Kementerian Ekonomi Kreatif (KemenEkraf) kembali menyoroti potensi besar talenta digital tanah air. Libere, sebuah proyek infrastruktur penerbitan dan perpustakaan digital berbasis Web3, resmi dinobatkan sebagai Juara Infinity Hackathon 2025 dalam rangkaian Ekraf Tech Summit 2025.
Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Menteri Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, kepada para pendiri Libere di Jakarta, Rabu (31/12/2025). Kemenangan ini menandai pergeseran penting dalam adopsi teknologi blockchain untuk sektor riil, khususnya industri literasi dan penerbitan.
Solusi Transparansi Royalti dan Hak Cipta
Dikembangkan oleh dua talenta digital asal Bandung, Erdy Suryadarma dan M. Ridho Izzulhaq, Libere hadir menjawab kegelisahan lama di industri perbukuan: pembajakan dan transparansi royalti.
Menteri Ekraf Teuku Riefky menilai Libere tidak hanya unggul secara teknis, tetapi juga relevan dengan kebutuhan industri. “Libere menunjukkan bahwa talenta kreatif dan teknologi Indonesia mampu bersaing di tingkat global. Inovasi seperti ini penting untuk memperkuat ekosistem ekonomi kreatif nasional dan mendorong modernisasi layanan publik melalui pemanfaatan teknologi yang bertanggung jawab,” tegas Teuku Riefky.
Secara teknis, Libere membangun infrastruktur perpustakaan publik berbasis on-chain. Sistem ini memanfaatkan blockchain dan Non-Fungible Token (NFT) untuk pengelolaan kepemilikan digital.
Dengan mekanisme ini, distribusi buku digital menjadi lebih aman dan terpantau. Keunggulan utamanya terletak pada sistem royalti yang transparan dan terprogram otomatis, sehingga menyelaraskan kepentingan antara kreator (penulis), penerbit, dan perpustakaan. Model ini juga membuka peluang distribusi baru berbasis kemitraan dan program Corporate Social Responsibility (CSR).
Raih Pengakuan Internasional
Prestasi Erdy dan Ridho tidak berhenti di panggung nasional. Kualitas inovasi Libere turut diakui di kancah internasional dengan terpilihnya kedua pendiri tersebut sebagai peserta Protocol Camp 2025.
Program pengembangan Web3 berskala internasional ini dikenal sangat selektif, hanya menerima 20 builder (pengembang) terbaik dari berbagai negara di Asia. Keikutsertaan Libere menegaskan posisi talenta Indonesia yang kini sejajar dengan inovator dari negara maju seperti Korea Selatan dan Jepang.
“Capaian ini menjadi motivasi kami untuk memperluas dampak Libere di tingkat regional,” ujar Erdy dan Ridho. Keduanya dijadwalkan akan mempresentasikan perkembangan proyek ini pada sesi final Protocol Camp di Tokyo, Jepang, pada Januari 2026 mendatang.
Kolaborasi dengan ITB dan Pemkot Bandung
Sebagai langkah nyata penerapan teknologi, KemenEkraf mencatat bahwa Libere telah menjalin kolaborasi strategis dengan Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Pemerintah Kota Bandung.
Sinergi antara inovator, institusi pendidikan, dan pemerintah daerah ini diharapkan menjadi proyek percontohan (pilot project) yang memperluas akses pengetahuan digital bagi masyarakat, sekaligus memperkuat keberlanjutan infrastruktur budaya publik di Indonesia.
Adapun Infinity Hackathon sendiri merupakan inisiatif strategis KemenEkraf bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Ajang ini dirancang untuk melahirkan inovasi teknologi yang aplikatif dan berdampak nyata bagi ekonomi kreatif nasional.













