan keuangan Garuda. Selain itu dari sisi bisnis Garuda perlu melakukan privatisasi seperti bisnis hotel, katering, atau lainnya. Hasilnya dapat digunakan untuk memperkuat modal Garuda.

Kemudian kata Herry, Garuda mesti meningkatkan efisiensi di bidang operasional, antara lain dengan menghitung ulang kebutuhan karyawan.

Lebih lanjut, Herry mengingatkan bahwa peran Danantara sangat krusial dalam proses restrukturisasi ini, mengingat lembaga tersebut terlibat dalam pengawasan dan pemberian suntikan modal.

Ia menilai Danantara harus terlebih dahulu memiliki arah dan skenario bisnis penerbangan yang jelas.

“Kalau Danantara tidak punya skenario rencana bisnis penerbangan ke depan, maka Danantara hanya akan jadi ‘pemadam kebakaran’ bagi masalah BUMN,” pungkas Herry.

Rapor Merah GIAA di 2025

Kritik pakar ini berakar pada catatan keuangan GIAA sepanjang tahun buku 2025 yang menunjukkan kemunduran signifikan:

Kerugian Meroket: Rugi bersih mencapai US$322,4 juta, melonjak sekitar 4,5 kali lipat dibandingkan kerugian tahun sebelumnya (US$72,7 juta).

Pendapatan Turun: Pendapatan turun 5,85 persen secara tahunan menjadi US$3,21 miliar.

Beban Usaha Stagnan: Beban usaha Garuda dan Citilink hanya turun tipis 0,17 persen menjadi US$3,1 miliar.

Beban Keuangan Naik: Meningkat 9,56 persen menjadi US$525,7 juta.

Selisih Kurs: Mencatat kerugian selisih kurs sebesar US$1,2 juta, berbalik dari tahun sebelumnya yang sempat untung Rp18 juta.

Suntikan Danantara dan Dinamika Saham

Sebagai informasi, GIAA telah menerima suntikan modal senilai Rp23,7 triliun (sekitar US$1,4 miliar) dari Danantara pada akhir 2025. Angka ini dipangkas dari rencana awal sebesar US$1,8 miliar, yang berimbas pada batalnya rencana ekspansi armada GIAA. Saat ini, 91,11 persen saham GIAA berada di bawah kendali pemerintah melalui Danantara.

Di lantai bursa, harga saham GIAA sempat melonjak 9,38 persen menjadi Rp70 per lembar pada perdagangan Selasa (17/3), meski nilai transaksinya relatif sepi di angka Rp2,78 miliar. Secara year-to-date (YTD), harga saham GIAA telah terkoreksi lebih dari 28 persen.
 

Google

Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang