Bapanas: Pemerintah Jaga Dampak Mahalnya Plastik terhadap Harga Pangan

Iwan Medium.jpeg

Sabtu, 18 April 2026 – 21:09 WIB

Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, di Jakarta, Selasa (14/4/2026). (Dok. Bapanas).

Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, di Jakarta, Selasa (14/4/2026). (Dok. Bapanas).

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Distorsi pasokan bahan baku plastik sangat mengganggu pelaku usaha sektor pangan pokok strategis. Informasi yang dihimpun  Badan Pangan Nasional (Bapanas), pedagang beras dan gula paling terdampak karena membutuhkan kemasan karungan.

“Dengan adanya gejolak geopolitik, memang ada beberapa yang mengalami kenaikan. Salah satunya plastik karena ternyata biji plastik itu limbah dari pengolahan minyak bumi dan sumbernya dari Timur Tengah juga banyak,” ungkap Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa di Jakarta, dikutip Sabtu (18/4/2026).

Sebagai antisipasi, Bapanas telah menyerap aspirasi dari para pelaku usaha pangan sektor beras dan gula. Dalam pertemuan tersebut terungkap bahwa imbas kekurangan pasokan plastik turut memengaruhi penyesuaian harga yang harus dilakukan pelaku usaha.

“Terkait plastik, itu sudah kami bahas dalam rapat. Jadi kita sudah bertemu dengan para pelaku usaha. Begitu ada isu plastik mengalami kekurangan pasok, kita sudah diskusi menghitung berapa sih dampaknya per kilo terhadap beras dan gula,” kata Ketut.

“Teman-teman pelaku usaha menyampaikan kalau di beras itu Rp350 per kilogram. Kalau di gula sekitar Rp150 per kilogram. Artinya cukup berdampak dan ini yang harus kita jaga benar-benar untuk ke depannya,” ungkap Ketut.

Kendati demikian, dalam pemantauan harga oleh Bapanas, perkembangan rerata harga beras dan gula memang menunjukkan fluktuasi dalam sebulan terakhir. Namun, masih dalam rentang harga yang wajar karena tidak sampai naik hingga 5 atau 10 persen.

Per 16 April, rata-rata harga beras medium terpantau masih di bawah Harga Eceran Tertinggi (HET). Jika dibandingkan dalam sebulan terakhir, rerata harga beras medium Zona I dari Rp12.964/kg menjadi Rp12.965/kg, atau naik 0,01 persen.

Zona II dari Rp13.585/kg naik ke Rp13.622/kg, atau meningkat 0,27 persen. Untuk Zona III naik dari Rp15.056/kg ke Rp15.154/kg, atau meningkat 0,65 persen.

Sementara itu, rata-rata harga gula nasional dalam sebulan terakhir mencatatkan fluktuasi, namun cenderung menurun untuk wilayah Indonesia Timur.

Rata-rata harga gula di wilayah selain Indonesia Timur sebulan lalu berada di Rp18.240/kg. Kemudian per 16 April berada di Rp18.615/kg, atau naik 2,06 persen.

Namun untuk Indonesia Timur, harga gula justru menurun 1,22 persen dari Rp20.412/kg menjadi Rp20.163/kg.

Deputi Bapanas Ketut mengatakan langkah tindak lanjut yang akan dilakukan adalah memperkuat koordinasi agar fluktuasi harga plastik tidak semakin melebar. Ketersediaan suplai plastik untuk sektor pangan akan dipastikan bersama Kementerian Perindustrian dan Kementerian Perdagangan.

“Kita harus diskusi mendalam karena kalau tidak, harga bisa sedikit terkoreksi. Kami juga merencanakan rapat besar dengan kementerian/lembaga terkait untuk mencarikan solusi. Pengaruh Rp350 memang terasa kecil, tetapi berdampak karena per kilogramnya jadi naik,” ujarnya.

“Nah ini harus kita jaga benar posisi pasokan dan kami akan bekerja dengan Kementerian Perindustrian dan Kementerian Perdagangan untuk mencari di mana sumber pasokan yang lebih baik,” pungkas Ketut.

Terpisah, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyatakan optimistis terhadap ketersediaan stok plastik dalam negeri. Kemenperin telah mempertemukan pelaku industri hulu petrokimia, industri antara, industri hilir, hingga industri daur ulang plastik untuk membahas kondisi terkini serta langkah mitigasi bersama.

“Dari hasil pertemuan, kami mendapatkan jaminan dari industri bahwa stok plastik seharusnya tidak ada masalah. Saya garisbawahi kata ‘seharusnya’, karena pemerintah tetap akan terus memantau perkembangan situasi global secara cermat yang berdampak terhadap produksi dan stok subsektor ini,” kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita di Jakarta (16/4/2026).

Menurutnya, industri yang hadir juga menyatakan komitmennya untuk menjaga kesinambungan suplai plastik, khususnya bagi pelaku industri kecil. Hal ini penting agar produk industri kecil tetap kompetitif di pasar.

Gejolak geopolitik di Selat Hormuz telah menyebabkan distorsi pada struktur harga produk plastik di dalam negeri. Penyesuaian harga dimungkinkan terjadi akibat kenaikan biaya logistik dan freight (kargo) pelabuhan, serta pengenaan surcharge (biaya tambahan) premium.

Selain itu, terdapat gangguan waktu pengiriman bahan baku dari luar negeri. Waktu pengiriman yang sebelumnya sekitar 15 hari dapat menjadi lebih lama hingga 50 hari, sehingga turut berkontribusi pada peningkatan biaya produksi.

Google

Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang