Dampak Serangan Israel-AS ke Iran: Modal Asing Minggat Bikin Rupiah Semakin Ambruk Ambruk

Iwan Medium.jpeg

Minggu, 1 Maret 2026 – 22:18 WIB

Pegawai menunjukkan uang rupiah dan dolar AS di Bank Syariah Indonesia, Tangerang Selatan, Banten, Rabu (21/1/2026). (Foto: ANTARA/Hafidz Mubarak A/wsj).

Pegawai menunjukkan uang rupiah dan dolar AS di Bank Syariah Indonesia, Tangerang Selatan, Banten, Rabu (21/1/2026). (Foto: ANTARA/Hafidz Mubarak A/wsj).

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Serangan militer membabi-buta AS-Israel terhadap Iran yang berujung kepada penutupan Selat Hormuz, dan retaliasi lanjutan, bakal mengganggu distribusi rantai pasok global. Serta mendorong kenaikan harga energi.

Jika eskalasinya menarik sejumlah negara besar terlibat, Dewan Penasihat CILT Indonesia sekaligus Ketua Dewan Pembina ALFI, Yukki Nugrahawan Hanafi, menyebut adanya potensi destabilisasi ekonomi global.

Yukki mengatakan, serangan AS-Israel atau Major Combat Operations, terhadap Iran, sangat mengancam stabilitas politik dan ekonomi dunia. Dari sisi logistik dan rantai pasok dunia, dipastikan terganggu jika perdamaian tidak terwujud di Timur Tengah.

“Eskalasi konflik ini langsung menarik perhatian dunia akan gangguan rantai pasok logistik global yang bisa menekan ekonomi banyak negara. Terlebih retaliasi Iran saat ini melakukan blokade di Selat Hormuz yang merupakan jalur distribusi minyak dan gas utama dari Timur Tengah ke berbagai negara,” kata Yukki dikutip dari Antara, jakarta, Minggu (1/3/2026).

Sebagai informasi, dampak langsung serangan militer di Timur Tengah ini terlihat pada kenaikan harga minyak WTI dan Brent yang menyentuh masing-masing 67$ dan 72,8$ pada Sabtu lalu (28/2).

Selanjutnya, Yukki menilai setidaknya ada dua dampak langsung jangka pendek terhadap perekonomian Indonesia. Pertama, kenaikan harga impor minyak. Sebagai negara net importir, Indonesia akan menghadapi peningkatan biaya subsidi energi dan tekanan terhadap defisit fiskal.

Pada satu sisi, jika harga acuan minyak dunia melebihi asumsi APBN, maka perlu ada penyesuaian yang menyebabkan beban APBN membesar, belum lagi dampak lanjutan pada inflasi dan biaya logistik yang meningkat.

Kedua, lanjutnya, volatilitas nilai tukar rupiah. akibat arus modal keluar (capital outflow). Dalam situasi ketidakpastian global, investor cenderung beralih ke aset aman seperti dolar AS dan emas. Tekanan jual di pasar saham dan obligasi domestik dapat melemahkan Rupiah, yang pada gilirannya memperbesar beban impor dan tekanan inflasi. Kondisi ini bisa mendorong Bank Indonesia untuk menjaga suku bunga tetap tinggi demi stabilitas nilai tukar.

“Kedua hal ini perlu menjadi fokus perhatian pemerintah Indonesia agar segera mengkalkulasi kesiapan dalam menghadapi berbagai skenario lanjutan dari konflik ini bila berkepanjangan. Tentunya, kami berharap konflik ini tidak berkepanjangan dan stabilitas kawasan Timur Tengah segara terjadi,” demikian Yukki.