Apindo Membaca Ekonomi 2026, Pertumbuhan Ada tapi Perlu Kehati-hatian

Reza Medium.jpeg

Senin, 15 Desember 2025 – 06:00 WIB

Analis Kebijakan Ekonomi dari Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Ajib Hamdani. (Foto: Antara/Dok. Hipmi)

Analis Kebijakan Ekonomi dari Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Ajib Hamdani. (Foto: Antara/Dok. Hipmi)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Analis Kebijakan Ekonomi dari Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Ajib Hamdani memperkirakan laju pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 masih berada di jalur positif, meski dibayangi sejumlah tantangan. Angkanya diproyeksikan bergerak di kisaran 5,0 hingga 5,4 persen.

“Pertumbuhan diproyeksikan 5,0–5,4 persen (yoy), positif namun penuh kehati-hatian,” ujar Ajib, Minggu (14/12/2025).

Apindo melihat awal 2026 berpotensi memberi dorongan tambahan bagi ekonomi nasional. Faktor musiman seperti perayaan Tahun Baru, Imlek, hingga rangkaian Ramadan dan Idul Fitri diperkirakan menjadi penyangga konsumsi rumah tangga pada kuartal pertama.

Namun, dorongan itu tidak berlangsung sepanjang tahun. Ajib mengingatkan, pada kuartal II hingga III 2026, pertumbuhan berisiko melandai seiring menghilangnya faktor musiman yang selama ini kerap menjadi penopang.

Di tengah dinamika tersebut, Ajib menilai berbagai kebijakan yang telah dijalankan pemerintah sepanjang 2025 akan memainkan peran penting. Transmisi kebijakan fiskal, moneter, dan struktural diharapkan menjadi bantalan bagi daya beli masyarakat, menjaga produktivitas, sekaligus memberi ruang bagi investasi untuk tetap bergerak.

“Risiko eksternal masih tinggi seperti geopolitik, fragmentasi perdagangan, policy shocks tarif resiprokal, ketiadaan one-off booster membuat ketergantungan pada siklus musiman semakin menantang,” kata Ajib.

Karena itu, Apindo memandang perlu adanya langkah-langkah strategis yang lebih terarah untuk menjaga momentum pertumbuhan di 2026. Salah satu perhatian utama diarahkan pada reformasi regulasi dan ketenagakerjaan.

Deregulasi yang dilakukan secara konsisten dinilai penting untuk menekan biaya ekonomi sekaligus mempercepat proses berusaha. Di saat yang sama, kebijakan ketenagakerjaan perlu disusun berdasarkan kebutuhan struktural ekonomi agar penciptaan lapangan kerja tidak hanya bersifat sementara, tetapi berkelanjutan.

Selain pembenahan regulasi, Ajib menekankan pentingnya akselerasi transformasi ekonomi. Hilirisasi komoditas di sektor-sektor strategis dipandang mampu memberi nilai tambah sekaligus membuka ruang pertumbuhan baru.

Realisasi investasi di sektor hijau dan digital juga disebut perlu dipercepat agar kontribusinya terhadap perekonomian tidak tertunda. Sementara itu, penguatan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) perlu dilakukan secara kolaboratif melalui pendekatan pentaheliks agar benar-benar berfungsi sebagai motor pertumbuhan.

Apindo berharap, rangkaian agenda tersebut dapat memperkuat fondasi ekonomi nasional, sehingga pertumbuhan tidak semata bergantung pada momentum musiman, tetapi ditopang oleh struktur ekonomi yang lebih kokoh di tengah ketidakpastian global.
 

Topik
Komentar