Menteri Sosial Saifullah Yusuf (kiri), bersama Head of Environment & Social Responsibility Astra, Diah Suran Febrianti (kedua kiri), Penggerak Desa Sejahtera Astra Lombok Utara, Rumbe (kedua kanan), saat meninjau produk porang asal Desa Sejahtera Astra Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat pada (16/4). (Foto: Dok Astra).
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Astra terus memperkuat upaya pemberdayaan ekonomi masyarakat desa melalui pengembangan komoditas unggulan lokal di berbagai daerah di Indonesia. Program tersebut dijalankan lewat skema Desa Sejahtera Astra yang berfokus pada penguatan ekosistem usaha dari hulu hingga hilir.
Salah satu implementasinya dilakukan melalui kolaborasi dalam Kampus Berdampak dengan pendekatan One Village One CEO (OVOC). Program ini dijalankan di Desa Sejahtera Astra, Kabupaten Bandung Barat, pada Jumat (24/4), dengan tujuan membangun ekosistem bisnis desa berbasis potensi lokal.
Program di wilayah tersebut telah berjalan sejak 2020 dan mencakup sejumlah aktivitas, mulai dari pemetaan potensi produksi bersama kelompok tani, transfer teknologi dan pengetahuan, hingga peningkatan kualitas hasil hortikultura.
Selain itu, program juga memperkuat aspek pemasaran dan kemitraan dengan pasar. Total lahan yang dikelola mencapai 20 hektare dengan melibatkan sekitar 650 masyarakat dari enam desa serta kapasitas produksi sekitar 15 ton per siklus panen.
Komoditas yang dikembangkan meliputi hortikultura seperti selada air, labu, tomat, buncis kenya, cabai, kol merah, hingga paprika. Melalui pendampingan yang diberikan, petani juga didorong untuk meningkatkan kapasitas produksi, kualitas panen, serta perluasan akses pasar. Dampaknya, terjadi kenaikan pendapatan masyarakat dari sekitar Rp1,2 juta menjadi Rp2,5 juta per bulan.
Chief of Corporate Affairs Astra Boy Kelana Soebroto mengatakan desa memiliki potensi besar sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru.
“Astra memandang desa bukan hanya sebagai objek pemberdayaan, tetapi sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru. Melalui pengembangan komoditas unggulan yang terintegrasi dari hulu hingga hilir, kami ingin memastikan masyarakat tidak hanya mampu memproduksi, tetapi juga memiliki daya saing dan akses pasar yang berkelanjutan,” ujar Boy.
Selain di Bandung Barat, Astra juga menjalankan program serupa di Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat, dengan fokus pengembangan komoditas porang. Kolaborasi ini diperkuat melalui penandatanganan nota kesepahaman antara Kementerian Sosial RI, Universitas Mataram, dan offtaker PT Sanindo Pangan Rinjani pada Kamis (16/4). Kesepakatan tersebut ditujukan untuk mempercepat pengembangan ekosistem porang di daerah tersebut.
Program di Lombok Utara sendiri telah berjalan sejak 2019 dengan melibatkan 432 masyarakat dari 16 desa. Pendampingan yang dilakukan mencakup pelatihan budidaya hingga pascapanen, pengolahan hasil pertanian, sertifikasi produk, serta penguatan sarana produksi.
Sejumlah komoditas yang dikembangkan antara lain porang, sorgum, kemiri, mete, kelor, dan cabai. Program ini turut mendorong peningkatan pendapatan masyarakat dari sebelumnya di bawah Rp1 juta menjadi sekitar Rp3 juta per bulan, sekaligus membuka lapangan kerja baru.
Secara nasional, hingga 2025, program Desa Sejahtera Astra telah menjangkau 1.533 desa di 180 kabupaten di Indonesia. Program ini mencatat rata-rata peningkatan pendapatan masyarakat sebesar 56,85 persen serta menciptakan lebih dari 3.700 lapangan kerja baru.
Selain itu, 492 desa binaan telah berhasil menembus pasar ekspor ke 26 negara dengan total nilai sekitar Rp411 miliar.
Astra menegaskan bahwa penguatan desa sejalan dengan komitmen perusahaan dalam mendukung pembangunan berkelanjutan serta pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) di Indonesia.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.













