Blunder Etho Bikin Timnas Gagal Total!

“Dalam hidupnya, seorang pria dapat mengubah istri, partai politik atau agama, tetapi dia tidak dapat mengubah tim sepak bola favoritnya.” – Eduardo Galeano

Bagi seorang pria pecinta bola, mendukung tim kesayangan adalah keharusan, kewajiban. Jika sudah sebegitu cintanya, tak ada yang mau tim kesayangannya terus-terusan kalah dan gagal.

Timnas Indonesia gagal total di SEA Games 2025, bahkan untuk sekadar lolos grup pun, Garuda Muda yang menyandang status juara bertahan SEA Games edisi sebelumnya, harus menggantungkan nasibnya pada pertandingan lain!

Ivar Jenner Cs gagal memenuhi target minimal dari Menpora sekaligus Ketum PSSI, Erick Thohir, untuk meraih medali perak.

Padahal, timnas SEA Games 2025 sudah dipersiapkan dengan berbagai fasilitas nomor wahid. Uji coba melawan Mali, meliburkan kompetisi Super League, meliburkan FIFA Matchday dengan alasan fokus persiapan. Namun hasilnya 0 besar!

Kegagalan medali semakin lengkap setelah timnas putri juga mengkakhiri kompetisi multi olahraga dua tahunan dengan finis di peringkat keempat. Garuda Pertiwi kalah dari tuan rumah Thailand dalam pertandingan perebutan medali perunggu.

Satu minggu setelah SEA Games 2025 selesai, evaluasi pemerintah belum juga diumumkan. Begitu juga PSSI yang belum ada tanda-tanda perbaikan. Erick Thohir tampaknya masih sibuk mengurus realisasi bonus atlet peraih medali emas, urusan timnas gagal nanti dulu!

Tanda-tanda salah kelola Timnas Indonesia di bawah komando Erick Thohir sebenarnya sudah terasa sejak awal tahun 2025, saat tiba-tiba pelatih timnas diganti!

6 Januari 2025, sepak bola Indonesia membuat kabar yang bikin terperanjat. Tanpa ancang-ancang, Erick Thohir (Etho), Ketum PSSI, memecat Shin Tae-yong (STY) dari jabatan Pelatih Timnas Indonesia.

Alasan Etho, pemecatan STY karena dinamika kompleks di internal timnas. Puncaknya adalah saat Timnas Indonesia kalah 1-2 dari China, 15 Oktober 2024 pada lanjutan Kualifikasi Piala Dunia 2026.

“Kami melihat perlunya ada pimpinan yang bisa lebih menerapkan strategi yang tentu disepakati oleh para pemain, komunikasi yang lebih baik, dan tentu implementasi program yang lebih baik juga secara menyeluruh untuk tim nasional,” tutur Erick.

Padahal, selama di bawah asuhan STY, penampilan timnas menghadirkan harapan bahwa Indonesia bisa berlaga di Piala Dunia. Mimpi yang selama ini mungkin dinilai ketinggian bagi banyak orang.

Body_Era_PSSI_di_Tangan_Erick_Thohi_1abaff1fe6.png
Potret Erick Thohir memimpin Timnas Indonesia (ilustrasi:inilahcom/Lukman)

Kluivert Datang, Mimpi Itu Hilang

11 Januari 2025, Patrick Kluivert tiba di Indonesia. Dia resmi diperkenalkan sebagai Pelatih Timnas Indonesia pengganti STY.

Penggantian pelatih timnas di tengah putaran ketiga kualifikasi zona Asia yang masih menyisakan empat pertandingan, menaikkan ekspektasi sekaligus tanda tanya besar publik, serius bakal berhasil?

Publik memahami bahwa selama era STY, yang dibutuhkan adalah proses menuju timnas yang lebih baik. Sehingga ketika STY diganti, maka bukan lagi proses yang dibutuhkan, melainkan hasil.

Pertandingan perdana timnas bersama Kluivert menghasilkan kekalahan 1-5 dari Australia. Padahal, bersama STY, Indonesia bisa meraih satu poin karena imbang 0-0.

Indonesia di bawah asuhan Kluivert juga kalah telak 0-6 dari Jepang. Dan yang paling menyakitkan adalah kekalahan 2-3 dari Arab Saudi di putaran keempat kualifikasi, 9 Oktober 2025 yang membuat mimpi Indonesia ke piala dunia sirna.

Wajar bila penikmat sepak bola menyerukan #KluivertOut, dan merindukan STY. Wajar juga bila mereka sudah tidak lagi menginginkan proses, melainkan tiket lolos Piala Dunia 2026.

Lalu muncul pernyataan, bagaimana bila Kluivert tidak pernah datang dan Shin Tae-yong masih melatih timnas?Mungkin jawaban dari pesohor Ibnu Jamil bisa mewakili sebagian dari kita.”Memang enggak ada jaminan juga yang lama itu membawa kita ke Piala Dunia, tetapi mungkin kerelaan hati kita akan jauh lebih besar ketimbang yang saat ini.”

Pamor Merosot, Timnas Jadi Sorotan

e5ec972e7fa83a9fa5895c6357f84df6.jpg
Salah satu pose ikonik Erick Thohir sebagai Ketum PSSI (Foto:IG erickthohir)

Ketua Umum PSSI Erick Thohir (Etho) yang dua tahun lalu dianggap pahlawan sepak bola Indonesia, sekarang tidak ada bedanya yang ketum-ketum PSSI sebelumnya, banjir kritikan.

Saat pertama terpilih nyaris tanpa perlawanan, Erick Thohir begitu kesohor di dunia sepak bola. Siapa yang tidak kenal Erick Thohir. Reputasi mentereng, mantan presiden Inter Milan, pergaulan sepak bola internasionalnya jempolan.

Menteri BUMN Erick Thohir terpilih menjadi ketua umum PSSI periode 2023-2027 setelah mendapatkan 64 suara di Kongres Luar Biasa (KLB) PSSI di Jakarta (16/2/2023). Etho mengungguli Ketua DPD RI La Nyalla Mattalitti yang mendapatkan 22 suara.

Salah satu kalimat Etho yang baru terpilih jadi Ketum PSSI saat itu adalah,”Kemenangan itu adalah saat tim nasional kita menjadi juara di sebuah kompetisi,” katanya.

Saat itu, kemenangan Etho seperti kebanggaan sekaligus harapan sepak bola Indonesia. PSSI akhirnya benar-benar punya ketum yang paham sepak bola.

Sejumlah prestasi mulai dipetik oleh timnas Indonesia, di antaranya medali emas SEA Games 2023 Kamboja yang mengakhiri penantian panjang selama 32 tahun.

Lalu, skuad Garuda untuk pertama kalinya sepanjang sejarah keikutsertaan di ajang Piala Asia, mampu menembus babak 16 besar. Selain itu, Indonesia kini memperoleh peringkat tertinggi dalam kurun waktu lima tahun terakhir di rangking dunia FIFA.

Tapi itu cerita dari dua tahun lalu, banyak yang terjadi dan berlalu hingga saat ini, kondisinya seperti terbalik 180 derajat.

Etho yang dulu dikagumi, membawa pemain-pemain grade A untuk dinaturalisasi, menghidupkan lagi timnas putri, memperbaiki pola pembinaan sepak bola, kini jadi sasaran kritik tajam pecinta bola tanah air.

Timnas Indonesia sepanjang 2025 babak belur di bawah kepemimpinan Etho. Di Piala Asia U-20 Februari 2025, Timnas Indonesia gagal meraih kemenangan dari tiga laga penyisihan grup. September 2025, Timnas U-23 Indonesia gagal melaju ke putaran final Piala Asia U-23 2026 di Arab Saudi.

Oktober 2025 jadi hari patah hati nasional pecinta sepak bola Indonesia, Patrick Kluivert dengan nama besarnya sebagai pemain, gagal total membawa Indonesia ke panggung piala dunia 2026.

Desember 2025, Timnas SEA Games gagal mempertahankan medali emas yang didapat 2023 setelah dipecundangi Filipina pada laga pembuka. Rafael Struick Cs gagal memenuhi target menang selisih 3-0 atas Myanmar untuk lolos ke semifinal sebagai runner up terbaik.

Rentetan kegagalan Timnas Indonesia selama 2025 jadi rapor merah Etho yang paham sepak bola.

Misteri Cetak Biru Sepak Bola Indonesia

Blunder Etho di perjalanan Indonesia menuju piala dunia membuat pecinta sepak bola tak lagi mengidolakan sosok, melainkan sistem.

Dengan sistem yang jelas dan terang, siapapun nanti nahkodanya, jalan sepak bola Indonesia sudah digariskan.

Keberadaan cetak biru sepak bola nasional jadi kebutuhan dasar.“Hal ini dinilai krusial agar pembinaan prestasi tidak berjalan parsial, melainkan terstruktur menuju target jangka panjang yang terukur,” kata Anggota Komisi X DPR RI, Abdul Fikri Faqih kepada inilahcom.

Kata Etho, PSSI punya Blueprint sepak bola Indonesia. Bahkan sampai 2045 yang digadang-gadang jadi Indonesia Emas. Tapi tak pernah ditunjukkan.”Saya bertemu banyak pihak, di dalam dan luar negeri, untuk menyusun ulang lagi. Kami punya blueprint 2045 dengan target-target yang jelas,” ungkap Erick, Rabu (5/11/2025).

Kenapa menyusun ulang? Etho mengatakan perlu kalibrasi seiring perubahan regulasi. FIFA kini menggelar Piala Dunia U-17 setiap tahun.”Artinya, adik-adiknya juga harus disiapkan karena tahun depan mesti tanding lagi. Secara realita mungkin enggak tiap tahun lolos, tapi targetnya bisa dua atau tiga kali lolos,” ungkap sosok yang juga menjabat sebagai Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) RI.

Meski ada perubahan, masalahnya format awal blueprint sepak bola Indonesia saja belum pernah dibaca pecinta bola tanah air. Akhirnya, sulit untuk menilai kinerja PSSI di bawah Etho selama 2 tahun kepemimpinannya.

Bisa saja jika berhasil, seperti lolos piala asia hingga emas SEA Games 2023 diklaim sebagai sukses blueprint. Tapi jika gagal, tidak ada pertanggungjawaban, alasannya bermacam.

Piala dunia salah satunya. Awalnya setelah Indonesia masuk ke putaran keempat, target lolos piala dunia di depan mata, yakni 2026. Tapi setelah gagal, Etho dengan mudahnya bilang sejak awal target piala dunia untuk Indonesia adalah 2030. Malahan sekarang targetnya meleset lagi jadi ke 2034.

“Sejak awal Erick Thohir sering bicara tentang ‘blueprint sepak bola Indonesia’, tapi sampai hari ini publik tidak pernah melihat atau membaca dokumen itu secara resmi,” kata Ketua Umum PSTI, Ignatius Indro kepada inilah.com.

Ketidaktahuan publik, termasuk suporter, akademisi, dan pelaku sepak bola, mengenai arah pembinaan tersebut membuat semua janji PSSI terdengar seperti “omong kosong”.”Sepak bola bukan soal mimpi, tapi soal perencanaan. Tanpa roadmap yang jelas dan berkesinambungan, mustahil Indonesia bisa menembus level dunia,” tegas Indro.

Dokumen arah pembangunan jangka panjang jauh lebih penting sebagai warisan seorang pemimpin federasi.”Artinya, dua tahun ini sebetulnya kalau Erick Thohir fokus saja kepada membuat ini, diusahakan benar-benar, dan bisa dipakai untuk puluhan tahun mendatang, saya kira dia meninggalkan legacy. Dia meninggalkan warisan yang bagus,” kata pengamat sepak bola nasional, Anton Sanjoyo kepada inilahcom.

Dengan roadmap yang jelas, kekuatan timnas akan muncul secara otomatis apabila fondasi pembinaan dibentuk secara kokoh. Barulah dari situ, PSSI bisa berbicara banyak mengenai peluang tampil di Piala Dunia.

“Ya kan? Tim nasional tuh akan hebat dengan sendirinya kalau kita punya dasar persepakbolaan yang bagus. Saya kira dua tahun lebih dari cukup lah. Dia bisa meninggalkan legacy itu,” kata Bung Joy.

“Nah, cara-cara itu yang harus di-bridging, harus di-detailkan. Caranya gimana? Nah, catatan saya, karena saya tidak pernah tahu PSSI itu punya blueprint, harus jadi cetak birunya PSSI eranya Erick Thohir,” katanya.

Rangkap Jabatan Bikin Fokus Hilang

Masalah bertambah ruwet saat Erick Thohir memegang dua jabatan sekaligus, Menpora dan Ketum PSSI. Meski mendapat restu dari Presiden Prabowo maupun Presiden FIFA Gianni Infantino, nyatanya Erick keteteran.

Dana SEA Games yang sempat dipangkas, target medali yang maju-mundur, hingga Timnas Indonesia hanya ditarget perak dari arena SEA Games 2025 di Thailand, padahal Garuda Muda berstatus juara bertahan, adalah alasan Etho kurang cakap dalam membaca potensi prestasi olahraga nasional.

Posisi Erick Thohir bak induk dan anak ayam, di mana secara logika politik birokrasi tak masuk akal. Menpora merupakan induk dari semua cabang olahraga yang dibiayai oleh APBN, oleh karena itu tidak boleh ada rangkap jabatan sebagai top leader dalam organisasi yang sama-sama dibiayai oleh APBN. Apalagi, anggaran PSSI juga berasal dari Kemenpora.

Sedikit flasback, Erick Thohir tak lagi dipercaya sebagai Menteri BUMN oleh Presiden Prabowo. Sebagai gantinya, mantan Ketua Tim Pemenangan pasangan capres-cawapres Jokowi-Ma’ruf Amin pada 2019 itu diminta untuk memegang jabatan Menpora yang kosong setelah Dito Ariotedjo kena reshuffle.

Saat itu, Prabowo tidak mempermasalahkan rangkap jabatan Etho yang juga sebagai Ketum PSSI. Bahkan FIFA juga merestui rangkap jabatan Erick.

Tapi, dua bulan sejak dilantik sebagai Menpora dan memegang dua jabatan sekaligus, Etho mulai keteteran. Mulai target medali SEA Games 2025 yang tak kunjung dipublikasi, hingga absennya Timnas Indonesia dari agenda FIFA Maychday November 2025.

Tanpa FIFA Matchday, janji Etho membawa Indonesia menembus ranking 100 besar dunia jadi omong kosong. Saat ini Timnas Indonesia berada di peringkat 122 FIFA.

“Katanya mau 100 besar dunia. Tapi FIFA Matchday enggak ada. Itu artinya apa? Erick Thohir omong kosong. Janji manis doang,” kata Ultras Garuda saat aksi.

Hasil negatif SEA Games 2025 harusnya jadi batas akhir kesempatan untuk Erick Thohir untuk mundur dari kursi Ketum PSSI. Meski punya pengalaman panjang di sepak bola dan pergaulan internasional yang bagus, nyatanya tak menjamin prestasi datang sesuai prediksi!