Bencana Iklim: Ular Berbisa ‘Serbu’ Permukiman, Gigitan Maut Melonjak hingga 50.000 Kasus

Ancaman fatal kini datang dari sudut yang tak terduga: perubahan iklim. Sebuah studi terbaru menguak fakta mencekam bahwa kekacauan habitat akibat kenaikan suhu telah membuat ular-ular berbisa di India ‘terpaksa’ pindah, menjadikan sejumlah wilayah yang sebelumnya aman kini berpotensi ‘terpapar’ serangan mematikan.

Dilansir Times of India, fenomena pergeseran habitat ini dipicu oleh suhu yang terus meningkat dan perubahan pola curah hujan ekstrem. Menurut tim peneliti yang terdiri dari ahli satwa liar dan biologi, temuan ini menunjukkan bahwa India kemungkinan akan mengalami perubahan habitat skala besar di antara spesies ular berbisa.

Titik-titik yang dulunya minim risiko gigitan kini menjadi zona rentan, seiring ular-ular tersebut mencari area baru yang lebih sesuai dengan kebutuhan ekologisnya.

India, Episentrum Kematian Akibat Ular

Situasi ini sangat mengkhawatirkan mengingat India sudah memegang rekor tertinggi di dunia untuk kematian akibat serangan ular. Lebih dari 50.000 kematian akibat gigitan ular tercatat setiap tahun. Angka ini kemungkinan jauh lebih tinggi, mengingat minimnya laporan di komunitas terpencil dan terpinggirkan.

Sebagian besar krisis serangan ular di India didorong oleh ‘Empat Besar’ spesies yang tersebar luas: ular Krait, ular berbisa Russel, kobra, dan ular berbisa sisik gergaji.

Kenaikan suhu memaksa reptil berdarah dingin ini untuk bergerak lebih jauh atau mencari tempat berlindung di lingkungan manusia, meningkatkan risiko kontak yang fatal.

Tragedi Maut di Ruang Keluarga dan Sandal

Betapa dekatnya ancaman ini terekam dalam dua kisah tragis baru-baru ini.

Pada September lalu, kengerian melanda desa Kulpa di Madhya Pradesh. Dua anak laki-laki meninggal dunia setelah digigit ular berbisa saat mereka tengah menonton televisi bersama ayah mereka di dalam rumah. Setelah kejadian nahas itu, penduduk desa menggeledah dan menemukan ular Krait –spesies yang dikenal sangat mematikan.

Di Karnataka, India Selatan, seorang insinyur perangkat lunak bernama Manu Prakash (41) meninggal dunia setelah digigit ular yang bersembunyi di tempat yang tak terduga: di dalam sandal Crocs-nya. Ular Russell’s Viper yang bersarang di sandal tersebut menyergap Prakash di Distrik Bannerghatta, menjadikannya korban lain dari krisis habitat yang semakin kacau.

Kasus-kasus ini menjadi peringatan keras. Saat habitat alami ular berevolusi dan rusak, batas antara wilayah manusia dan satwa liar semakin kabur. Ular ‘terpaksa’ pindah ke area yang lebih dingin atau lembap, termasuk ke dalam permukiman, bahkan ke dalam benda-benda yang biasa digunakan manusia sehari-hari.

Para ahli mendesak agar pemerintah dan komunitas segera mengambil langkah mitigasi. Dengan adanya studi yang memprediksi pergeseran habitat, peta risiko gigitan ular harus diperbarui, dan kesiapsiagaan medis di zona-zona baru yang terancam harus segera ditingkatkan demi menekan angka kematian yang sudah mencapai rekor tertinggi global.