FIFA Pusing Tujuh Keliling Urus Nasib Iran Jelang Piala Dunia 2026

Ibnu Medium.jpeg

Kamis, 5 Maret 2026 – 04:27 WIB

Presiden Trump menerima Hadiah Perdamaian FIFA dari presiden organisasi tersebut, Gianni Infantino, selama pengundian Piala Dunia di Washington pada bulan Desember. (Foto: Getty Images)

Presiden Trump menerima Hadiah Perdamaian FIFA dari presiden organisasi tersebut, Gianni Infantino, selama pengundian Piala Dunia di Washington pada bulan Desember. (Foto: Getty Images)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Eskalasi konflik di Timur Tengah menciptakan preseden luar biasa bagi ajang olahraga terbesar di dunia. Hanya tiga bulan menjelang kick-off Piala Dunia 2026, Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) dihadapkan pada situasi pelik: Amerika Serikat selaku negara tuan rumah kini berstatus perang dengan Iran, salah satu negara peserta.

Beberapa jam setelah kampanye militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran dimulai pada Sabtu lalu, para pejabat FIFA yang tengah berkumpul di Wales—agenda yang sejatinya hanya pertemuan tahunan rutin—terpaksa menggelar pembicaraan darurat. Fokus utama mereka adalah menyusun skenario antisipasi, termasuk potensi mencari tim pengganti bagi Iran di turnamen yang diikuti 48 negara tersebut.

Momen serangan ini juga menempatkan Presiden FIFA, Gianni Infantino, dalam posisi yang canggung. Pada Desember lalu, Infantino baru saja menganugerahkan “FIFA Peace Prize” perdana kepada Presiden AS Donald Trump, sosok yang belakangan menyatakan tidak peduli apakah Iran akan bermain atau tidak di Piala Dunia. Sejauh ini, Infantino belum memberikan komentar publik terkait konflik tersebut.

Sekretaris Jenderal FIFA, Mattias Grafstrom, menyatakan di Wales bahwa pihaknya terus memantau perkembangan di Teluk Persia. Namun, ia enggan memastikan apakah partisipasi Iran—yang dijadwalkan melakoni laga perdana pada 16 Juni di Pantai Barat AS (Los Angeles dan Seattle)—berada dalam ancaman.

Di sisi lain, Presiden Federasi Sepak Bola Iran (FFIRI), Mehdi Taj, bersikap pesimistis dengan menyatakan bahwa pasca-serangan yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, timnas Iran tidak bisa lagi menatap Piala Dunia dengan penuh harapan.

Efek Domino ke Ajang Olahraga Global Lainnya

Selain Piala Dunia, krisis geopolitik ini juga menghantam berbagai kalender olahraga dunia secara instan:

Paralimpiade Musim Dingin: Jelang pembukaan Paralimpiade di Italia, isu boikot mencuat. Menteri Olahraga Rusia, Mikhail Degtyarev, menyindir negara-negara yang memboikot Rusia dengan mempertanyakan apakah mereka juga akan memboikot keikutsertaan AS dan Israel pasca-serangan ke Iran. Komite Olimpiade Internasional (IOC) merespons dengan menyebut resolusi Gencatan Senjata Olimpiade bersifat “aspirasional dan tidak mengikat”.

Kualifikasi Piala Dunia: Pelatih timnas Irak asal Australia, Graham Arnold, tertahan di Uni Emirat Arab akibat penutupan wilayah udara. Sementara itu, sejumlah pemain kesulitan mendapatkan visa ke Meksiko karena penutupan kedutaan.

Laga Uji Coba Internasional: Pertandingan persahabatan bergengsi antara Spanyol melawan Argentina serta Mesir kontra Arab Saudi yang dijadwalkan di Qatar terancam dipindah. Hal ini menyusul status Qatar yang berada di kawasan Teluk dan rentan terhadap sasaran rudal.

Formula 1 dan Tenis: F1 terpaksa mengubah rute penerbangan bagi sekitar seribu staf yang menuju Grand Prix Australia. Di saat yang sama, sebuah turnamen tenis di Uni Emirat Arab terpaksa ditangguhkan pada hari Rabu setelah para peserta berlarian menghindari serangan drone.

Situasi ini menegaskan betapa rentannya ekosistem olahraga global ketika kawasan Timur Tengah—yang selama dua dekade terakhir bertransformasi menjadi pusat perhelatan olahraga dunia—terjebak dalam pusaran konflik bersenjata.