Gara-gara Konflik Timur Tengah, Indef: Perekonomian Nasional Bisa Gagal Tumbuh

Iwan Medium.jpeg

Kamis, 25 Juni 2026 – 20:52 WIB

Direktur Program Indef, Eisha M. Rachbini (ketiga dari kiri) dalam Seminar Nasional Kajian Tengah Tahun 2026 di Jakarta, Kamis (25/6/2026). (Foto: ANTARA/Rizka Khaerunnisa)

Direktur Program Indef, Eisha M. Rachbini (ketiga dari kiri) dalam Seminar Nasional Kajian Tengah Tahun 2026 di Jakarta, Kamis (25/6/2026). (Foto: ANTARA/Rizka Khaerunnisa)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Institute for Development of Economics and Finance (Indef) memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat melambat hingga 0,21 persen apabila konflik di Timur Tengah terus berlanjut hingga akhir tahun dan memicu lonjakan harga energi global.

Direktur Program Indef, Eisha M. Rachbini, mengatakan proyeksi tersebut didasarkan pada simulasi model computable general equilibrium (CGE) yang disusun untuk mengukur dampak berbagai guncangan ekonomi global terhadap perekonomian nasional.

“Dalam simulasi kami, konflik yang berkepanjangan di Timur Tengah berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi Indonesia melalui kenaikan harga energi dan pelemahan daya beli masyarakat,” ujar Eisha dalam seminar di Jakarta, Kamis (25/6/2026).

Pada skenario pertama, konflik Timur Tengah berlangsung hingga akhir 2026 dan mendorong harga minyak dunia naik 30 persen dari asumsi dasar sebesar 70 dolar AS per barel. Dalam kondisi tersebut, Indeks Harga Konsumen (IHK) diperkirakan meningkat 0,28 persen.

Kenaikan harga energi itu diperkirakan menggerus daya beli masyarakat. Upah riil diproyeksikan turun 0,26 persen, ekspor terkontraksi 2,44 persen, sementara impor melonjak 7,80 persen akibat meningkatnya kebutuhan energi dan biaya impor bahan bakar.

“Ketika harga minyak naik, daya beli masyarakat tertekan dan inflasi meningkat. Dampaknya, upah riil menurun. Ekspor juga melemah karena impor, terutama untuk kebutuhan BBM, meningkat cukup besar,” kata Eisha.

Meski investasi diperkirakan masih tumbuh 1,20 persen, laju pertumbuhan ekonomi nasional tetap berpotensi melambat sebesar 0,21 persen.

Skenario kedua menggambarkan perlambatan ekonomi di negara-negara mitra dagang utama Indonesia. Dengan asumsi permintaan impor dari negara tujuan ekspor Indonesia turun 5 persen, IHK diperkirakan naik 0,11 persen, sedangkan upah riil turun 0,29 persen.

Dalam skenario ini, investasi diproyeksikan tumbuh 0,36 persen. Namun, ekspor diperkirakan mengalami penurunan paling dalam, yakni sebesar 5,05 persen. Sementara itu, impor berkurang 0,23 persen. Kondisi tersebut diperkirakan memangkas pertumbuhan ekonomi hingga 0,24 persen.

Adapun pada skenario ketiga, Indef mensimulasikan dampak fragmentasi perdagangan dan gangguan rantai pasok global akibat meningkatnya tarif maupun hambatan non-tarif.

Dalam kondisi tersebut, IHK diperkirakan naik 0,18 persen dan upah riil turun 0,23 persen. Investasi nyaris stagnan dengan kenaikan hanya 0,07 persen. Sementara itu, ekspor dan impor masing-masing diproyeksikan turun 1,16 persen dan 0,30 persen.

Akibatnya, pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan melambat sebesar 0,17 persen.

Eisha menegaskan bahwa kombinasi risiko geopolitik, disrupsi rantai pasok, fragmentasi perdagangan global, serta dampak perubahan iklim dapat menjadi ancaman serius bagi pertumbuhan ekonomi apabila tidak diantisipasi dengan kebijakan yang tepat.

“Jika risiko geopolitik, disrupsi dan fragmentasi rantai pasok, serta perubahan iklim tidak diimbangi fundamental ekonomi yang kuat dan kebijakan yang memadai, maka pertumbuhan ekonomi berpotensi mengalami kontraksi,” ujarnya.

Dengan berbagai tekanan tersebut, Indef memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan II 2026 berpotensi melambat ke kisaran 5 persen secara tahunan (year on year/yoy). Perlambatan itu dipengaruhi oleh normalisasi konsumsi setelah Lebaran, kenaikan harga energi dan pangan, pelemahan nilai tukar rupiah, serta meningkatnya biaya produksi.

Google

Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang