Dirut PT Agrinas Pangan Nusantara Joao Angelo De Sousa Mota berfoto bersama Direktur PT Tata Motors Distribusi Indonesia. Agrinas sepakat mengimpor 105.000 unit pikap dan truk dari India untuk Koperasi Desa Merah Putih. [Foto: Tata Motors]
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Di tengah hebohnya importasi mobil pikap asal India sebanyak 105.000 unit, senilai Rp24,66 triliun, diam-dam sudah masuk seribuan unit. Informasi ini tentunya membuat publik semakin curiga akan pengadaan mobil pikap yang katanya untuk keperluan Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih.
Direktur Utama PT Agrinas Pangan Nusantara (Persero), Joao Angelo De Sousa Mota mengakui, sebanyak 1.000 unit mobil pikap dari pesanan 105.000 unit asal India, sudah masuk ke Indonesia. Mobil ‘made in’ India itu masuk melalui Pelabuhan Tanjung Priok.
Nantinya, kata Joao, mobil tersebut akan didistribusikan ke Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) di daerah-daerah. “Yang sudah pasti disini yang sudah sampai disini karena kita juga sampai hari ini sudah sudah selesai membangun 1.357 unit,” ujar Joao dalam Konferensi Pers di Yodya Tower, dikutip Kamis (26/2/2026).
Namun, dia tidak membeberkan secara rinci ke daerah mana saja mobil tersebut akan dibagikan. Dipastikan impor mobil pikap India dari Mahindra dan Tata itu, terus dilanjutkan pada tahun ini. “Kalau diizinkan untuk kami suplai,” jelas dia.
Adapun, dia menyebut pihaknya belum menerima keputusan untuk untuk menunda impor pikap sebanyak 105.000 dari India. Menurutnya, pihak-pihak yang menolak impor tersebut berasal dari kalangan individu bukan pemerintah ataupun masyarakat.
“Yang menolak ini siapa? karena saya ini kan BUMN. Saya pasti taat kepada pemerintah dan taat kepada pemerintah dan rakyat jadi kami hanya amil kami setia kepada negara dan rakyat tidak kepada individu atau kelompok tertentu,” jelasnya.
Meskipun begitu, dia mengaku akan patuh pada peraturan jika pemerintah memutuskan untuk menghentikan mobil impor tersebut.
“Selama negara berpihak mendukung apa yang kami lakukan akan kami laksanakan. Tapi kalau negara dan DPR mengatakan bahwa kami harus hentikan, kami hentikan dengan segala risiko tadi saya sudah sampaikan,” ucapnya.
Lebih lanjut, dia menyebut berencana untuk melakukan pertemuan dengan Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad untuk memberi penjelasan lebih lanjut mengenai impor mobil asal India itu.
Menurutnya, selama ini pimpinan DPR itu hanya mendapatkan penjelasan dari satu pihak saja. Dengan adanya penjelasan dari Agrinas Pangan, dia berharap pemerintah dapat memiliki pandangan luas untuk mempertimbangkan keputusan kedepannya.
Dasco Minta Tunda
Sebelumnya, Wakil Ketua DPR RI, Sufmi Dasco Ahmad meminta agar impor 105 ribu mobil pikap ditunda. Keputusan tersebut harus menunggu persetujuan Presiden Prabowo Subianto yang masih melakukan lawatan ke luar negeri.

Kata Dasco, impor ratusan ribu unit mobil tersebut, perlu didiskusikan lebih lanjut mulai dari sumber anggaran hingga perhitungan pascajualnya. Dengan demikian, kalkulasi beban fiskal di masa mendatang dapat termitigasi.
“Tentunya Presiden pada saat pulang akan membahas detail-detail mengenai impor tersebut. Dan tentunya juga presiden akan meminta pendapat dan mengkalkulasi kesiapan dari perusahaan dalam negeri,” ujar Dasco.
Menteri Perindustrian (Menperin), Agus Gumiwang Kartasasmita, sebelumnya, melontarkan protes keras. Dia bilang, Indonesia sebenarnya sanggup memproduksi mobil pikap berkapasitas besar.
“Apabila seluruh kebutuhan kendaraan pikap dipenuhi dari impor, maka nilai tambah ekonomi dan penyerapan tenaga kerja akan dinikmati industri luar negeri,” kata Menperin Agus.
Bahkan, kata politikus Partai Golkar itu, pabrik kendaraan komersial di Indonesia mampu memproduksi hingga 1 juta unit kendaraan setahun. Dengan kata lain, pabrikan otomotif dalam negeri mampu memenuhi kebutuhan tersebut. Karena hanya 10-15 persen dari total kemampuan produksi dalam negeri.
“Namun, bila dipenuhi industri dalam negeri, maka manfaat ekonomi, penciptaan lapangan kerja, dan penguatan industri nasional akan dirasakan di dalam negeri,” terang Menperin Agus.
Ekonom Senior INDEF, Didik J Rachbini yang getol mengkritik lambannya perkembangan industri di tanah air, ikut buka suara. Dia sangat menyayangkan keputusan Agrinas memilih mobil pikap asal India, ketimbang buatan anak bangsa.
“Impor sebanyak itu berpotensi menekan neraca perdagangan dan memperburuk neraca pembayaran. Dan, sektor ekspor otomotif RI menjadi salah satu yang terdampak. Ini akan mempengaruhi basis produksi otomotif dalam negeri yang saat ini tengah diperkuat,” tandasnya.













