Tekanan ekonomi memaksa warga Argentina menukar barang rumah tangga dan pakaian demi bahan pangan pokok. (Ilustrasi: Inilah.com/AI)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Tekanan ekonomi yang mencekik dompet rumah tangga memaksa sebagian warga di Provinsi Buenos Aires, Argentina, memutar otak demi bertahan hidup. Tanpa memegang uang tunai, mereka kini kembali menghidupkan sistem barter tradisional –menukar pakaian hingga perabotan rumah tangga demi sesuap makanan.
Laporan dari Viory, Senin (17/8/2026), merekam suasana riuh di Villa Astolfi, salah satu kawasan di Buenos Aires. Puluhan warga berkumpul mengelar barang-barang milik mereka di atas kain alas seadanya. Pakaian bekas, barang elektronik kecil, hingga perlengkapan dapur ditukarkan langsung dengan bahan pangan pokok seperti beras, pasta, saus tomat, minyak goreng, dan gula.
Penggagas pasar barter komunitas di wilayah Pilar, Ana Barreto, menuturkan bahwa gerakan ini lahir murni dari keputusasaan warga yang kesulitan memenuhi piring makan keluarga.
“Idenya membentuk ruang komunitas untuk bertukar barang karena dari pertemuan warga, kami melihat kebutuhan yang sangat mendesak. Banyak orang benar-benar butuh cara untuk sekadar mendapatkan makanan,” ujar Barreto.
Jeritan Pensiunan dan Ancaman Gizi Buruk
Kondisi lapangan yang dihimpun komunitas Barreto menunjukkan gambaran memprihatinkan. Hasil survei internal mereka mencatat sebanyak 77 persen keluarga mengaku tak lagi sanggup membeli daging, produk olahan susu, buah-buahan, maupun sayuran akibat ketiadaan uang.
“Itu artinya pola makan masyarakat makin buruk,” tegas Barreto.
Kondisi ini memukul tajam kelompok rentan, termasuk para pensiunan yang tabungannya tergerus inflasi. Yolanda, seorang pensiunan setempat, mengaku uang bulanan dari pemerintah kini tak ada artinya setelah terpotong lonjakan tarif listrik dan gas.
“Saya melakukan ini karena uang pensiun benar-benar tidak cukup untuk apa pun. Tagihan listrik dan gas melonjak drastis. Jadi kami mulai lagi seperti tahun 2001 lalu, saat kami biasa melakukan barter,” kata Yolanda pilu.
Jejak Kebijakan Masa Lalu yang Membebani
Pemandangan warga berburu pangan lewat jalur barter ini seolah mengulang kembali memori kelam krisis finansial Argentina pada tahun 2001. Perekonomian negara Tango ini memang sempat masuk fase kritis sejak 2023, diperparah oleh tensi politik menjelang Pemilihan Presiden.
Kala itu, tingkat inflasi tahunan sempat melambung hingga 143 persen. Situasi kian memburuk saat Menteri Keuangan yang juga calon presiden kala itu, Sergio Massa, mengambil langkah manuver politik dengan menaikkan batas Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP).
Kebijakan yang bertujuan mendongkrak popularitas tersebut justru berbalik menghantam kas negara. Pembayar Pajak Penghasilan (PPh) perorangan anjlok drastis menyisakan hanya 88.000 wajib pajak, yang membuat pendapatan negara jebol di tengah guncangan krisis.
Makro Membaik, Dapur Warga Masih Asap Tipis
Secara teoritis, indikator ekonomi makro Argentina sebenarnya mulai menunjukkan sinyal pemulihan. Data Institut Statistik dan Sensus Nasional Argentina (INDEC) mencatat Produk Domestik Bruto (PDB) tumbuh 4,5 persen sepanjang 2025.
Tren positif itu berlanjut hingga awal tahun ini dengan pertumbuhan PDB sebesar 2,3 persen secara tahunan (YoY) pada kuartal I 2026. Laju inflasi tahunan pun berhasil ditekan hingga ke level 31,5 persen pada akhir 2025.
Namun, angka statistik di atas kertas itu tampaknya belum sepenuhnya menetes ke piring makan rakyat jelata. Di tingkat akar rumput, perbaikan makro belum cukup kuat membendung riilnya rasa lapar, membuat pasar-pasar barter tetap menjadi tumpuan hidup utama warga pinggiran Buenos Aires.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.









