Upaya perdamaian antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kini berada di persimpangan jalan yang terjal. Meski Presiden Donald Trump telah mengumumkan kesepakatan gencatan senjata selama dua pekan, langkah tersebut diprediksi bakal menghadapi ganjalan besar dari Israel yang berupaya menggagalkan stabilitas tersebut.
Mantan Duta Besar Inggris untuk Suriah, Peter Ford, memberikan analisis tajam terkait dinamika ini. Menurutnya, Israel di bawah kepemimpinan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dipastikan akan mencoba menyabotase upaya diplomasi Washington-Teheran. Namun, Ford mencatat ada dua tantangan baru yang harus dihadapi Tel Aviv kali ini.
“Israel tentu akan mencoba menggagalkan upaya tersebut. Namun, mereka menghadapi dua tantangan baru. Trump tidak akan mudah dimanipulasi, dan pengalaman menunjukkan bahwa Iran tidak dapat dipaksa tunduk hanya dengan pengeboman,” tegas Ford dalam wawancaranya dengan RIA Novosti, dikutip Sabtu (11/4/2026).
Lebanon Jadi Titik Didih
Bara api di Lebanon disebut menjadi hambatan utama. Saat Washington dan Teheran mencoba mendinginkan suasana, militer Israel justru terus menggempur sasaran yang diklaim sebagai basis Hizbullah. Pada Rabu lalu, pesawat tempur dan artileri Israel menghantam belasan permukiman di Lebanon selatan, termasuk kota bersejarah Tyre.
Situasi ini menjadi dilema bagi Donald Trump. Di satu sisi, ia berhasil mengamankan kesepakatan pembukaan kembali Selat Hormuz yang vital bagi ekonomi dunia. Namun di sisi lain, Trump menyatakan bahwa penghentian serangan Israel ke Lebanon tidak termasuk dalam paket kesepakatan dengan Iran karena faktor Hizbullah.
“Kekuatan Iran yang meningkat kini berhadapan langsung dengan sikap keras Netanyahu. Bagi Netanyahu, penarikan diri dari Lebanon dianggap sebagai hal yang memalukan. Keseimbangan kekuatan baru ini bisa terguncang hebat oleh situasi tersebut,” lanjut Ford.
Pelanggaran Gencatan Senjata?
Ketegangan ini bermula dari serangan udara AS dan Israel ke jantung Teheran pada 28 Februari lalu yang menelan korban jiwa sipil. Iran membalas dengan menghujam wilayah Israel serta fasilitas militer AS di Timur Tengah. Eskalasi inilah yang kemudian coba diredam Trump melalui kesepakatan gencatan senjata Selasa malam lalu.
Namun, Teheran memiliki pandangan berbeda. Meski Trump mengecualikan Lebanon dari kesepakatan, Iran menilai berlanjutnya agresi Israel di wilayah tersebut sebagai pelanggaran nyata terhadap semangat gencatan senjata yang telah disepakati dengan Amerika Serikat.
Dunia kini menanti, apakah ‘diplomasi koboi’ ala Trump mampu meredam ambisi Netanyahu, ataukah stabilitas di Selat Hormuz akan kembali pecah akibat bara api yang tak kunjung padam di Lebanon selatan.













